
Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana rumah di malam hari, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara burung malam terbang penuh harapan. Udara terasa dingin menyegarkan. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan. Nyamuk juga tidak mau kalah, terbang kesana kemari berhamburan mencari hamparan kulit untuk mengobati kehausan. Oh Tuhan betapa malam ini penuh dengan kebahagiaan, jiwa-jiwa yang kelelahan terlelap dalam tidur malam, sementara beberapa jiwa nampak terbangun, duduk mengadu kepada Tuhan pencipta seluruh alam. Terdiam dalam indahnya sebuah malam.
"Apakah ada yang sedang kamu pikirkan anak muda..?" Suara lelaki paruh baya tampak terdengar di telinga pemuda yang sedang duduk di sahung seorang diri.
Anak muda berusia 19 tahun pun langsung membalikkan badannya dan mencium tangan lelaki paruh baya itu yang tak lain Mbah Jambrong.
"Mbah.. Silahkan duduk.." Anak muda itu berkata mempersilahkan.
Senyuman terukir di bibir Mbah Jambrong dan langsung naik ke atas sahung, seraya mengeluarkan satu bungkus rokok kesukaan di sertai geretan api.
"Mbah Jambrong, rokok yang Abah keluarkan mengingatkan kepada lelaki yang menuntun jalan hidupku dari ketidakberdayaan menjadikan ku seorang pemuda yang mampu membuat dunia dalam genggaman.." Kata Pemuda itu, sekilas kata katanya keluar begitu saja.
"Yaa.... Mbah mengetahui nya bahwa kau adalah pemuda hebat seperti dewa.." Jawab Mbah Jambrong, lalu Ia mengambil rokok satu batang dan menghidupkan geretan api tersebut.
"Pemuda Hebat Seperti Dewa..?" Arya berkata singkat dan tangan nya menyentuh kepala nya berpikir tentang ucapan itu.
"Anak muda, suatu saat nanti, seandainya ingatan mu kembali, Abah harap kamu tidak lupa selama ini kamu tinggal dimana, dan oleh siapa kamu bisa hidup sampai sekarang.." Kata Lelaki paruh baya itu mengingatkan.
Arya hanya mengangguk, pikiran nya hanya tertuju kepada kata yang di ucapkan oleh guru beladiri nya itu.
Obrolan di malam itu antara dua lelaki yang berbeda usia sangat jauh sekali, dan yang menjadi topik pembicaraan nya adalah lelaki paruh baya, memberikan beberapa wejangan dan nasehat nasehat kepada Arya Kumbara, untuk menjalani kehidupan yang akan di lalui nya cukup berat dan bisa jadi nyawa orang orang terdekatnya menjadi taruhan nya dan hanya sekedar melindungi dirinya.
Arya sendiri menanggapi serta mendengarkan obrolan dari Mbah Jambrong, hanya manggut manggut saja serta sesekali menimpali nya, bila ada kata yang tak di mengerti.
"Arya Murid ku, sebaiknya kamu istirahat tidur malam sudah semakin larut dan Mbah juga mau melaksanakan tafakur diri di tempat biasa.." Titah Mbah Jambrong mengakhiri obrolan malam itu.
__ADS_1
"Iya Mbah.." Balas singkat Arya seraya mengangguk.
**
Adzan subuh berkumandang, para murid di perguruan silat mulai berdatangan menuju sebuah mushola yang ada di area halaman itu. Hal serupa bagi Arya Pemuda berusia 18 tahun itu sudah stambay di dalam mushola dan menjadi rutinitas keseharian nya bila adzan subuh belum berkumandang dirinya sudah bangun dan sudah berada di tempat peribadahan.
Sang Kiayi datang jajaran shap sudah penuh dengan dua jajaran, Iqomat pun di lakukan tanda mereka siap menghadap sang pencipta dengan sareat sholat.
Hampir lima belas menit Arya Kumbara menjalani aktivitas di waktu subuh itu, lalu Ia pun meminta ijin kepada Mbah Jambrong yang masih duduk bersila di pangimbaran, untuk pulang ke kerumah Abah Udin.
##################
Jakarta Pukul 18:30 WIB.
Terlihat seorang pria yang cukup matang sedang memimpin rapat dalam ruangan. Ia sangat terlihat piawai dalam menyampaikan ide dan gagasan yang dibutuhkan untuk kemajuan perusahaan. Para pimpinan dan pemegang saham mendengarkan nya sambil sedikit menganggukan kepala.
Peserta meeting berdiri dengan memberi ucapan selamat atas presentasi yang begitu menarik, setiap leader departemen pun semua setuju akan ide pimpinan sekaligus pemilik perusahaan PT. Buana Group.
“Menurutmu bagaimana , presentasiku hari ini?” Tanya Reno ke sahabatnya sekaligus orang yang paling dipercayanya.
“Menarik. Aku rasa dalam hitungan minggu provit perusahaan akan meningkat.”jawab Rio.
“Yakin, jika tak ada musuh dalam selimut. Kita akan bisa melihat hasilnya.”
“Percayalah, siapa yang berani bersaing dengan Tuan Reno maka akan tersingkir sendiri.”
__ADS_1
“Tuan Reno ,”Suara seorang wanita yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
“Ada apa?" Reno bertanya kepada wanita itu.
“Maaf, sesuai perintah Tuan Liu pada saya sebelumnya, jika selesai rapat saya harus mengingatkan bahwa Tuan ada janji makan malam dengan pemimpin perusahaan Anugrah Awan Sentosa.
“Nani, kamu berhasil membuat mood ku berubah. Ya sudah masih ada waktu sejam untuk persiapan”
Nani, adalah sekertaris nya sekaligus satu-satunya wanita yang bisa keluar masuk ruangan Reno. Dia dipercaya karena Reno pernah menolongnya saat ia akan menjadi korban pelecehan di sebuah pesta.
Sejak itu, Nani mengenal Tuan Reno, dan dirinya di beri posisi sebagai sekertaris pribadi Reni. Bukan karena rasa kasihan tapi memang ia layak mendapatkannya.
“Semoga pertemuan malam nanti Tuan Reno bisa mengambil hati pimpinan perusahaan yang sedang pincang karna ketidak adaan nya sang pemiliknya perusahaan itu dan hampir tiga tahun tak pernah kembali, desas desus bahwa pemilik nya itu seorang pemuda hebat seperti dewa yang mati akibat di buru oleh pemilik perusahaan terbesar di dunia." Terang Nani memberikan informasi tentang perusahaan yang ingin bekerjasama dengan Buana Group.
"Kamu lebih tahu dari pada aku. Apa bisa kau gantikan aku,”candanya.
"Hehehehe Tuan Reno tau kan posisi aku sebagai apa. Ingat, ini demi kamu dan perusahaan yang telah Tuan Besar kembangkan selama puluhan tahun.
"Semangat!” Sang sekretaris itu mengedipkan mata sebelah kiri nya.
Bertiga keluar dari ruangan meeting. Nani kembali ke ruangannya, ia akan merapikan mejanya karena sebentar lagi waktu pulang. Lain dengan Rio dia ada sesuatu yang harus dikerjakan.
Reno hanya mengganti dalaman jasnya, ia malas pulang semua ia lakukan setengah hati. Dirinya harus bertemu Bu Dewi Direktur perusahaan Anugrah Awan Sentosa, Tujuan nya bukan dari perusahaan itu tetapi mengarah kepada anak kekasih angkatnya yang tak lain adalah Nabil Nur Fadillah pemilik perusahaan nomor satu di dunia yang pusat kantornya berada di negara Piramida.
Sebenarnya dia enggan untuk datang tapi ia tak mau mendengar rengekan keluarga besar Buana Group yang membuat pusing kepalanya. Tak itu saja omelannya lebih panjang dari gerbong kereta. Semua didukung kakeknya juga, meskipun dikantor dia menjabat pimpinan tertinggi tapi dirumah ia seperti singa tanpa taring jika berhadapan dengan mamanya itu.
__ADS_1
Bersambung.