Pemuda Tak Bernama

Pemuda Tak Bernama
Jawaban Arya Kumbara Mantap


__ADS_3

"Kukuruyuk...............! "Kukuruyuk.............!


Tampak terdengar ayam jago berkokok di pagi hari itu. Sinar mentari pun telah menyinari daerah perkampungan yang tak jauh dari danau waduk Cirata itu.


Tampak di dalam sebuah bangunan rumah panggung, seorang pemuda berusia 19 tahun duduk bersila bersama sepasang suami istri paruh baya dan seorang gadis cantik sedang menikmati nikmatnya sarapan dengan lauk seala kadarnya.


"Anakku.. Hari ini apakah kau sudah siap dengan aktivitas sebagai mahasiswa di universitas yang ada di kota ini..?" Tanya wanita tua yang duduk bersama suami nya.


"Insyaallah Umi. Arya siap.."


"Bagus.... Yang rajin ya, ingat kamu harus belajar yang rajin, jangan keluyuran yang tak jelas, carilah teman walaupun satu dua orang juga, jangan cari musuh.." Wanita tua itu memberi nasehat seraya membereskan piring piring tempat makan itu.


"Iya. Umi. Arya akan mengingat nya."


"Arya sudah tahap apa belajar solat di padepokan Mbah Jambrong..?" Kini yang bertanya lelaki tua suami dari Umi Juju.


"Arya tidak di bolehkan belajar silat oleh Mbah Jambrong Abah.." Jawab nya. Hal itu membuat Umi Juju yang posisinya berada di kamar mandi untuk mencuci piring bekas langsung menghentikan aktivitas nya dan berlalu kearah putra angkat nya.


"Kenapa, bukan kah Mbah Jambrong yang menyuruh Arya untuk belajar, tetapi setelah sepuluh hari bolak balik ke padepokan itu kamu tak di bolehkan untuk belajar silat..?" Tanya Abah Udin lelaki tua itu dan tatapan dari wanita tua penuh rasa penasaran.


"Arya juga gak tahu Abah. Umi.. Arya tadinya ingin seperti murid padepokan lain, belajar setiap malam mengikuti setiap gerakan gerakan yang di berikan oleh para senior di padepokan milik Mbah Jambrong itu.." Keluh Arya.


Pasangan suami istri paruh baya itu terdiam penuh penasaran, hal yang berada dalam pikiran nya, seolah berburuk sangka terhadap Mbah Jambrong. Bukan dia sendiri yang menyuruh anak nya untuk belajar Ilmu beladiri, tetapi ketika sang anak yang hampir sudah sepuluh hari berada di padepokan milik nya, dia sendiri yang melarang nya.


"Nanti Abah dan Umi akan menemui Mbah Jambrong dan menanyakan langsung kepada nya.." Ucap Udin, Ia menghibur semangat anak nya agar tak berkecil hati.

__ADS_1


"Iya Abah.. Arya ingin sekali belajar beladiri, bukan untuk pamer atau pun untuk berkelahi, tetapi untuk menjaga diri selain itu, untuk memperkuat daya tahan tubuh.." Kata Arya dengan keinginan nya.


"Kamu tenang aja, Ar... Mungkin Mbah Jambrong ada niat lain di balik itu.." Kini Umi Juju yang berkomentar.


"Iya Umi.." Angguk Arya.!


Obrolan di pagi hari tiba tiba terhenti ketika dari arah luar pintu terdengar seorang perempuan dewasa mengucapkan salam kepada penghuni rumah panggung itu.


"Assalamualaikum."


"Punten.."


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh."


"Kreet....... Pintu terbuka, seorang wanita dewasa tersenyum manis kepada pemilik rumah seraya berkata sopan.


"Bu Juju mohon maaf mengganggu waktu pagi anda bersama keluarga."


"Ahk Bu Desi anda terlalu sungkan.." Silahkan masuk." Pinta Umi Juju.


"Terima Kasih.. Bu Juju.." Bu Desi pun naik keatas dan langsung menuju ruangan tamu yang hanya beramparan kerajinan tangan.


Tak lama kemudian setelah tamu itu duduk, dari arah dapur Sinta membawakan minuman dengan di ikuti oleh Arya serta lelaki paruh baya yang tak lain Udin Syamsuddin menghampiri tamu itu untuk bersalaman.


"Bu Guru Desi, silahkan di minum..." Ucap Sinta setelah menyuguhkan minuman dan beberapa makanan ala kadarnya.

__ADS_1


"Terima Kasih Sinta, padahal tak usah merepotkan segala." Kata Tamu itu yang tak lain guru pembimbing di SMK Negeri Karatsu.


"Ahk.. Hanya suguhan kecil saja Bu Desi.." Ehk.. ngomong ngomong ada hal penting apakah sehingga Bu Desi bertamu ke rumah kami..?" Tanya Umi Juju dengan nada sopan.


"Begini Bu Juju dan Pak Udin, maksud tujuan saya ke rumah anda, untuk meneruskan maksud dari kepala sekolah dan guru guru lainya tentang potensial masuknya Arya Kumbara ke universitas di kota ini."


"Karna aku kesini, satu untuk meminta persetujuan dari kedua wali serta Arya sendiri.." Terang Bu Desi memaparkan kedatangan di pagi hari ini.


"Apakah Bu Juju dan Pak Udin setuju dengan niat baik dari kepala sekolah dan guru guru lain nya.?" Tanya Bu Desi kepada mereka berdua.


Pak Juju menatap kepada istri nya, tatapan nya di balas anggukan oleh sang istri. Lalu berkata.." Bu Desi kami selaku orang tua Arya Kumbara, akan mendukung dan menyetujui segala sesuatu hal yang baik bagi anak nya. Walaupun Arya bukan darah daging kami berdua, tapi dia tetap anak pertama kami dan kami selaku Orang Tua menyetujui niat baik dari kepala sekolah dan guru lainya. Namun keputusan belum sepenuh final. Karna kami berdua hanya sebatas pendukung, maka dengan ini, Bu Desi sendiri yang langsung bertanya kepada anak kami, Arya Kumbara.." Ujar Pak Udin seraya matanya menatap kearah pemuda tampan berusia 19 tahun itu.


Arya, tersentuh hatinya, kedua matanya menatap nalar kepada pasangan suami-istri yang tanpa ada ikatan darah, mau menampung hidupnya selama ini.


"Abah... Umi.... " Terima Kasih atas semua ini.." Lirih Arya.." Pasangan suami istri itu hanya mengangguk bersamaan seraya tersenyum manis di kedua bibir masing masing.


"Bu Desi, terima kasih banyak atas niat dari anda dan khusus Arya sangat berterima kasih kepada Pak kepala sekolah dan guru lainya.. Yakin lah Arya tak akan lupa serta akan membalas budi dari anda dan yang lain nya.." Terang Arya Ia bener bener tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh desa tempat kehidupan kedua nya itu.


"Anakku, Arya Kumbara, kamu terlalu sungkan dan merendah, justru kemampuan dan daya pikir serta IQ mu itu di atas rata rata tingkat Professor. Aku dan yang lain nya, hanya ingin mengembangkan bakat tersembunyi milik mu, agar mampu membawa kedepan nya bagi kesejahteraan umat manusia di bawah kendali mu. Arya Kumbara.." Kata Bu Desi menjelaskan semua nya.


"Dan satu lagi berharap, agar desa kedua mu tempati sekarang, atau kota dengan kapasitas terkecil di wilayah barat, bisa naik ke posisi tiga besar dengan kemampuan yang kamu miliki.." Harapan dari Bu Desi dan orang orang yang tinggal di desa itu menumpukan kepada pemuda hebat seperti dewa, yang di temukan oleh pasangan suami istri dalam kondisi memprihatinkan tiga tahun yang lalu.


"Baik.. Bu Desi.. Arya setuju dan akan mencoba untuk membangun desa ini atau pun kota ini ke lebih baik dari sekarang.." Kata Arya mantap dengan jawaban nya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2