
Satu unit mobil keluar dari gedung Buana Group. Membelah kota Jakarta di malam itu, di dalam mobil tampak seorang lelaki berdarah indo ketimuran dengan tatapan mata tajam ke depan memegang sebuah kendali setir dengan santai.
Sementara di samping pemuda itu, sosok pemimpin sekaligus CEO di perusahaan Buana Group, dengan asyiknya dan sesekali tersenyum kearah smartphone yang tengah Ia lihat di layar hp nya itu.
"Tuan senyum senyum sendiri. Untung ini di dalam mobil, jadi tak ada yang melihat anda tersenyum sendiri yang berakibat anda di katakan gila." Canda renyah sang supir itu.
"Hahahhahahahahha.. " Rio.. Perempuan ini cukup menarik juga dan aku mulai tertantang oleh status yang ada di FB dan Twitter maupun Instagram nya." CEO Buana Group itu menunjukkan status FB dari perempuan yang akan di temui nya kepada asisten nya itu.
"Nabil Nur Fadillah. Pemilik perusahaan terbesar di dunia. Sosok wanita yang rendah hati dan meninggalkan dunia dalam genggaman tangan nya sekedar menunggu bangkit nya kembali sang pemuda Hebat Seperti Dewa yang jelas sudah mati tiga tahun yang lalu." Rio memberikan penjelasan secara detail kepada majikannya tentang wanita yang di lihat kan kepada dirinya.
"Kau dan Nani tahu banyak tentang wanita ini..?" Terka Reno.
"Hahahaha.. Hahahahaha..." Semua itu untuk mempermudah Tuan Muda, mendapatkan apa yang di inginkan oleh perusahaan Buana Group." Jelas Rio.
"Fuhh... Kau bekerjasama dengan Ibu dan Kakek ku.. Memanfaatkan wajah tampan ku ini.." Puji Reno kepada dirinya sendiri.
"Hehehehe akui, Tuan emang tampan dan pemberani.. Tapi apa yang di katakan oleh Kakek dan Ibu Tuan memang ada benarnya juga. Dengan Tuan bisa mengambil hati Nabil Nur Fadillah.. Maka perusahaan kita akan bisa naik dan masuk dalam jajaran sepuluh besar perusahaan terbesar se-Asia atau bisa jadi sedunia." Terang Asisten itu memberikan angin segar dan harapan seandainya rencana yang akan di jalani nya itu berjalan mulus.
"Baiklah... Baiklah.. Akan ku taklukkan perempuan itu, supaya merindukan hati dan wajah tampan ku ini hahaha.." Jumawa nya CEO Buana Group itu, yang akan mampu menaklukkan hati Nabil Nur Fadillah yang sudah tertutup rapat rapat.
Mereka pun sampai di salah satu restoran termewah di ibu kota. Kedua nya turun dari mobil dan langsung beranjak masuk ke dalam restoran itu.
__ADS_1
Wanita berusia 43 tahun tampak terlihat bersama dua perempuan cantik yang sedang duduk di samping kursi nya. Dia tersenyum sesaat mendongkrak kan kepala nya kedepan ketika orang yang sedang di tunggu nya itu telah tiba.
"Nabil.. Amel.." Ayo berdiri Nak. Orang yang di tunggu sudah datang.." Pinta Dewi kepada kedua anaknya.
"Iya Bunda." Ucap Amel, sedangkan Nabil hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tuan Reno. Tuan Rio, selamat datang.." Kata Bu Dewi mengulurkan tangannya kepada CEO Buana Group itu.
"Mohon Maaf Nyonya Dewi. Nona Nabil Nona Amel, kami berdua terlambat.." Jawab Reno menyambut baik uluran tangan Direktur Perusahaan Anugrah Awan Sentosa.
"Ahk, Tuan Reno tak harus meminta maaf segala, justru kita bertiga datang terlalu awal.." Bu Dewi tersenyum kearah Reno anak muda yang sudah sukses di usia yang baru dua puluh tahunan itu.
"Ehk. It.. Iya.. Silahkan Tuan Reno. Tuan Rio.." Bu Dewi terbata bata mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
Setelah mereka berdua duduk dan Bu Dewi serta kedua anak pun ikut duduk, tak lama kemudian pelayan resto pun datang menghidangkan makanan spesial yang ada di restoran mewah itu.
Hampir dua puluh menit lama nya, mereka menikmati hidangan restoran tersebut, dengan sesekali Reno mencuri pandang kearah Nabil. Hal itu membuat hati Nabil risih dan tak menyukai nya.
Ketidaksukaan terhadap CEO Buana itu, tidak Ia tunjukkan karna menghormati sang Bunda Dewi yang akan mengajukan jalinan kerjasama dengan perusahaan Buana Group, untuk memperluas jaringan perusahaan nya itu.
Semenjak di tinggal oleh sang pemilik perusahaan Anugrah Awan Sentosa, dengan di tambah nya perusahaan Tang Tang Group memutuskan jalinan kerjasama akibat interen dalam keluarganya yang tak sepihak dengan Nona Liem Tank Cie, maka perusahaan Anugrah Awan Sentosa makin terpuruk.
__ADS_1
"Ada pun perusahaan milik Nabil Nur Fadillah, tidak bisa membantu sepenuhnya, karna terhalang nya surat wasiat dari sang Ayah.. Nabil bisa saja menggelontorkan dana yang sangat fantastis kepada perusahaan milik sang kekasih dengan satu syarat Ia harus segera menikah.
"Paman, Aidil. Paman Ahmad, bagaimana aku bisa menikah dengan orang lain, bila orang terkasih ku masih hidup, bila orang yang aku sayang masih ada di dunia ini.." Tegas Nabil waktu satu tahun ke belakang menolak lamaran dari perusahaan di bawah perusahaan milik nya.
Argumentasi yang di berikan oleh adik dari mendiang ayah nya Nabil Nur Fadillah, bahwa Pemuda Hebat Seperti Dewa itu sudah mati, dan tak bisa di harapkan lagi oleh Nabil, sebaiknya membuka hatinya untuk menerima lelaki lain.
Sikap tegas dari Nabil dan Azzahra Masika Fatharani selaku Ibu nya, menolak dan mematahkan argumen yang di ucapkan oleh Paman Aidil atau pun Paman Ahmad, hingga selama satu tahun lamanya Ia tidak kembali lagi ke Mesir dan menetap sepenuhnya di tempat Muhammad Awan Pratama tinggal.
"Nona Nabil, katanya rencananya mau melanjutkan kuliah di pinggiran kota yang ada di wilayah Jawa Barat..?" Tanya Reno berbasa basi di ucapan pembuka itu.
Sorot mata nya tajam, menatap kearah Reno, ketidaksukaan nya itu mengusik privasi dirinya. Lalu tak lama beberapa detik Ia tersenyum.
"Betul sekali Tuan Reno. Kok anda bisa tahu.. Sungguh anda orang yang sangat sakti bisa melihat kehidupan diriku ini.." Kata Nabil telak menyindir pada CEO Buana Group itu.
"Hehehehe.. Nona Nabil bisa aja kalau bercanda.." Kata Reno seraya terkekeh.
"Aku tidak sedang bercanda Tuan Reno.. Tapi aku sedang memuji anda, selain mempunyai wajah yang sangat tampan dan sempurna. Anda juga mempunyai kemampuan khusus bisa melihat kehidupan orang lain. Sungguh aku beruntung bisa mengenal anda.." Kata Nabil mengikuti alur permainan dari pemuda yang kedudukannya setingkat pejabat.
"Hahahahaha.. Terima Kasih banyak atas pujian dari sang Nona cantik pemilik perusahaan terbesar se-dunia ini. Justru kami selaku pemilik perusahaan yang kapasitasnya jauh di atas perusahaan anda sangat beruntung bisa berhadapan dan mengobrol dengan Nona Nabil Nur Fadillah.." Reno bangkit dari duduk nya dan mengulurkan tangannya meminta Nabil untuk menjabat.
Bersambung.
__ADS_1