
''Peringkat pertama jatuh kepada Arya Kumbara... untuk Arya dan kedua Orang Tua angkatnya untuk sudi naik keatas panggung.." Kata Kepala sekolah menatap kearah bawah berjejer rapi kursi kursi di duduki oleh para murid dan Orang Tua nya.
Pemuda yang duduk di barisan tengah kursi kursi yang berjejer rapi itu pun bangkit.. Lalu Ia menatap kearah pasangan suami istri yang telah tiga tahun lama nya Ia hidup bersama nya...
"Umi dan Abah.. Ayo kita naik ke atas panggung.." Kata Pemuda itu yang tak lain Arya.
"Ayo Nak...." Kata Umi Juju dengan senyuman manisnya. Sedangkan Abah nya tersenyum mengangguk bangkit dari duduknya berjalan melewati para Orang Tua yang duduk seraya memberikan kata selamat sambil bertepuk tangan.
Arya sendiri hanya tersenyum dan pikiran maupun hati nya mengingat kan kepada salah satu waktu dimana, Ia sedang berjalan di area halaman yang begitu luas di ikuti oleh orang orang di belakangnya.
Sesampainya di atas panggung.. Arya pun menerima raport yang langsung di berikan khusus oleh kepala sekolah itu, dan menyuruhnya untuk memberikan satu kata dua kata di atas panggung.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.." Ucap Arya dengan memakai mic.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.." Jawab orang orang secara serentak.
"Aku pemuda yang tak tahu nama asli ku siapa.. Aku pemuda yang mendapatkan nama Arya Kumbara dari para warga dan kepala desa tempat ku tinggal di sini, mengucapkan rasa terima kasih sebesar besarnya karna telah sudi dan menerima ku untuk tinggal di desa ini.
"Aku pemuda yang hanyut dan di temukan di waduk Cirata.. Berterima kasih banyak kepada Abah dan Umi yang telah merawat ku sampai aku bisa bernapas dan menjalani kehidupan dengan normal..
"Umi... Abah..... Terima Kasih banyak semua nya.. Arya tak akan bisa melupakan kebaikan kalian berdua.." Ucap pemuda itu membungkuk hormat kepada sepasang suami istri setengah tua itu.
__ADS_1
"Pak kepala sekolah... Bu Desi dan guru guru lainya yang Arya hormati... Terima Kasih banyak atas nasehat dan bimbingan kalian semua... Dan Mohon Maafkan Arya, bila ada tingkah dan ucapan yang merasa sakit oleh lisan Arya..." Ucap nya... Sama hal Arya pun membungkuk hormat kepada guru guru yang duduk di atas panggung itu.
Semua mata tertuju keatas panggung dan tatapannya kearah pemuda yang Ia tahu pemuda itu baru tiga tahun kurang tinggal di desa ini... Semua mengagumi pemuda yang tak tahu siapa namanya.. Dimana ia tinggal nya dan apakah masih ada Orang Tua nya...!
Semua warga yang mengetahui nya itu, bahwa pemuda itu di temukan oleh Abah Udin yang saat itu dirinya seperti biasa hari Minggu pergi ke waduk Cirata untuk sekedar menjaring ikan.
Acara kelulusan sekaligus kenaikan kelas pun sudah selesai.. Arya bersama Umi dan Abah pun sudah di rumah..
Kehidupan keluarga Abah Udin dan Umi Juju, terbilang miskin dan serba kekurangan... Sehari harinya, bila tidak ada warga yang menyuruhnya untuk mencangkul sawah atau menanam padi, kemungkinan terbesar pasangan suami-istri itu tidak bisa makan..
Tapi untung nya, para tetangga nya sangat baik dan selalu memberikan makanan kepada pasangan suami istri beranak dua itu... Dan Alhamdulillah juga kedua anak anaknya bisa sampai sekolah di sekolah favorit atas biaya dari para dermawan.
Tetapi siapa sangka setelah sadar nya pemuda yang di temukan dalam keadaan pingsan itu, membawa keberuntungan bagi keluarga Udin dan Juju, kehidupan nya tak separah ketika Arya belum hadir dalam keluarga kecil mereka.. Hampir tiap hari pasangan suami istri itu, selalu mendapatkan rejeki yang tak di sangka sangka.
Udin dan Juju sudah hampir dua tahun lebih Ia di percaya oleh seorang saudagar kaya yang tinggal di kota, untuk mengurus sawah yang luasnya hampir lima hektar itu, Sang saudagar itu, sepenuh nya mempercayakan sawah nya untuk di garap oleh Udin dan Juju, Orang Tua yang dengan ikhlas mengurus Arya.
#########
Sementara di salah satu yang jauh di sana, di mana seorang gadis cantik berhidung mancung dan wajah yang begitu putih sedang khusuk nya membaca Alquran dengan di hadapan nya sebuah batu nisan bertuliskan nama Muhammad Awan Pratama binti Lisnawati..
Sudah menjadi rutinitas gadis itu setiap sebulan sekali datang ke makam Sang kekasih yang sudah meninggalkan nya kurang lebih tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
Tragedi meninggal nya Pemuda Hebat Seperti Dewa itu sungguh membuat gadis itu terpukul dan hampir satu tahun Ia tidak menerima kenyataan itu.
"Kak......... Awan, mungkin kamu sudah bahagia di alam lain... Aku di sini bersama Bunda dan Kedua Orang Tua mu Kak.. Belum percaya sepenuhnya bahwa kau telah meninggalkan dunia ini terlalu cepat... Andai waktu itu bisa di putar lagi, Aku bersama Bunda dan kekuatan perusahaan ku, akan memaksamu untuk ikut ke Mesir dan tinggal di sana.." Ucap Gadis itu bicara sendiri dengan di hadapannya tumpukan batu dan di tengah tengah nya batu nisan.
Nabil dan Azzahra Masika Fatharani tak sepenuhnya percaya bahwa kekasihnya itu telah meninggal dunia, karna dirinya waktu itu sedang berada di negara Mesir... Untuk sekedar menandatangani berkas pengalihan perusahaan Ismail Group yang di wariskan langsung oleh Sang Ayah dalam surat wasiat terakhir nya.
Tetapi di sini orang orang dari perusahaan Anugrah Awan Sentosa berjibaku dengan mempertahankan posisi majikan nya, yang malam itu, Ia di buru sangat keji oleh orang orang misterius... Hal yang pertama Ia mengetahui bahwa Pemuda Hebat Seperti Dewa itu adalah Asep Sunandar dan Syarif Akang satu.
###################
..................................... Tiga tahun ke belakang.....!!
Di pusat kota kecil sebuah mobil Mewah Marcedez Benz C-Class itu, meleset pergi meninggalkan sebuah kota untuk sekedar menenangkan dirinya..
Keputusan yang di ambil oleh Awan saat itu, tidak ikut menemani Azzahra Masika Fatharani dan Nabil Nur Fadillah kembali ke kampung halaman nya yang berada di negara Piramida... Membuat dirinya merasakan apa yang dinamakan Mala rindu Mala ria Mala Mala Weh lah.
Sudah hampir satu bulan Nabil dan Bunda Azzahra Masika Fatharani meninggalkan negara yang menjadi tempat kedua, dimana seorang Nyonya Besar Ismail itu di pitnah dan di campakkan hingga di tolong oleh Sang Pemuda Hebat Seperti Dewa.
Walaupun Awan berpesan kepada para bawahan nya dan tiga orang kepercayaan yaitu Bu Dewi dan Asep Sunandar serta Iyus Saputra, setelah urusan bersama keluarga besar Abanoub selesai, tak harus di kawal kemana mana pun, karna ingin menjalani hidup layaknya seperti orang biasa..
Bersambung.
__ADS_1