Pemuda Tak Bernama

Pemuda Tak Bernama
Obrolan Di Rumah Aden Haruman.


__ADS_3

Sang Raja malam, tampak begitu tenang di malam itu menemani obrolan empat pemuda bersama sepasang suami istri di bawah kaki Gunung Gede.


Di atas meja tampak lima gelas berisi kopi hitam dengan beberapa rokok yang berbeda merek, menjadi pelengkap obrolan malam yang begitu tenang dan sunyi itu.


Sesekali terdengar nyaring suara binatang malam, dan bau kemenyan menambah aura kemistikan dalam obrolan panjang itu dan empat pemuda yang datang atas perintah pria paruh baya itu, serius mendengarkan setiap inci kosa kata yang keluar dari pasangan suami istri itu.


"DIA KELUAR DARI SARANG NYA. MAJIKAN KALIAN SUDAH SELESAI DALAM PENGUNGSIAN NYA.."


Celetuk pria paruh baya, dengan memandang tajam kearah empat pemuda yang sesekali tampak terlihat menghisap dalam dalam rokok filter lalu perlahan membuang asapnya.


"Aku sudah menduga Abah, bahwa Tuan Muda Awan tak mungkin mati, penantian tiga tahun ini akhir nya secercah harapan terpampang jelas dalam mengikuti alur kehidupan Pemuda Hebat Seperti Dewa.." Terang Asep Sunandar menyambut baik ucapan dari Aden Haruman.


"Yaa Asep, apa yang kau katakan, itu hampir sama dengan hatiku." Timpal Iyus Saputra.


Berbeda dengan dua murid Mama Sepuh, yang notabene nya sudah terikat janji dengan gurunya, sampai kapan pun mereka berdua atau pun delapan Murid Mama Sepuh yang tak ikut dalam obrolan malam, akan selalu mengikuti Muhammad Awan Pratama sampai Ia di panggil oleh sang pencipta..


"Asep dan Iyus serta kalian berdua, majikan kalian sekarang berada di kota kecil pesisir Jawa Barat dan ingatan nya masih pulih. Dia tidak tahu siapa dirinya? Siapa keluarganya? Siapa namanya? Dan dari mana asal nya. Dia terkena amnesia, saat ini melihat pandangan Abah melalui terawangan mata batin, saat ini Muhammad Awan Pratama sedang di godog di salah satu Padepokan Gagak Lumayung untuk di persiapkan melawan musuh musuh yang lebih hebat dari sebelumnya.


"Saat ini Cucuku, sedang dalam metode pemulihan, untuk mengingat ngingat siapa dirinya. Dan itu membutuhkan orang orang yang dekat dengannya. Jadi tujuan utama Abah memanggil kalian berempat untuk segera berangkat dan berada di sisinya, Abah tidak mau tahu bagaimana caranya itu urusan kalian.." Kata Aden Haruman panjang lebar menjelaskan semua penglihatan mata batin nya pada mereka berempat.


Asep dan ketiga sahabatnya yang menjadi tameng Pemuda Hebat Seperti Dewa itu, manggut manggut mencerna setiap kosa kata yang keluar dari bibir pria paruh baya, sesekali tampak keningnya berkerut, ada satu yang mengganjal dalam pikiran mereka.

__ADS_1


"Abah mohon maaf sebelumnya, kalau boleh Asep bertanya dan memberikan saran.."


"Silahkan kau mau bertanya apa? Dan memberikan saran apa? Tanya Aden Haruman.


"Orang yang paling dekat dengan Tuan Muda Awan yang tak lain adalah Nabil Nur Fadillah dan Nyonya Besar.. Apakah mereka berdua harus di beritahu..?" Saran Asep memberikan pendapat dan masukannya. Hal itu membuat Iyus Saputra dan dua Murid Mama Sepuh mengangguk dengan pendapat dari Asep Sunandar.


"Tidak perlu.... Dan selain kalian berempat jangan sampai tahu bahwa Cucu ku masih hidup, ada pun Nabil Nur Fadillah akan bertemu dengan Cucu ku di kota itu dan kalian akan menyaksikan nya sendiri.." Terang Aden Haruman.


"Nabil Nur Fadillah akan sendirinya pergi ke kota itu dengan sendirinya, tujuan utamanya adalah untuk kuliah di kota dimana Cucuku sendiri kuliah di situ.." Sambung Aden Haruman.


"Apa yang di katakan oleh Abah guru memang bener Kang Asep, Kang Iyus. Kata teh Siti Lara memberitahukan padaku, bahwa Nabil akan melanjutkan studinya di kota Purwakarta, entah apa alasannya Teh Siti Lara juga tidak tahu.." Ujar Syarif, membuat Aden Haruman dan Umi Lilis hanya tersenyum kecil, sesuai prediksi dan penerawangan.


"Itu akan menjadi mudah bagi kalian berempat, selain menemani Awan untuk pulih dari ingatan nya kalian juga menjadi pengawal bayangan dari Nabil Nur Fadillah.." Umi Lilis ikut berkomentar.


"Bagus.... Semua penerawangan yang akan di hadapi kedepannya sudah Abah jelaskan pada kalian berempat. Esok juga kalian berempat berangkat dan temui langsung pemimpin Padepokan Gagak Lumayung dan katakan padanya, bahwa kalian berempat anak anakan dari Aden Haruman dan Mama Sepuh.." Titah pria paruh baya yang tak lain Aden Haruman penguasa alam ghaib.


"Siap menerima perintah dari Guru Besar..." Mereka berempat bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat, membuat pasangan suami istri itu menganga lebar karna tak seharusnya mereka begitu.


"Sialan gelo sia...." Rutuk Aden Haruman.."


"Hehehehe. Maaf Abah saking semangatnya.." Kata Asep terkekeh.

__ADS_1


"Semangat sih semangat, tapi lihat tuh istri gue sampai terkejut begitu.." Kesal Aden Haruman sambil menunjuk kearah Istri nya yang masih menganga mulutnya.


"Aduhhh...." Mereka menepuk jidatnya..." Umi Maaf kan kami hehehe.." Satu persatu mencium tangan Umi Lilis.


"Tak apa apa Nak..." Ucap nya seraya mengelus ngelus rambut nya satu persatu.." Suasana begini terasa Awan hadir di sini dan membuat hati ini tentram dan sejuk.." Sambung Umi Lilis.


"Bukan Umi saja yang merindukan bocah tengil itu, mereka berempat dan seluruh keluarganya merindukan sosok pemuda yang bikin tensi darah Abah naik.." Terang Aden Haruman.


"Mereka berempat mampu mengemban tugas ini dan percayalah.. Awan tak lama lagi akan bersama kita mengguncang dunia di bawah telapak kakinya, semua Karuhun yang ada di alam tak kasat mata pun menanti kebangkitan dari PEMUDA HEBAT SEPERTI DEWA itu.." Terang Aden Haruman.


Obrolan di rumah Aden Haruman pun akhirnya selesai, mereka pulang dengan membawa asa yang akan mendatangkan kembali sosok Muhammad Awan Pratama dalam menumpas keji nahi mungkar, dan meluruskan setiap akar yang merambat tak berarah.


Iyus kembali ke kost nya untuk mempersiapkan segala sesuatu nya untuk pemberangkatan menuju sebuah kota dimana pandangan Aden Haruman, mengarah ke kota yang tak jauh dari kota dimana lahir nya Tuan Muda. Sedangkan Asep Sunandar bersama dua murid Mama Sepuh kembali ke kota Cianjur dan besok nya sebelum keberangkatan nya akan bertemu dengan Dewi Ayunda entah apa yang akan di bahas nya.


"Iyus besok jangan lupa kamu sore sudah berada di Cianjur, karna kita akan bertemu dengan Bu Dewi.." Ucap Asep mengingatkan sebelum perpisahan malam itu.


"Iya tenang aja... Gue sore dah ada di kota Cianjur dan besok kamu Wa dimana tempatnya Bu Dewi mengajak untuk bertemu.." Jawab Iyus Saputra.


"Yaa pasti.. Kalau begitu kita berpisah di sini. Kamu hati hati di jalan.." Kata Asep lalu memeluk erat sahabat nya.


"Yaa.. Asep..." Ucap nya singkat menerima pelukan hangat seorang sahabat. Lalu beralih pada Syarif dan Cecep.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2