Pemuda Tak Bernama

Pemuda Tak Bernama
Obrolan Abah dan Umi serta Arya


__ADS_3

"Kak.. Arya....... Hebat ya.. Seperti Dewa.." Puji gadis berkerudung putih itu berusia 16 tahun..


Pertanyaan dan pujian yang di berikan oleh adik angkatnya, membuat Arya terdiam kata kata hebat seperti dewa itu mengingatkan dirinya akan masa lalu nya itu..


"Kak......... Kak...... Kak Arya kok malah melamun..?" Tanya Sinta adik angkatnya itu..


"Ehk.... Itu.... Apa tadi Sin..?" Tanya Arya terbata bata dan lamunan nya buyar...


"Kakak.... Kenapa melamun... Lagi ada yang di pikirkan ya..?" Tanya Sinta penasaran..


"Enggak kok Sin......" Jawab Arya singkat..!


"Abah dan Umi kemana ya Sin..?" Tanya Arya mengalihkan pembicaraan nya.


"Biasa Kak... Abah dan Umi ke sawah.!! Apakah Kakak mau pergi ke sawah..,?" Tanya Sinta..


"Ayo..." Angguk Arya.!


Sang Adik pun tersenyum, Ia pun beranjak di ikuti oleh Arya keluar dari rumah panggung di kampung itu..


Perjalanan menuju ke sebuah sawah yang begitu luas itu, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki, tiba di jalan setapak mereka berdua pun tersenyum renyah ketika sepasang suami istri sedang di tengah sawah terlihat oleh Arya dan Sinta.


"Abah.............


"Umi.................


Arya berteriak memanggil Kedua Orang Tua angkat nya.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu yang posisi nya sedang membungkuk, mencabut rumput rumput yang tumbuh di sekitaran padi langsung mengangkat kepalanya dan melambaikan tangan nya kearah Arya dan Sinta.


"Arya dan Sinta, kalian berdua jangan turun, sebaiknya tunggu di sahung sebentar lagi Umi dan Abah akan naik dan makan bersama.." Kata Umi Juju kepada dua anaknya.


"Ok... Umi.." Balas singkat Arya dan anggukan kepala Sinta..


Atas perintah dari Sang Ibu, mereka berdua pun langsung beranjak ke sahung yang hanya beberapa meter saja dari tempat mereka berdiri..


Sesampainya di sahung, tampak Umi Juju dan suaminya pun beranjak naik dan langsung menuju sebuah kucuran air untuk membasuh tangan yang kotor.


"Abah... Mungkin ini waktu yang tepat kita memberitahu kan kepada Arya, bahwa jalan ke depan nya itu sangat berbahaya.." Kata Umi Juju yang sedang membasuh tangan dari air yang mengalir di kucuran sawah.


"Yaa... Umi... Abah juga kemarin malam sudah berkunjung kepada Mbah Jambrong dan kata nya Arya Kumbara di suruh belajar bela diri di padepokan nya.. Tetapi apakah dia mau atau tidak ya..?" Tanya Abah suaminya.


"Nanti biar Umi yang ngomong secara pelan pelan Abah.. Ayo kita ke sahung dan makan, Umi udah beres cuci tangannya..'' Ajak Sang istri.. Suami hanya tersenyum dan mengangguk.


"Sinta kamu beresin deh tempat makannya.. Umi dan Abah ada sesuatu yang perlu di obrolkan sama kakak mu.." Titah Sang ayah.


"Iya Abah.." Ucap nya Sinta.. Sedangkan Arya hanya berkerut kening nya.


"Arya.... Ayo ikut sama Abah dan Umi.." Ajak Udin lalu beranjak turun dari sahung nya.


Arya pun langsung mengikuti dari belakang berjalan mengikuti langkah kedua pasangan itu..


"Anakku.. Arya Kumbara... Abah kemarin setelah acara kelulusan mu selesai, Abah pergi menemui Mbah Jambrong yang ada di kampung sebelah.." Kata Udin sesaat ucapannya terhenti dan duduk dengan kaki menjuntai ke bawah.


Arya dan Umi pun lalu ikut duduk dan sama hal nya kedua kaki nya Ia juntai kan kebawah menapak ke sebuah padi yang satu bulan lagi siap di panen.

__ADS_1


"Abah bukan nya percaya kepada Mbah Jambrong tapi jalan sareat dan doa doa nya selalu di ijabah oleh sang maha pencipta, Abah meyakini setiap ucapan yang di ucapkan oleh Orang Tua Abah yang telah meninggal dunia.


"Udin.... Kehidupan di alam ghaib itu sama hal nya dengan kehidupan di alam nyata.. Bila kita ingin meminta sesuatu dari sang pencipta sedangkan hati dan perilaku kita banyak bergelimang dosa, maka cari lah seseorang yang hatinya bersih dan minta lah kepada nya, untuk memberitahukan keinginan mu.


"Contohnya.... Kita mau menemui Bupati, nah sebelum kita menemui bupati tersebut, kita harus melewati ajudan nya, untuk di sampaikan kepada orang yang kita temu itu..


"Sama hal nya dengan posisi kita, bila doa kita belum terijabah oleh Sang pencipta langit dan bumi, maka kamu Udin minta lah kepada orang yang hati nya bersih untuk di doa kan dan di sampaikan permintaan mu.


"Arya Kumbara... Begitulah Abah dan Umi, sama hal meminta jalan sareat kepada Mbah Jambrong yang sudah di akui di desa kita kesaktian dan doa nya selalu di ijabah oleh Tuhan.. Abah meminta petunjuk dan siapa diri kamu Nak yang sebenarnya... Bukan Abah mau mengusik jati diri mu, tetapi Abah dan Umi hanya ingin kamu tahu kamu adalah manusia yang di takdir kan ke alam dunia sebagai pemimpin yang adil dan mengangkat derajat orang orang yang tertindas..." Terang Udin pandangan sesaat menatap kearah hamparan sawah.


Arya hanya manggut manggut saja tanpa ada niat untuk menyela setiap perkataan yang keluar dari Abah nya, Ia justru mencerna setiap kosa kata nya.


"Menurut pandangan mata batin Mbah Jambrong, perjalanan ke depannya kamu Nak akan mendapatkan segala marabahaya dan mungkin nyawa mu menjadi taruhannya.. Apakah itu musuh musuh mu, atau musuh musuh orang orang terdekat mu, sebelum kamu tinggal di sini..." Sambung Abah Udin.


"Jadi apa yang harus Arya lakukan Abah... Umi....?" Tanya Arya kini mata nya menatap penuh nanar kepada pasangan suami istri itu.


"Begini Nak..... Seandainya kamu bersedia untuk posisi waktu malam hari, belajar lah ilmu beladiri dan kanuragan di padepokan burung gagak milik Mbah Jambrong, untuk sekedar berjaga jaga bila waktu nya nanti tiba.." Pinta Abah Udin..


"Iya anakku.... Karna mungkin di siang hari kamu akan mulai berkuliah dan Bu Desi yang mengurus semua itu.." Kata Umi ikut memberi masukannya.


"Apa....... Maksud Umi Bu Desi, guru pembimbing di SMK Negeri Karatsu, yang mengurus pendaptaran kuliah ku..?" Tanya Arya sedikit tak percaya.


"Iyaa Anakku.... Bu Desi hanya mengurus nya saja, sedangkan semua uang biaya kuliah mu, guru guru yang menjadi pembimbing di SMK Negeri Karatsu yang membiayai nya.. Kamu tinggal masuk saja.." Ujar Umi Juju menjelaskan semua nya.


Arya bener bener tak percaya dengan semua ini, kebaikan para guru guru nya terhadap dirinya, membuat Ia enggan untuk meninggalkan desa ini, tadinya Arya setelah selesai dengan sekolah nya, Ia akan pergi untuk mencari siapa dirinya dan ingatan ingatan yang selalu menghantui nya, menjadi daya ingat bahwa dirinya orang yang mempunyai dunia dalam genggaman nya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2