
"Kriiiiing...........................!
"Kriiiiing...........................!
"Kriiiiing............................!
Seorang pemuda berusia 22 tahun keluar dari kamar mandinya setelah selesai dengan aktivitas nya buang hajat berkali kali, yang di akibatkan makan bakso kepedasan.
"Sialan lagi enak enak nya, neken goa ku agar aliran sampah sampah makanan itu mengalir, ponselku berbunyi ganggu aja ini.." Rutuk pemuda itu berjalan kearah ponsel yang sedang di cas.
"Hmmmmmmm.." Asep.." Gumam pemuda itu lalu menggeser layar ponselnya dan langsung menaruh kearah telinga sambil berkata."
"Halo Asep, sory angkat telepon nya lama gue lagi buang hajat.." Kata pemuda dengan polosnya menjawab telepon masuk dari sahabatnya itu.
"Hehehehe.. Tanggung dong Iyus.." Canda Asep terkekeh di sebrang telepon.
"Nggak sudah selesai kok.. Emang ada apa Sep telepon..?" Tanya pemuda yang di panggil Iyus itu.
"Begini Iyus. Tadi Opan kirim pesan suara pada saya, kata nya di suruh datang kerumahnya, Abah Aden Haruman ingin bertemu dengan saya dan kamu.." Terang Asep menjelaskan tujuan nya nelepon di sore hari itu.
"Ada apa ya? Tidak biasa nya.." Terka Iyus menerka nerka.
"Mana aku tahu, sebaiknya kita samperin aja Yus.." Kata Asep memberi saran.
"Ayo.. Kebetulan aku memang sedang berada di kota Bogor.. Jam berapa kira kira kamu berangkat dari Cianjur..?" Tanya Iyus Saputra menerima baik ajakan dari Asep Sunandar.
"Sudah isya aja aku otw dari sini Yus.. Kita ketemu di Prapatan Citamiang aja. Bagaimana menurutmu..?" Tanya Asep.
"Ok. Siap, nanti kalau dah berangkat langsung wa ya..." Pinta Iyus mengingatkan.
"Yaa... Ok.." Asep Sunandar pun menyudahi obrolan di sore itu.."
Setelah menerima panggilan telepon dari Asep Sunandar.. Iyus pun langsung keluar dari kamar kostnya berjalan kearah timur menuju sebuah warung nasi untuk mengganjal perut yang belum terisi dari tadi siang.
Keseharian Iyus Saputra setelah hilangnya Muhammad Awan Pratama, tak mempunyai arah dan tujuan, perusahaan tempat Ia bernaung mencari makan sudah tak mendominasi nya, perlahan orang orang penting dari perusahaan Anugerah Awan Sentosa pun mengalami penurunan drastis.
__ADS_1
Bukan Iyus Saputra saja, yang keluar dari perusahaan yang telah membesarkan namanya itu, Asep Sunandar bersama sepuluh Murid Mama Sepuh pun ikut keluar dari barisan internal itu, karna sejatinya ada nya mereka karna adanya Pemuda Hebat Seperti Dewa.
Sementara Siti Lara pokus menjadi bayangan untuk keluarga Besar Muhammad Awan Pratama, atas perintah dari mertuanya yaitu Abah Juned, berbeda dengan suami Siti Lara yang bernama Tarmin, Ia dengan setia menjadi security di kantor Anugerah Awan Sentosa.
Kini yang masih tertahan di perusahaan itu, hanya Dewi Ayunda beserta keluarganya dan Pak Arianto, Hendra Hendri, Tarmin dan pegawai baru yang entah oleh siapa bisa masuk ke dalam perusahaan hingga perusahaan tersebut terus menerus merugi sampai saat ini.
"Mbak makan dong biasa lauk nya. Ikan pindang sama capcay dan jangan lupa sambel nomor satu harus ada.." Kata Iyus baru tiba di rumah makan sederhana yang tak jauh dari lokasi tempat Ia ngekos.
"Siap aa Iyus.. Tunggu sebentar, mbak ambilkan dulu.." Jawab pegawai rumah makan itu gadis berusia 20 tahun yang sudah 5 bulan bekerja di warung itu.
################
Sementara Asep yang berada di kota kecil dimana Ia sedang melamun seorang diri setelah usai bicara dengan Iyus dalam panggilan telepon. Tak lama lamunan nya itu buyar ketika terdengar jelas ketukan pintu dari luar.
"Tok....... Tok....... Tok..........."
"Assalamualaikum..."
Pemuda yang baru satu bulan berusia 20 tahun itu beranjak dari duduknya melangkah menuju pintu membuka pintu keluar.
Pintu di buka..." WaallAikum salam.."
"Kang Syarif, Kang Cecep.... Ayo masuk.." Titah pemilik rumah pada dua tamu yang datang di sore hari itu.
"Terima Kasih, Asep.." Mereka berdua masuk mengikuti langkah pemilik rumah itu.
"Kopi...?"
Asep bertanya pada dua tamu nya, setelah mereka duduk di kursi yang ada di ruangan tengah rumah sederhana yang tak jauh dari kampung tempat Muhammad Awan Pratama lahir.
"Boleh kalau ada kopi hitam Sep.." Pinta salah satu dari mereka berdua.
"Siap ada..." Asep pun langsung pergi ke dapur untuk menyeduh kopi.
Lima menit berlalu, kopi pun telah tersedia di meja yang ada di ruangan tengah, dua lelaki berusia 28 tahun menyeruput kopi yang di hidangkan oleh Asep Sunandar sebelum mengutarakan maksud dan tujuannya berkunjung sore sore ke rumah Asep.
__ADS_1
"Asep... Mungkin kau juga sudah ada panggilan dari pangersa Aden Haruman, untuk segera datang ke rumahnya.." Terka satu dari dua lelaki yang bertamu memulai percakapan nya.
"Iya Kang Syarif, malah Iyus Saputra juga sudah di beritahu olehku dan jam 7 malam ini aku akan berangkat menuju puncak.." Jawab Asep.
"Yaa kita akan sama sama berangkat dari sini dan bertemu di kediaman Abah Aden Haruman malam ini. Dan kemungkinan terbesar ada sesuatu yang sangat penting untuk di diskusikan dengan kita kita.." Terang Syarif akang satu julukannya.
"Apakah teman Kang Syarif dan Kang Cecep, tau tentang panggilan dari Abah Aden Haruman..?" Tanya Asep penasaran kenapa hanya mereka berdua yang sama dengannya dan Iyus di suruh datang pada penguasa alam ghaib itu.
"Tidak tahu mereka dan kata Abah Aden Haruman cukup kita berempat aja dulu.." Jawab Syarif.
"Hmmmmmmmmm'' Begitu ya..." Kata Asep singkat.
Obrolan mereka bertiga terhenti ketika suara telepon milik Asep Sunandar berdering.. Asep pun langsung beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel yang tersimpan di samping TV.
"Halo..... Nyonya Besar..." Kata Asep setelah melihat di layar hp tertera nama Bu Dewi.
"Asep posisi sekarang dimana..?" Tanya suara wanita dari sebrang telepon.
"Lagi di rumah Nyonya Besar. Ada hal penting apa Nyonya Besar menelepon..?" Tanya Asep kedua matanya menatap kearah Syarif dan Cecep.
"Boleh Ibu minta tolong pada Asep atau pun Iyus..?" Tanya Bu Dewi dalam sambungan telepon.
"Minta tolong apa Nyonya Besar, kalau Asep mampu insyaallah Asep tolong.."
"Terima Kasih Asep.. Sebaiknya kita bertemu dan mengobrol di darat.." Pinta Bu Dewi.
"Kapan Nyonya Besar, kalau malam ini Asep tidak bisa karna ada janji dengan Iyus.. Insyaallah setelah urusan Asep dan Iyus selesai baru bisa menemui Nyonya Besar." Terang Asep Sunandar.
"Besok malam aja Asep, sekalian bilangin sama Iyus Saputra biar lebih enak ngobrol nya.." Kata Bu Dewi.
"Siap Nyonya Besar, akan Asep sampaikan.."
"Terima Kasih ya Asep... Kalau begitu ibu sudahi obrolan di sore hari ini.." Ucap nya dari sebrang telepon.
"Sama sama Bu... Silahkan.." Asep pun langsung mematikan panggilan telepon bersama Bu Dewi, lalu kembali duduk dan melanjutkan lagi obrolan yang tertunda bersama Syarif dan Cecep.
__ADS_1
Bersambung.