Pemuda Tak Bernama

Pemuda Tak Bernama
Lisa Angraeni Kosasih tertangkap.


__ADS_3

Empat orang memakai jas hitam berbadan tegap turun secara bersamaan menghampiri wanita muda yang sedang berjalan dengan tatapan kosong.


"Hah........." Lisa mendongkrak wajahnya kaget keempat pria keluar dari mobil mewah langsung menghadangnya.


"Siapa kalian..?" Apa yang ingin kalian lakukan pada ku..?" Tanya wanita muda itu.


"Kau telah menyinggung Tuan ku.. Apakah Tuan ku akan melepaskan begitu saja.." Kata dari empat pria berjas itu.


Badannya gemetaran, hal besar akan terjadi pada dirinya, area di sekitar sangat sepi, berteriak tidak ada gunanya.." Sial.." Maki Lisa prustasi.


"Bawa wanita sampah ini ke markas, untuk kita mainkan rame rame.." Lelaki dengan wajah tergores memberi perintah pada ketiga temannya.


Tak ada pilihan lain bagi wanita muda itu dengan melawan nya. Namun bila mengandalkan otot jelas ia hanya mahluk lemah yang tak mungkin bisa menang, kini otak nya mulai berpikir mencari akal.


"Woy.. Pak polisi..." Teriak wanita itu seraya melambaikan tangannya, hingga mereka berempat yang berusaha untuk menangkap nya langsung membalikkan badannya.


Wanita muda itu pun langsung mengeluarkan jurus andalan, menggunakan kaki seribu. Mengecoh empat pria berbadan tegap itu.


"Sial kita di tipu.." Ucap mereka terkecoh oleh wanita yang di tugaskan oleh pria paruh baya yang tadi di club di permalukan oleh wanita tersebut.


"Ayo kejar......" Teriak nya pada ketiga temannya."


Sekuat apa pun berlari, mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya, itu hanya sia sia, dengan apa yang di lakukan nya di tambah lagi nya wanita muda itu berlari ke tempat sepi, membuat senyuman kemenangan bagi ke empat pria berjas.


"Wanita sampah kau tak bisa kabur dari cengkraman ku.." Satu pria berhenti lalu melemparkan balok yang ada di bawah telapak kakinya.


"Wuzzzzzzzzzzzzzzz............!


"Bughh...............!


"Arhkkkk.................!


Lemparan balok itu tepat mengenai sasaran kepala wanita itu dan langsung ambruk ke tanah, merasakan pusing teramat dalam, tampak Ia meraba kepalanya darah segar mengucur di bagian kepala nya.

__ADS_1


"Hahahahaha.. Modar sia.." Ayo bawa kita berpesta malam ini.." Titah nya pada ketiga temannya.


"Siap.." Mereka bertiga serentak menjawab lalu berjalan kearah wanita muda yang ambruk di tanah.


"Bugh.............!


"Bugh.............!


Dua tendangan bebas mendarat kearah perut wanita muda oleh ketiga pria kekar anak buah Tuan yang di tampar keras waktu di club' malam itu dengan sangat kasar.


"Ahkkkkkkk...............!


Lisa meringis kesakitan. Hidupnya sangat iris dan memprihatinkan."


"Sudah..... jangan di tendang lagi.. Sebaik nya bawa ke markas.." Ucap pria yang melumpuhkan wanita muda dengan lemparan balok.


Dia hanya bisa pasrah, tiga lelaki membawa nya dengan kasar, sudah tak ada tenaga sedikit pun yang ada di tubuhnya.. Yaa Allah.." Batinnya meminta pertolongan pada sang pencipta langit dan bumi.


"Karma dari Kedua Orang Tua ku, harus aku yang menanggung nya.." Ucap hati Lisa.


Apakah ini dosa yang harus di tanggung oleh Lisa Angraeni Kosasih ketika kedua orang tua nya yang melakukan hal kejahatan dan tuhan pun ikut andil dalam proses ini. Jelas lah ikut andil biasa malam yang di lalui ramai dengan orang orang berlalu lalang, kini sepi bagaikan di sebuah tempat pemakaman. Ia terus menerus meratapi apa yang di perbuat oleh kedua orang tua nya, kini terjadi pada nya..


########


Sedangkan di suatu kota yang jauh dari kota dimana Lisa sedang berjuang untuk melepaskan cengkraman dari seorang Tuan Besar yang memburunya akibat kesalahan mempertahankan harga dirinya di sebuah club tempat Ia bekerja.


Sebelum adzan isya berkumandang, Asep Sunandar dan Iyus Saputra sudah berada di salah satu rumah makan nasi liwet ibu Nurul di jalan labuan Cianjur, menunggu kedatangan sosok Direktur perusahaan Anugerah Awan Sentosa.


Setelah lima belas menit lamanya, tampak dari area pintu masuk rumah makan itu, terlihat sebuah mobil yang sangat di kenali nya, mobil itu melaju pelan dan berhenti tepat di samping mobil Honda Civic yang di kendarai oleh Asep Sunandar bersama Iyus Saputra.


Seorang wanita berusia 43 tahun keluar bersama seorang lelaki yang terpaut dua tahun usianya, berjalan kearah lambaian tangan pemuda yang sudah menunggu nya sekitaran lima belas menit.


Dua pemuda itu bangkit dari duduknya, membungkuk hormat kearah sepasang suami istri setengah baya yang baru sampai di mejanya.

__ADS_1


"Nak Iyus.. Nak Asep, tak usah sungkan, silahkan duduk kembali.." Ucap wanita setengah tua itu.


"Terima Kasih Nyonya Besar.." Ucap Iyus dan anggukan kepala dari Asep Sunandar."


"Sama sama anakku.. Apakah sudah pesan makanan..?" Tanya wanita yang di panggil Nyonya Besar itu.


"Belum Nyonya Besar. Kita berdua menunggu kedatangan anda berdua terlebih dahulu.." Kini Asep yang menjawab nya.


"Terima Kasih anakku Asep Sunandar.. Kalau begitu kita pesan dulu makanan, lalu kita mengobrol dengan serius.." Terang Bu Dewi.


"Baik Nyonya Besar itu lebih bagus.." Ucap Asep Sunandar.. Lalu melambaikan tangan pada pelayan restoran untuk menghampiri nya.


Singkat cerita, hampir dua puluh menit lamanya, mereka sibuk dengan acara makan malam yang di hidangkan oleh pelayan resto itu. Bu Dewi pun mengutarakan maksud tujuan meminta bertemu dan sekaligus butuh bantuan dari mereka berdua.


"Anak anakku.... Asep dan Iyus.." Ucap Bu Dewi, menatap kearah mereka berdua.. Dan mereka berdua pun langsung mengangguk. " Iya Bu.." Jawab Asep.


"Seminggu yang lalu Ibu bersama Nabil Nur Fadillah dan Amel menemui CEO perusahaan Buana Group untuk menjalin kerjasama." Bu Dewi memberikan keterangan terkait pertemuan antara dirinya bersama Nabil dan Amel menemui CEO Buana Group dengan jelas dan detil.."


Pertemuan Bu Dewi dan CEO Buana Group sudah author post di episode sebelumnya ya.


"Lalu Bu, sekarang sudah hampir seminggu batas yang di berikan oleh CEO itu, apakah sudah memberikan keputusan pada perusahaan Anugerah Awan Sentosa..?" Tanya Iyus Saputra penasaran.


"Sudah anakku Iyus Saputra." Jawab Bu Dewi tampak tak bergairah di lihat oleh Asep dan Iyus.


"Apa katanya. Apakah mereka memberikan syarat untuk perusahaan Tuan Muda Awan..?" Tanya kembali Iyus Saputra.


"Iya anakku.. Perusahaan Buana Group bersedia bekerjasama dengan perusahaan Muhammad Awan Pratama, dengan syarat yang tak masuk akal.. Hal itu membuat ibu dan suami bingung di buatnya.." Keluh Dewi Ayunda.


"Syarat apa yang di minta Bu. Kalau boleh kita berdua tahu.." Pinta Asep menatap sahdu wanita beranak dua, tampak terpancar beban yang sangat berat di pundaknya.


"CEO Buana Group itu. Ingin Nabil Nur Fadillah yang menandatangani kontrak kerjasama antar dua perusahaan itu.." Kata Bu Dewi pelan namun jelas terdengar di telinga Asep dan Iyus Saputra.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2