
Waktu masih terlalu pagi, untuk orang orang berkasta tinggi, karna gaya hidup yang merubah dengan seiring nya zamannya, berbeda hal bagi orang yang hidup di pinggiran kota kecil daerah nan jauh dari pusat kota itu.
Seorang wanita berusia 29 tahun keluar dari rumah panggung pasangan suami istri paruh baya di ikuti oleh pemuda yang sangat tampan dan gagah berani di usia 19 tahun itu.
Desi Wulandari, wanita yang masih menjadi guru honorer di salah satu sekolah menengah atas itu berjalan kearah motor maticnya yang terparkir di area rumah panggung itu.
"Arya, kamu yang bawa ya......" Titah Bu Desi menyerahkan kunci motor beat yang selalu setia menemani guru muda itu berangkat ke sekolah untuk mengajar anak anak didiknya itu.
Arya garuk garuk kepalanya, Ia selama ini tak pernah membawa motor, apakah bisa menjalankan motor nya atau tidak.."
"Kenapa Ar...? Guru muda itu bertanya melihat exfresi kebingungan anak didik nya itu.
"Gak pernah sekalipun membawa motor Bu.." Polos Arya menjawab nya.
"Tapi bisa kan kamu..?"
"Gak tau Bu.." Balas Arya.
"Tapi ibu pernah kok kamu lihat bawa kalektor waktu membajak sawah pak Imin.." Kata Bu Desi.
"Hehehehe kalau itu mah bisa Bu.." Kekeh Arya.
"Yaa motor juga gak berbeda jauh Ar... Ayo ahk jalan nanti kita kesiangan.." Guru muda itu kukuh dengan pendirian agar Arya yang membawa motor dan dirinya di bonceng.
Ada satu yang di ketahui oleh Bu Desi, hasil belajar dan membaca buku buku tentang seorang manusia yang hilang ingatan sedang atau pun amnesia, untuk di arahkan atau pun di tunjukkan pada hal hal yang tak bisa buat dirinya, maka insiatif dari Bu Desi untuk membiarkan Arya membawa motor nya, karna Bu Desi mempunyai pemikiran bahwa pemuda yang tinggal di rumah Umi Juju itu pemuda yang mempunyai dunia dalam genggaman nya.
Pemuda itu berjalan ragu ragu kearah sepeda motor matic, ada perasaan yang sulit untuk di artikan, Bu Desi tersenyum geli melihat langkah kaki anak didiknya yang tampak gemetaran.
__ADS_1
"Bu Desi........" Arya menoleh setelah berada di samping motor milik guru pembimbing nya.
"Ayo jalankan motornya Ar.." Jawab Desi melangkah berjalan menuju motor miliknya.
"Yaa sudah.. Lest' go' Bu.." Arya langsung naik ke sepeda motor itu dan memasukkan konci motornya ke stap kontak.
Standar motor di pasang.. Starter di pencet seraya gas sedikit di tarik, rem belakang di tekan, hal itu hampir sama dengan menjalankan kolektor untuk membajak sawah pekerjaan waktu luang membantu Abah dan Umi.
"Mudah kan..?" Tanya Bu Desi.."
"Iya Bu..." Jawab Arya singkat lalu mulai menjalankan motor beat nya membonceng guru pembimbing menuju pusat kota Purwakarta.
Kurang lebih satu jam lamanya, kini Arya dan Bu Dewi pun sudah sampai di salah satu universitas di kota pesisir Jawa Barat.
"Arya, motor nya masukin ke dalam gerbang dan parkir di situ aja.." Titah Bu Desi seraya menunjuk kearah motor motor yang berjejer rapi di area halaman parkir universitas.
"Baik Bu..."
Sesampainya di salah satu ruangan, Bu Desi pun langsung masuk ke dalam ruangan, sedangkan Arya sendiri di suruh tunggu di luar.
"Ar kamu tunggu di sini ya. Ibu mau masuk menyelesaikan administrasi dan kelengkapan surat surat untuk masuk di universitas ini.." Terang Bu Desi,
"Iya Bu silahkan.." Angguk Arya.."
############
Di waktu yang sama dengan aktivitas yang di lakukan oleh pemuda tak bernama di salah satu universitas kota kedua bagi pemuda hebat seperti dewa itu. Di area yang rimbun dengan perkebunan teh, tampak di pagi itu cuaca begitu dingin menusuk pori pori kulit.
__ADS_1
Di salah satu kampung yang tak jauh dari tempat pariwisata daerah puncak Bogor, tampak di dalam bangunan rumah yang terbilang rumah kuno seorang lelaki paruh baya sedang bersantai dengan di temani segelas kopi hitam dan satu bungkus rokok kretek gudang garam merah.
"Hmmmmmmmmm''... Kau keluar juga anak jin Kuya.." Gumam lelaki paruh baya itu terdengar jelas oleh wanita tua yang melintas di hadapannya untuk berjalan keluar.
Wanita tua itu berhenti, lalu pandangan mengarah kearah lelaki paruh baya yang duduk santai seraya menghidupkan geretan nya dan mulai menghisap dalam dalam rokok yang berada di bibirnya itu.
"Muhammad Awan Pratama Abah..." Wanita tua itu duduk dan langsung bertanya pada lelaki yang duduk di hadapannya.
"Iya Umi.. Dia telah keluar dari sarang..." Jawab lelaki paruh baya yang tak lain Aden Haruman.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah. Hirobbil Allamiin.." Wanita tua menadahkan tangannya keatas lalu mengusapkan ke wajah nya tanda rasa syukur atas ucapan dari suaminya.
"Tapi Umi dia belum tahu tentang jati dirinya, dia masih harus berjuang dengan apa yang telah di ucapkan nya tempo dulu. Ingin menjadi manusia yang normal tanpa beban dan tanggung jawab.." Terang Aden Haruman menjelaskan pada Istri nya.
"Yaa Abah umi juga tahu.. Umi bersyukur dengan Awan masih hidup dan sekarang memulai lagi perjalanan menuju hati dirinya yang sebenarnya.." Lirih wanita tua itu.
"Apakah Nabil harus di kasih tahu kabar ini Abah.." Sambung Umi Lilis.
"Tak usah Umi... Nabil sendiri dengan pendirian akan melanjutkan studinya di tempat Muhammad Awan Pratama berada.." Ujar Aden Haruman.
"Jadi................" Umi Lilis tersentak kaget setelah mendengar penuturan dari suami nya yang mempunyai tingkat mata batin yang mumpuni.
Takdir mereka berdua sudah tertulis di alam Nirwana, kesetiaan, kesedihan, kekecewaan, rasa prustasi, ketidakpercayaan dan saling menyalahkan akan mereka alami di saat pertemuan itu tiba. Dan hanya satu jawaban dari mereka berdua untuk bersatu.." Kata Aden Haruman menurut penglihatan nya.
"Apa itu Abah agar mereka bersatu..?" Tanya Sang istri penasaran.
"Keyakinan mereka berdua Umi.." Simpel jawaban dari Aden Haruman namun menanggung arti yang sangat luas untuk di gali lebih dalam.
__ADS_1
Obrolan pasangan suami istri paruh baya itu lumayan cukup lama, mengenai sosok pemuda hebat seperti dewa. Aden Haruman dengan kesaktian yang di punya, mempunyai rencana rencana untuk mengarahkan sosok anak angkatnya itu kembali pada jalan yang semestinya akan di lalui, sedangkan Umi Lilis dengan kasih sayang yang Ia limpahkan pada Muhammad Awan Pratama memberikan masukan pada suaminya untuk beberapa orang yang dekat dengan anak angkat nya untuk di tugaskan di mana Muhammad Awan Pratama tinggal saat ini.
Setelah pembahasan pasangan suami istri paruh baya itu selesai dan sepakat untuk memasukkan Asep Sunandar bersama Iyus Saputra untuk memata matai pemuda tak bernama di kota pesisir Jawa Barat tersebut.