
Di sebuah kamar hotel VIP, malam ini tampak seorang pria sedang menikmati malam nya dengan seorang wanita yang di kenal kan oleh orang orang yang berhasil melarikan diri waktu terjadinya perang besar antara Muhammad Awan Pratama dan Moch Rojak tiga tahun yang lalu.
Pria matang berusia 36 tahun dengan perawakan tinggi hidung mancung dan kulit putih, mirip orang bule itu tampak sedang terbaring sambil menikmati permainan yang di berikan oleh wanita yang memperkenalkan diri nya Lastri serta menjadi kaki tangannya Moch Jabar.
Meski Pria Bule itu sedang bercinta dengan wanita yang tidak di sukai, namun dia selalu membayangkan wajah wanita pujaan hatinya. Bahkan di puncak kenikmatan dia memanggil nama wanita dengan begitu merdu.
Sedangkan wanita bernama Lastri itu hanya diam saja dan terus melayani lelaki yang menjadi pewaris perusahaan Abanoub, tak peduli siapa yang di panggil pria itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya, asal dia dapat masuk ke keluarga Abanoub dan pundi pundi uang pun mengalir ke rekening dirinya, selain uang Ia juga bisa membalas dendam atas tiga tahun yang lalu menimpa dirinya dan sahabatnya yaitu Ayumi.
"Ohh.............. Siti Lara!!! Aku mencintaimu!! Erang nya saat semburan lava nya sudah keluar.
Seketika Fatir mendorong Lastri yang sejak tadi berada di atas tubuhnya. Setelah itu melepas sesuatu yang sejak tadi membungkus senjatanya. Cairan yang ada dalam pembungkus itu lalu dia buang begitu saja ke lantai.
"Cepat pakai baju mu dan segera keluar dari kamar ini. Aku ingin beristirahat." Ucap Fatir dengan nada dingin.
Tak lupa dia mengambil satu buah kartu ATM yang di dalam nya berisi uang jutaan sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
"Cepat pergi lah..." Usir Fatir.
"Terima Kasih Tuan. Ingat yaa Tuan sesuai kesepakatan kita selain Tuan menginginkan tubuh ku, tapi Tuan sudah berjanji akan membebaskan Tuan Jabar dan Tuan Rojak sepupu Tuan sendiri tepat ketika mereka sudah menjalani hukuman selama tiga tahun agar tidak ada kecurigaan dalam internal kepolisian." Kata Lastri mengingatkan nya.
"Pergi cepat!!" Fatir tidak memperdulikan ucapan wanita itu.
Setelah Lastri keluar. Fatir merebahkan tubuhnya yang masih polos. Dia mengambil ponselnya dan mencari Poto dalam galeri nya.
"Cup.......
__ADS_1
"Ahk.................
Erang Fatir sambil mengelus ngelus pusaka milik nya yang sudah letoy.
"Aku mencintaimu Lara......." Ucap nya setelah Poto seorang wanita yang sejak dulu dia simpan dalam ponselnya.
Pertemuan singkat antara Lara dan Fatir saat itu, ketika Fatir pertama kali bertemu dengan Janda anak satu itu sudah di buat nya terpesona akan kecantikan alami yang di miliki oleh Lara..
Dan atas permohonan yang di minta oleh Lara kepada Fatir tiga tahun itu, membuat Muhammad Awan Pratama masih hidup sampai saat ini..
....................... Tiga tahun yang lalu, setelah mendapatkan kabar bahwa dua keponakan dan Ayah nya Abu Bakr telah gagal dan masuk ke dalam jeruji besi di negara tempat Nabil dan Azzahra Masika Fatharani di temukan.
Fatir bersama orang orang kuat dan SDM keluarga Abanoub yang sesungguhnya langsung mendarat mulus dan memburu pemuda yang menjadi perisai Nabil dan Azzahra Masika Fatharani atas informasi yang di berikan oleh Lastri dan Ayumi.
Malam itu tepat pukul 22:00 seorang pemuda hebat seperti dewa keluar dari kantornya dan menaiki mobil kesayangan nya meluncur dengan cepat kearah jalan Cikalong. Tanpa Awan sadari bahwa perjalanan itu akan bernasib naas dan mungkin nyawanya akan hilang di dunia ini.
Sementara para pengawal Muhammad Awan Pratama, yang di larang oleh majikan nya sendiri agar ia pergi kemana mana tidak perlu di kawal hanya bisa berdiam diri malam itu.
Puncak kekejaman para pengawal yang di tugaskan oleh Fatir pukul 02 dini hari, malam itu, Muhammad Awan Pratama setelah keluar dari tempat ziarah yang ada di kota Cikalong, ia pun berniat kembali untuk pulang ke rumahnya, tetapi ketika berada di jalan penghubung antara ke Cianjur kota.. Beberapa mobil menghalangi jalannya.
Ketika mobil mewah Marcedez Benz C-Class yang di kemudikan oleh Awan berhenti, dari arah belakang dan kiri kanan berterbangan orang orang yang membawa Tonfa dan langsung di pukul kan ke arah mobil, hingga mobil mewah itu hancur seketika dan Awan pun di tarik paksa keluar dari mobilnya oleh orang orang memakai pakaian serba hitam.
Setelah puas menghancurkan mobil mewah itu. Pemuda yang menjadi perisai Nabil Nur Fadillah dan Azzahra Masika Fatharani itu pun di seret ke sebuah bangunan seperti kandang Hayam yang berada di area bebukitan itu.
"Siapa kalian hah....?" Tanya Awan dalam keadaan luka parah di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Semua hanya tertawa terbahak bahak dengan wajah yang seringai licik.. Tak ada jawaban dari pertanyaan yang di ucapkan oleh pemuda hebat seperti dewa.
Salah satu dari pimpinan pengawal orang orang misterius itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon majikan nya yang berada di kawasan Jakarta memberi tahukan bahwa buruannya sudah berada dalam genggaman nya.
Setelah selesai dengan panggilan telepon.. Sang ketua pengawal itu pun lalu pergi meninggalkan bangunan itu dan hanya menempatkan beberapa orang saja untuk berjaga.
"Kalian sebagian berjaga di sini, saya bersama yang lainnya akan membereskan jalanan dan menyambut kedatangan bos muda bersama bos besar yang kemungkinan esok siang sudah berada di kota ini.." Kata Sang Ketua kepada para anak buah nya.
"Siap Ketua..!!
################
Pagi pun telah tiba sang mentari sudah menampakkan wajahnya dengan sinar mentari yang menerangi bumi Pertiwi di kota daerah Jawa Barat itu.
Di sebuah rumah mewah yang berada di kompleks perumahan elit, seorang wanita beranak satu sedang gundah gulana hati dan pikiran nya pagi itu.
Siti Lara, ya wanita itu setelah sembuh dan pulang dari rumah sakit, sementara dirinya tinggal bersama ibu dan anaknya di komplek perumahan yang berhadapan dengan rumah majikan nya itu.
Dari malam hati dan pikiran nya, entah kenapa selalu terbayang majikan nya sedang mengalami musibah yang amat dahsyat..
Setelah pikiran dan hatinya Ia curahkan kepada Tarmin dan Tarmin pun langsung menelepon Asep Sunandar dan Akang satu, mereka bertiga pun langsung menemui Siti Lara di kediaman nya.
Kegelisahan yang di rasakan oleh Siti Lara akhirnya terjawab pagi menuju siang itu, ketika Asep Sunandar dan Akang Satu serta Tarmin datang ke rumahnya, tiba tiba ponselnya Asep Sunandar berdering dan langsung mengangkat nya.
Bersambung.
__ADS_1