
Honda Civic warna putih melaju santai membelah jalan raya yang menghubungkan dua kabupaten Cianjur ke kabupaten Bogor. Tampak terlihat si pengendara tidak terlalu buru buru.
Di dalam mobil terlihat dua orang lelaki beda usia sedang menatap lurus kearah jalan yang mereka lalui. Tidak tahu mengapa pengendara itu sangat santai dan sepertinya hanya mereka saja yang mengetahuinya.
Sedangkan di belakang setir terlihat seorang lelaki berusia 28 tahun mengenakan pakaian formal berwarna hitam. Dan lelaki berusia 28 tahun itu tidak lain adalah Syarif murid pertama dari pemilik pondok pesantren DARUL HIKMAH. Sementara pemuda yang duduk di samping nya adalah Asep Sunandar.
Selain mereka berdua, yang berangkat menuju tempat pariwisata di daerah puncak Bogor, di belakang tempat duduk Asep Sunandar, tampak seorang lelaki yang usianya hampir sama dengan pemegang kemudi setir mobil sedan Honda Civic sedang pokus dengan dunia ponsel nya, membalas pesan pesan masuk yang entah dari siapa dan hanya Cecep akang dua julukan nya yang mengetahuinya.
Syarif tampak sangat khusyuk mengendalikan mobil nya dengan sesekali menatap kearah kaca spion tersenyum manis. Sedangkan Asep Sunandar seperti biasa mendengarkan lagu jeunk hedset di telinga nya.
"Puk.... Puk.... " Sep.. Kau sudah wa belum Iyus Saputra..?" Tanya Syarif seraya menepuk bahu tangan lelaki yang duduk di sampingnya. Asep memberikan jempol dan anggukan kepalanya, tanda apa yang di tanya oleh nya, sudah.
Setelah satu jam lebih mobil Honda Civic pun sampai di perapatan Citamiang.. Syarif membuka kaca mobil nya, memberikan uang dua ribu pada pembantu jalan yang seperti biasa nongkrong di parapatan menuju rumah Guru dari Pemuda Hebat Seperti Dewa.
"Tuh mobil si Iyus Saputra di depan, beri klakson Kang Syarif.." Ucap Asep Sunandar seraya jari telunjuk mengarah ke depan.
"Iya bener..." Ucap Syarif.."
"Tin...... Tin......." Klakson di pencet oleh Syarif..."
Mobil Toyota Yaris yang berhenti di bahu jalan, setelah mendengar bunyi klakson dan melihat dari kaca spion mobil miliknya, langsung menghidupkan nya dan mengikuti mobil Honda Civic warna putih itu.
Tak sampai lima menit dua mobil berbeda tipe dan merek itu berhenti di depan warung kecil, lalu keluar empat lelaki berbeda usia secara bersamaan.
"Iyus.." Syarif berkata langsung memeluk pemuda yang turun dari mobil Toyota Yaris itu."
__ADS_1
"Gimana kabar mu sehat..? Tanya Syarif lagi seraya mengelus ngelus punggung nya.
"Alhamdulillah Kang Syarif.. Bagaimana sampean dan Kang Cecep..?" Tanya balik Iyus setelah pelukan hangat dari Syarif terlepas.
"Alhamdulillah kita berdua juga sehat.." Jawab Syarif.."
"Syukur lah Kang.. Yang penting sehat badan dulu, untuk urusan yang lain bisa di cari hehehe.." Kata Iyus sambil terkekeh.
"Iya betul Yus.." Ayo kita kerumah Abah Aden Haruman.." Ajak Syarif. Tak di lama kan lagi Iyus pun langsung mengangguk.
Setelah basa basi di antara Iyus Saputra dan Syarif serta Cecep, mereka berempat pun langsung melangkah menuju rumah Aden Haruman yang terhalang dua rumah dari rumah Bu Sri tempat memarkir mobil mereka.
"Assalamualaikum...." Ucap mereka berempat seraya mengetuk pintu tiga kali.
"Kreakk..........!
Pintu di buka oleh Asep Sunandar, tampak sepasang suami istri sedang duduk di kursi ruangan tengah tersenyum kearah nya.
"Nak Asep, Iyus dan Nak Syarif, Cecep. Silahkan masuk.." Kata wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengan sosok lelaki penguasa alam ghaib itu.
"Terima Kasih Umi Lilis..." Jawab Asep Sunandar tersenyum manis dan anggukan mereka bertiga.
Mereka pun langsung masuk dan segera mencium tangan pasangan suami istri paruh baya itu, lalu detik kemudian mereka berempat pun kini sudah duduk dan berhadapan dengan Aden Haruman.
Sedangan Umi Lilis sendiri beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk menemani obrolan panjang malam mereka, karna banyak nya obrolan yang akan di diskusikan tentang cucu angkatnya Muhammad Awan Pratama yang telah tersebar meninggal dunia tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
##################
Setelah melewati ujian yang di berikan oleh pemilik Padepokan Gagak Lumayung. Arya pun langsung di bawa masuk kedalam aula madrasah bersama kedua Orang Tua angkat nya yang terlebih dahulu berada di Padepokan itu.
Atas keinginan Umi Juju dan Abah Udin, pada Mbah Jambrong untuk menguji anak yang di temukan di danau Cirata, karna pengakuan Arya sendiri selama dua Minggu di larang untuk ikut belajar seni beladiri, padahal sebelumnya Mbah Jambrong sendiri yang meminta Arya untuk belajar silat di Padepokan itu.
Kini terbukti dengan Kedua mata Abah Udin dan Umi Juju bahwa Arya Kumbara memang seorang ahli beladiri, dan alasan Mbah Jambrong tidak mengajari nya terbukti dengan bisa menekan dua murid senior Padepokan Gagak Lumayung.
"Bapak Udin dan Ibu Juju, kemampuan Arya sudah tak bisa di ragukan lagi dalam berkelahi, karna sudah mempunyai dasar dasar beladiri, alasan Mbah tidak mengajari nya, karna tidak ada yang perlu di ajari lagi, tinggal Arya Kumbara sendiri mencari ilmu supranatural nya dengan cara bertapa atau pun bermeditasi di Puncak Gunung Ciremai.." Terang Lelaki paruh baya pemilik Padepokan Gagak Lumayung itu.
"Apakah tidak terlalu dini Mbah, menyuruh Arya untuk bermeditasi..?" Tanya Udin, jelas Ia mengetahui Gunung Ciremai konon terbilang angker dan Arya di suruh meditasi seorang diri.
"Tidak..." Jawab Mbah Jambrong exfresi nya datar seolah tampak terlihat acuh oleh Udin dan Juju.
Kedua Orang Tua angkat Arya pun menoleh secara bersamaan pada anaknya, senyuman manis di berikan oleh Arya beserta anggukan kepala nya.
"Yakin kamu Nak...?" Tanya Umi Juju..
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Umi, Abah.. Apa yang di katakan oleh Mbah Guru, itu memang harus di kerjakan oleh Arya sendiri.." Terang Arya menyambut baik perintah dari gurunya walaupun dia baru dua Minggu menjadi murid dari padepokan Gagak Lumayung.
"Tapi kan kamu harus kuliah Nak..?" Umi Juju bener bener tak mengijinkan tampak terlihat dari exfresi dan perkataan nya yang seolah olah mencari alasan agar Arya tidak melakukan tapa Geni itu.
Mendengar perkataan dari Kedua Orang Tua angkat Arya Kumbara, detik berikutnya Mbah Jambrong pun berbicara dan memberikan penjelasan bahwa tapa Geni yang akan di lakukan oleh Arya Kumbara, bukan sekarang namun nanti di saat Arya ada waktu senggang dan itu juga hanya tujuh hari tujuh malam dengan di dampingi dua murid seniornya yang tadi melawan Pemuda Tak Bernama.
Penjelasan yang di berikan oleh Mbah Jambrong pada pasangan suami istri Udin dan Juju, mampu meyakinkan mereka bahwa semua yang di perintahkan pada Arya demi kebaikan nya. Dan mereka berdua pun menyetujui seraya hati nya lega.
__ADS_1