
Perasaanku kembali merasa tidak nyaman, entah apa maksud Bu Sukma mengatakan seperti itu.
"Maksud Bu Sukma, suaminya kemana?" tanya Mak Sasa kepo.
"Suaminya nggak ada, Mak Sasa. Kalau ada suaminya masa kesini udah hamil besar gini, lahiran tinggal hitung hari kok." Bu Sukma makin meluluh lantakkan hatiku dengan ucapannya.
Dari pada aku mendengar omongan Bu Sukma, akhirnya aku pergi meninggalkannya tanpa permisi. Aku tidak menyangka Bu Sukma bicara seperti itu pada orang lain. Padahal, waktu tadi mau keluar rumah, suaranya begitu lembut. Air mataku tidak sanggup lagi ku tahan. Aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang lewat di jalan itu yang menatapku aneh.
Sesampai di rumah Mbak Mira, aku duduk di teras dengan air mata yang masih terus bercucuran. Aku tidak bisa masuk ke rumah karena kuncinya dipegang Bu Sukma. Aku duduk di lantai dengan kedua kaki ditekuk, wajahku ku tangkupkan di atas lutut.
"Mir… ." Seseorang memanggil nama Mbak Mira. "Lah… bukan Mira, kamu siapa? Kok nangis disini?" tanyanya heran, ketika aku menoleh ke arahnya.
"A– "
"Sinta disini?" Suara Bu Sukma memotong ucapanku.
"Iya, Tante. Tadi lewat, liat mbak ini kirain Mira lagi duduk disini. Siapa tante?" tanya wanita seumuran Mbak Mira itu menunjukku dengan lirikan matanya.
"Capek saya harus jawab satu-satu pertanyaan tetangga disini. Gimana, ya?" Bu Sukma terlihat berpikir.
__ADS_1
"Apa yang gimana, Tante?"
"Ahh… nggak, ayok kita masuk. Ngobrol di dalam aja!" ajak Bu Sukma.
"Nggak usah, Tante! Mau langsung pulang aja. Mari, Tante, Mbak." Wanita itu pun berlalu.
"Bikin malu aja, makanya jadi orang itu jaga diri! Biar nggak nyusahin orang!" Bu Sukma ngomel sambil memutar anak kunci pada pintu. Entah siapa yang dimaksud dalam omongannya.
Perasaanku mulai tidak tenang kembali. Biar terhindar dari Bu Sukma, aku pun masuk ke kamar. Namun, baru beberapa detik aku duduk di pinggir kasur, Bu Sukma mengusikku.
"Heh! Kamu mau ngapain santai-santai disitu? Cuci baju sana, cucian udah numpuk itu!"
"Iya, Bu…." jawabku pelan.
Ketika aku memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci, Bu Sukma lagi-lagi datang mengagetkanku. Gerak-gerikku seolah tidak lepas dari pengawasan Bu Sukma. Ia seperti hantu yang menakutiku, yang bisa tiba-tiba muncul dan mengagetkanku disaat apa yang kulakukan tidak sesuai dengan keinginannya.
"Ya ampun, miskin aja sok-sokan nyuci pake mesin cuci. Enak banget kamu, ya! Cuci pake tangan! Udah numpang, mau enak-enakan pula!" sungut Bu Sukma sambil mengeluarkan baju-baju dari mesin cuci.
Aku coba sabar, aku memang cuma numpang disini. Aku harus bersyukur Mbak Mira dan suaminya menerimaku tinggal disini dengan baik. Tapi apakah pantas aku diperlakukan seperti ini?
__ADS_1
Selesai mencuci, terdengar suara dari perutku sebagai alarm minta untuk di isi. Aku melangkah ke dapur untuk mengambil makanan disana. Ketika aku hendak menyendok nasi dari magic com, tiba-tiba datang Bu Sukma dengan kata-katanya bak jarum yang menusuk hati.
"Hmm… enak banget ya, makan tinggal makan. Nggak perlu mikir ngeluarin duit untuk belanja, udah ada semua. Tanpa capek-capek, tinggal menikmati," Aku langsung meletakkan sendok, lalu menutup kembali magic com. Tanpa menoleh ke arah suara tadi, aku beranjak setelah meletakkan piring di atas meja.
"Dasar anak kurang ajar! Orang tua ngomong malah ditinggal pergi. Ibumu nggak pernah mengajarkan sopan santun, ya?" Bu Sukma setengah berteriak, mungkin biar aku tetap bisa mendengar kata-katanya yang seperti belati mengiris-iris hatiku. Aku tetap melenggang meninggalkannya.
Aku masuk ke kamar, ku tangkupkan wajah di atas bantal, ku tumpahkan semua rasa sakit, sedih dan semua yang terpendam di dalam dada. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.
Kenapa Tuhan begitu kejam padaku? Kenapa DIA membiarkanku hidup sendiri di dunia ini? Kepada siapa aku harus mengadu? Kepada siapa aku harus berbagi rasa sakit ini? Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku juga? Berat sekali beban yang KAU berikan padaku, Tuhan.
Aku sedih, aku sakit, aku kecewa, aku marah. Entah sama siapa harus aku luapkan rasa yang begitu menyesakkan di dalam dada. Apa dosaku hingga aku harus menanggung semua ini?
Entah berapa lama aku menangis, hingga aku tertidur. Saat aku terbangun, kepalaku rasanya berat, berdenyut-denyut, sakit sekali, perut ku pun terasa perih, mungkin asam lambung ku naik karena belum makan siang, sementara jam sudah menunjukkan pukul 14.10.
Ku basuh wajahku, ku usap-usap mataku dengan kain basah, agar tidak terlalu nampak bengkak. Ku oleskan sedikit bedak, lalu aku melangkah keluar rumah. Aku ingin membeli roti untuk mengisi perut. Aku khawatir kalau aku makan nasi di rumah, Bu Sukma kembali marah dan memaki ku.
Tadi pagi waktu jalan sama Bu Sukma, aku melihat ada warung yang letaknya dekat dengan rumah Mbak Mira. Ku langkahkan kakiku kesana.
Sesampai di warung, aku membeli roti dan beberapa cemilan. Aku tidak memperhatikan sekeliling, aku hanya fokus dengan roti yang akan aku beli. Lalu aku dengar sebuah suara yang sepertinya tidak asing.
__ADS_1
Bersambung 😇
.