Penantian Winarsih

Penantian Winarsih
Episode 20


__ADS_3

Rasanya tubuhku seperti tak bertulang, lemas. Untuk apa lagi orang ini menghubungiku setelah apa yang sudah dia lakukan padaku? 


[Apa kabar, Dek? Kamu tinggal dimana sekarang? Gimana dengan anak kita? Ini Mas Roby, Dek!] pesan darinya seperti tidak terjadi apa-apa. Apa haknya menanyakan anakku? 


Aku abaikan saja pesan darinya, untuk apa dia kembali disaat aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Luka hatiku kembali menganga. Sungguh sakit, lebih sakit dari saat dia baru menghilang dari hidupku. 


Ting! 


Kembali pesan masuk. 


[Dek, maafin Mas, ya. Mas kangen sama kamu dan anak kita.] apa katanya? Kangen? 


Setelah dia menelantarkanku, dengan perut yang membesar dan sekarang dia kembali seolah tidak ada yang terjadi? Kemudian dengan beraninya mengatakan 'kangen'? Dadaku terasa panas, andai bajing*n itu ada di depanku akan ku tampar wajahnya.


Drrttt! Drrttt! Drrttt! 


Kini panggilan telepon yang terdengar, berkali-kali.


"Halo!" akhirnya ku angkat juga telpon dari Mas Roby. 


"Halo, Dek! Apa kabar? Ka–,"


"Apa kabar, kau bilang? Apa hak mu menanyakan kabarku setelah apa yang kau lakukan sama aku? Hah!? Untuk apa lagi kau muncul dalam kehidupanku? Buatku kau sudah mati!" teriakku, lalu ku putuskan sambungan telepon secara sepihak. Ku matikan hp agar Mas Roby tidak bisa menghubungiku. Dadaku naik turun karena penuh emosi. Kulihat Pita melotot padaku. Mungkin dia terkejut karena aku tiba-tiba teriak. 


"Win?" panggil Pita pelan. Aku memalingkan wajahku darinya.


"Kamu kenapa? Tadi kamu ngomong sama siapa?" tanya Pita. Aku hanya menggeleng, rasanya aku belum siap, aku hanya ingin sendiri sekarang. 

__ADS_1


Aku masuk ke kamar, lalu kubenamkan wajahku pada bantal. Rasanya aku seperti dipermainkan takdir. Baru saja aku bisa melupakannya, tapi kini ia datang lagi membuka kembali luka yang hampir kering. Dengan mudahnya ia datang mengoyak luka yang ia torehkan di hatiku. 


"Win, jalan-jalan yuk!" ajak Pita. Hari ini memang hari libur kami. "Aku memang nggak tau masalah kamu apa, Win, tapi aku tau cara mengusir rasa galau, walau cuma sesaat. Dari pada kamu nangis disini, mending kamu ikut aku. Yuk!" Pita menggoyang-goyang tubuhku. "ayok!" kini ia menarik tanganku, dengan terpaksa aku mengangkat wajahku dan menatal lekat wajah Pita. 


"Aku disini aja, Pit," aku berusaha menolak ajakan Pita. Tapi dia bukannya bergeming, ia malah makin kuat menarik tanganku, akhirnya aku hanya menurut saja. Saat sampai di depan, ternyata Genta sudah menunggu dengan mobilnya. 


Mobil pun melaju, aku tidak tahu Genta akan membawa kami kemana. Di mobil aku hanya diam saja, sesekali air mataku menetes. Genta dan Pita hanya sesekali terdengar terlibat pembicaraan. 


Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, Genta menghentikan mobil di sebuah cafe. Lalu kami masuk ke dalam cafe, Genta berjalan terlebih dahulu ke meja kasir, terlihat ia dan seorang perempuan yang duduk di kursi kasir ngobrol, entah apa yang mereka obrolin. Setelah itu Genta datang menyusul kami yang berjalan menuju pintu belakang. 


Setelah pintu dibuka, ternyata disana adalah ruangan terbuka dengan beberapa meja serta kursi. Terlihat beberapa pelanggan sedang asik ngobrol sambil menikmati pesanan mereka. Ada juga yang duduk sendiri dan asik dengan layar datar di tangannya. 


Genta terus saja berjalan melewati ruang terbuka tadi, dan kini sampailah kami di tempat ini. Sebuah lapangan kecil yang dikelilingi tembok, terdapat beberapa tongkat untuk memukul bola, dan tentu saja ada juga bola disana, bola kasti atau sejenisnya, aku pun tidak tahu bedanya. 


"Nih, keluarkan rasa kesalmu dengan memukul bola yang aku lempar. Mau sambil teriak juga boleh," Pita menyodorkan sebuah tongkat. Lalu ia mengambil jarak dariku, dan bersiap untuk melempar bola ke arahku. Sementara Genta, ia hanya berdiri menatapku. Entah apa yang dipikirkannya. 


Pita benar, disini aku bisa menumpahkan kekesalan ku. Untuk sementara hati ku lega, beban yang ada di pundakku seolah terlepas. Tubuhku memang capek, tapi hatiku lega. 


"Minumlah!" Genta memberikan minuman botol padaku, dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. 


"Makasih," ucapku, ku raih minuman itu lalu segera ku buka tutupnya dan langsung ku tenggak hingga tandas. 


Sekali lagi aku bersyukur pada Tuhan, aku dikelilingi orang-orang baik. Aku kehilangan satu orang yang tidak bertanggung jawab, tapi Tuhan menggantinya dengan banyak orang baik, yang peduli denganku. 


"Makasih ya, Pit, udah ngajak aku kesini. Kalau nggak, mungkin aku masih menangis sampe sekarang," ucapku. 


"Idih, yang ngajak kamu kesini siapa? Dia yang ngajak kesini, kalau bukan dia yang bujuk aku sih, mending tidur tadi di rumah. Capek nih badan."

__ADS_1


"Makasih ya Genta, kamu baik banget deh." ucapku pada Genta. Dia masih saja menatapku, tatapannya menurutku aneh, lain dari biasanya. 


"Lain kali, kalau kamu lagi ada masalah, lagi sedih, atau apalah yang tidak menyenangkan, jangan simpan sendiri. Kalau kamu mau nangis, jangan nangis sendirian, aku akan menemani kamu. Aku akan selalu ada untuk kamu saat kamu sedih dan terluka. Kalau kamu lupa pada ku saat kamu bahagia, aku nggak apa-apa, tapi aku nggak akan biarin kamu lupa padaku saat kamu sedih, karena aku akan tau kapan kamu sedih dan kapan kamu bahagia." aku mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Genta. Hatiku rasanya tersentuh dia mengatakan itu. Ada sesuatu yang bergerak di dalam hatiku. Entah apa. 


"Ehem ehem…." goda Pita. "aku baru tau loh, kalau aku punya sepupu seorang pujangga." sambungnya lagi. 


Bugh! 


Genta melempar bola pada Pita dan tepat kena kepalanya. 


"Auw! Sakit oi! Dasar, udah dibantuin malah nyakitin! Besok-besok nggak ku bantuin lagi," Pita merajuk pada Genta. Melihat tingkah laku mereka membuatku tertawa. 


"Nah, gitu dong, kalau kamu ketawa kan cantik, Win." ucap Genta. 


"Cantik apaan, masih juga cantikan aku," Pita memuji diri. Genta hanya mencibir. 


"Win, kalau boleh tau yang tadi nelfon kamu siapa sih? Pacar kamu ya?" tanya Pita. "kalau kamu mau cerita, Win, kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa," lanjut Pita. 


"Dia suamiku, Pit. Tepatnya mantan suami." jawabku, aku mencoba menahan air mata yang berusaha menjebol pertahananku. 


"Suami?" tanya Genta, sepertinya ia terkejut mendengar aku telah bersuami. "kamu udah nikah?" tanyanya lagi dengan tatapan tak percaya. 


"Sudah, Gen. Bahkan aku sudah punya anak." jawabku, kini air mataku tidak lagi dapat ku tahan. 


"Anak?" tanya Pita dan Genta berbarengan. 


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih untuk kakak semua udah setia menunggu. Semoga Tuhan beri kebaikan2 untuk kakak semua.


__ADS_2