Penantian Winarsih

Penantian Winarsih
Episode 19


__ADS_3

Kini tinggal aku dan laki-laki berkulit sawo matang itu di dalam ruangan. Ada sedikit rasa takut yang hinggap dalam pikiranku. Lelaki di hadapanku itu kini kembali menatap layar laptopnya. Aku merasa seperti orang hilang disini, bingung mau bicara apa, sementara laki-laki di hadapanku tidak memulai pembicaraan. 


*****


Suasana terasa sunyi, hanya hembusan nafas dari laki-laki di depanku yang sesekali terdengar, sementara aku mencoba bernafas tanpa terdengar suara hembusan nafas meski terasa sesak di dada.


"Nama kamu siapa?" Akhirnya suara laki-laki itu memecah keheningan. 


"Winarsih, Pak!" jawabku singkat. 


"Kamu melamar kerja kesini, coba sini saya lihat surat lamaran dan cv kamu," laki-laki itu meminta sesuatu yang tidak ku buat. 


"Ma– maaf, Pak! Saya nggak bawa. Tadi saya hanya kebetulan lihat ketika saya sedang makan bakso disini, Pak." jawabku sedikit terbata. Laki-laki di depanku mengangguk-anggukan kepalanya. 


"Baiklah, kalau begitu, ini sekarang kamu isi dulu." perintah lelaki yang bahkan namanya pun aku belum tahu, sambil menyerahkan selembar kertas dan pena. 


l


Setelah aku mengisi semua data yang diminta, aku pun menyerahkan kembali kertas yang telah berisi data pribadi ku, pada lelaki yang memiliki wajah tampan di depanku. Dia pun memeriksa data ku, dia nampak mengerutkan keningnya. 


"Alamat kamu di daerah Semilir?" tanyanya, matanya beralih menatapku. Ia menyebut alamat Mbak Mira, aku memang mengisi alamat ku dengan alamat Mbak Mira. 


"I– iya, Pak!" Tatapannya yang seperti menyelidik, membuatku sedikit gugup. 


"Disini kamu tinggal dimana?" 

__ADS_1


"Saya belum tau, Pak. Saya masih akan mencari tempat tinggal, saya baru di kota ini tadi siang pak." jelasku. 


"Kalau begitu, kamu lebih baik tinggal disini. Disini ada tiga orang karyawan yang tinggal. Mereka juga berasal dari luar kota. Paling tidak untuk sementara, kalau kamu nanti nggak nyaman tinggal disini, kamu boleh cari kontrakan." ujarnya, "besok kamu mulai kerja, tugas kamu adalah membantu memasak makanan untuk semua karyawan disini, nanti biar Bu Tika yang membimbing kamu. Kalau masalah gaji, tadi kamu udah lihat, kan disini? Kamu setuju dengan penawaran saya?" lanjutnya lagi.


"Kalau masalah gaji, saya sudah cocok Pak, menurut saya, untuk sekarang itu cukup. Kalau begitu, saya sudah boleh pulang, Pak?" tanyaku pelan. Sebenarnya masalah gaji tadi, aku kurang memperhatikannya, aku hanya fokus pada yang harus aku isi tanpa membaca hal lainnya. Aduh… cerobohnya aku! Pikirku. 


"Boleh, kamu juga boleh langsung nginap disini malam ini."


"Maaf, Pak, kalau boleh, saya kesini besok pagi aja, Pak, karena saya masih harus beresin barang-barang saya dulu." jawabku memberi alasan. 


"Baiklah, kalau begitu kamu boleh pulang sekarang. Besok kamu boleh kembali kesini." jawabnya ramah. Sangat berbeda dengan kesan pertama tadi saat aku baru melihatnya, kesannya dingin dan cuek, tapi ternyata bos ku itu sosok yang ramah. 


"Maaf, Pak, saya harus panggil Pak apa, ya Pak?" tanyaku memberanikan diri.


"Oh iya, maaf! Nama saya Aditya Nugroho, biasa di panggil Adit." jawabnya ramah. 


*****


Keesokan harinya aku mulai kerja di tempat penjualan bakso, tugasku adalah membantu Bu Tika memasak makanan untuk makan siang para karyawan yang bekerja disana. Selain itu, aku juga bertugas untuk belanja kebutuhan dapur serta bahan-bahan untuk membuat bakso. 


Karyawannya yang lumayan banyak. Membuat yang kami masak akan sangat banyak untuk setiap harinya. Selain yang bekerja melayani pembeli di ruko itu, ternyata juga ada beberapa orang yang harus berjualan dengan membawa gerobak. Nanti mereka akan mangkal di tempat-tempat tertentu. Dan mereka akan dibekali makan siang yang mereka bawa sebelum mereka berangkat dengan gerobaknya. Setiap karyawan diberi sehari waktu libur secara bergantian dalam satu minggu. 


Dari teman-teman yang terlebih dahulu bekerja disini, aku mengetahui bahwa Pak Adit adalah orang yang sangat baik dan perhatian pada anak buahnya. 


*****

__ADS_1


Sudah beberapa bulan aku bekerja di tempat ini. Kesibukanku membuatku cepat melupakan kesedihan dan kerinduanku pada Bening. Walau terkadang saat menjelang tidur rindu itu terasa begitu berat, namun akan hilang seiring dengan rasa lelah dan kantuk yang mengusik mata. 


Sesekali aku berkirim pesan dengan Mbak Mira untuk sekedar menanyakan kabar dari Bening. Sesekali aku melihat foto Bening lewat postingan Mbak Mira di sosial media miliknya. Sepertinya ia tumbuh dengan semestinya, anakku begitu cantik dan ceria, terlihat dari senyum dan tawanya di foto dan juga video yang di unggah Mbak Mira. Sepertinya keluarga angkatnya sangat menyayanginya. 


Sudah setahun lebih aku tidak juga pernah berkunjung kesana, walau jarak perjalanan dari kota ke daerah tempat Mbak Mira tinggal hanya sekitar tiga jam, namun aku belum ada niat untuk kesana untuk melihat Bening. Aku takut semakin sering bertemu anakku, aku akan semakin sulit untuk lepas dari nya dan tentu saja rasa sayangku akan semakin besar padanya. 


Bahkan saat ulang tahun Bening yang pertama, aku hanya mengucapkan selamat ulang tahun lewat pesan pada aplikasi hijau. Tidak memberi kado, atau sekedar video call. Hanya doa-doa yang selalu kupanjatkan untuknya, semoga Tuhan selalu melindungi dan menjaganya, serta menjadikannya jadi anak yang berguna bagi banyak orang. 


Sebenarnya saat mengingat Bening, ada rasa nyeri di dadaku. Tak bisa di pungkiri jauh di dalam hatiku, aku sangat menyayangi anakku, tapi karena keadaan membuatku harus merelakan untuk berpisah dengannya. Aku  berharap suatu saat dia jadi anak yang kuat, aku tidak berharap dia akan mengakuiku sebagai ibunya, aku hanya ingin bisa memeluknya suatu saat nanti. Aku sadar kalau aku bukanlah seorang ibu, meski aku telah melahirkan tapi aku tidak mengurus anak ku, apakah itu bisa disebut ibu? Seorang ibu adalah wanita yang bisa merawat dan mendidik anaknya sebaik mungkin, sementara aku? 


Sesekali aku menceritakan kehidupanku disini pada Mbak Mira, dan ia juga sesekali menasehatiku untuk lebih hati-hati dalam bergaul, terutama jika berkaitan dengan lawan jenis. 


Saat ini aku memang lagi dekat dengan seorang pria, yang bernama Genta. Aku mengenalnya lewat temanku, Pita, yang juga bekerja di tempat yang sama denganku. Genta merupakan sepupu dari Pita. Aku dan Genta baru sebatas teman curhat. Tapi Pita mengatakan kalau Genta menyukaiku, hanya saja dia belum berani mengungkapkan perasaannya. 


Sejak Pita mengatakan bahwa Genta punya perasaan pada ku, aku sedikit menjaga jarak dengannya. Bukan karena aku tak suka padanya, tapi selain rasa takut yang masih bercokol di dalam hati, aku juga sadar diri yang hanya seorang janda dan tidak berpendidikan. Sementara Genta, dia masih lajang dan seorang mahasiswa. Dari segi apapun, aku merasa tidak cocok dengannya. Mungkin saja dia menyukaiku karena belum tahu masa lalu dan status janda yang ku sandang. Aku memang sedikit tertutup tentang masalah pribadiku. 


"Win, kamu ditanyain terus tuh sama si Genta," kata Pita, saat kami lagi santai sambil nonton tv.


"Ditanyain apa?" tanyaku dengan mata tetap menatap ke tv. 


"Nanyain kenapa kamu nggak mau balas pesan dari dia, katanya dia kangen sama kamu, Win! Kamu marah sama Genta? " Aku tidak berani melihat wajah Pita. "dia beneran suka sama kamu, Win," sambung Pita lagi saat aku masih bingung untuk menjawab pertanyaannya. 


"Nggak, kok. Nggak ada alasan aku marah sama Genta, Pit. Aku cuma agak capek aja belakangan ini." ucapku sedikit berbohong. 


Ting! 

__ADS_1


Terdengar hp ku berbunyi pertanda pesan masuk, di sela-sela pembicaraanku dan Pita.Lalu ku raih hp dan ku tekan tombol di samping kanannya untuk mengaktifkan layar hp, lalu ku usap layarnya untuk melihat pesan yang masuk. Tubuhku terasa panas dingin saat mengetahui siapa yang mengirim pesan itu. Untuk apa lagi dia menghubungiku? 


__ADS_2