
Ketika aku sedang menyusuinya, tiba-tiba aku seperti kesurupan mencubit anakku, bahkan hampir aku membantingnya. Untung saat itu Bu Sukma langsung datang karena mendengar jeritan tangis Bening akibat dari cubitanku, dan tepat di saat bersamaan Mbak Mira sudah pulang dari mini market.
"Astaga, Tuhan! Win, apa yang kamu lakukan?" Teriak Mbak Mira yang langsung mengambil Bening dari pangkuanku. Belanjaannya dilempar begitu saja di depan pintu.
Tangisan Bening terdengar menyayat hati. Mbak Mira sedang menenangkannya, sementara Bu Sukma memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku, aku menangis di pelukannya.
Ya Tuhan, apa yang ku lakukan pada anakku? Hampir saja nyawa Bening melayang di tanganku. Kini rasa sesal menggelayut di dada. 'Terima kasih Tuhan, Engkau masih menyelamatkan nyawa anakku dari tanganku.' batinku.
*****
Sejak saat itu Mbak Mira tidak lagi membiarkanku berdua saja dengan Bening. Mereka selalu mengawasiku, mereka khawatir terjadi lagi hal yang membahayakan nyawa Bening.
Dua bulan sudah usia Bening, tapi Mbak Mira belum juga mengizinkanku untuk pergi.
"Kasihan Bening, Win!" kata Mbak Mira saat aku mengutarakan lagi niat ku untuk pergi.
"Aku yakin, disini Bening nggak akan kekurangan apapun, Mbak. Kalau aku disini malah bisa membahayakan dia. Aku janji, Mbak, kalau aku udah siap, aku pasti akan datang." terangku. Berharap Mbak Mira mengerti. "Mbak lihat sendiri gimana kemarin tanpa sadar aku hampir menghilangkan Nyawa Bening, Mbak," lanjutku. Kini rasa perih mengingat kejadian itu kembali menyiksa. Mbak Mira menatapku.
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Win?" Mbak Mira meyakinkan ku. Aku mengangguk yakin.
"kalau kamu ngotot, ya sudah, pergilah. Tapi kamu harus janji, kamu harus kasih kabar." pinta Mbak Mira. "rencana kamu mau kemana?" tanya Mbak Mira.
"Ke kota, Mbak. Ada temanku disana yang menawariku pekerjaan." jawabku.
"Yakin temanmu itu baik? Jangan terlalu mudah percaya sama orang, Win. Apalagi kamu perempuan, di sana nggak ada keluarga. Takutnya ada yang berniat jahat sama kamu." nasehat Mbak Mira.
"Yakin, Mbak,"
Sama halnya saat aku memutuskan tentang menyerahkan hak asuh anak ku pada Mbak Mira, kini aku juga memiliki keyakinan untuk pergi dari sini. Meski sebenarnya aku belum tahu pekerjaan apa yang bakal aku dapat nanti.
Sebenarnya aku bohong satu hal sama Mbak Mira, yaitu tentang teman dan pekerjaanku. Saat itu memang ada yang menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, namun saat aku mencari tahu tentangnya lewat sosial media miliknya, aku menjadi ragu. Status-status yang dia buat di media sosialnya seperti sengaja menarik perhatian perempuan-perempun, membuatku memutuskan untuk tidak mau terlibat dengan orang itu.
__ADS_1
"Makasih banyak ya, Bu, udah banyak bantu aku." ucapku pada Bu Sukma, sebelum aku berangkat ke kota.
"Harusnya ibu yang makasih sama kamu, Win! Makasih karena kamu udah ngasih ibu cucu yang cantik," ucap Bu Sukma dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu harus balik kesini lagi, Win. Sekarang kita adalah keluarga. Kalau ada apa-apa juga kamu harus kabari kami." Lalu Bu Sukma merentangkan kedua tangannya hendak memelukku dan aku pun menghambur ke pelukannya. Bu Sukma mencium pipiku dan mengelus-elus rambutku. Aku sungguh bahagia kini.
Setelah itu aku juga mengucapkan terima kasih pada Mbak Mira dan Mas Dewa, aku sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.
Sebelum aku masuk ke dalam mobil, aku terlebih dulu memeluk dan menciumi wajah Bening. Terasa berat meninggalkannya, dadaku rasanya sesak. Ini kah rasanya seorang ibu? Maafkan aku, Nak, karena harus meninggalkanmu. Bahkan aku merasa tidak pantas untuk kau panggil mama. Batinku. Aku berusaha kuat tapi aku tetap tidak mampu menahan air mata untuk tidak keluar. "Aku akan selalu berdoa untukmu, Nak." gumamku dekat dengan telinganya. Lalu aku menyerahkannya ke pangkuan Bu Sukma
Akhirnya aku pun berangkat ke kota. Mbak Mira dan Mas Dewa mengantarkanku ke loket. Sementara Bu Sukma dan Bening tinggal di rumah. Awalnya Bu Sukma meminta Mas Dewa dan Mbak Mira untuk mengantarku sampai di kota. Namun, aku menolaknya. Aku tidak ingin mereka mengetahui bahwa sebenarnya aku belum tahu akan bekerja apa nanti di kota.
Setelah sampai di kota, aku mencari penginapan. Letak penginapan itu di pusat kota. Di sekelilingnya banyak toko-toko pakaian dan juga beberapa rumah makan. Di pinggir jalan banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam barang. Aku berencana setelah istirahat nanti, akan melihat-lihat sekeliling sini.
Untuk kebutuhan sebulan ke depan cukuplah atau bahkan lebih, dari sisa tabungan di tambah lagi kiriman dari Mbak Tri hasil penjualan barang-barangku yang ada disana. Biaya lahiran kemarin di tanggung Mas Dewa dan Mbak Mira, bahkan semua kebutuhan Bening saat baru lahir pun mereka yang memenuhi.
Sambil mencari pekerjaan, aku rasa uang yang ku punya masih cukup untuk bayar kontrakan nanti dan kebutuhan sehari-hari. Aku memasukan tas berisi pakaian ke dalam kamar, tak lupa aku mengunci pintu. Lalu kubaringkan tubuhku diatas kasur yang empuk.
Sore harinya, sekitar pukul empat, aku keluar dari penginapan. Perut sudah dari tadi keroncongan, minta di isi karena tadi siang tidak makan.
Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan sambil melihat ke kiri kanan jalan. Saat sedang melangkah aku mencium aroma bakso yang seketika membuatku menelan air liur, aromanya enak sekali. Ternyata aroma itu datang dari sebuah ruko, aku pun masuk ke ruko tersebut lalu duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Pengunjungnya lumayan ramai. Aku memesan satu porsi bakso, lalu tak lama kemudian pesanan ku datang.
Saat aku sedang menikmati bakso pesanan ku, aku melihat karyawan dari penjual bakso itu menempel kertas pada etalase yang terletak persis di sebelah pintu masuk.
"Mbak, numpang tanya, itu yang di tempel mas itu apa ya, Mbak?" tanyaku pada seorang gadis yang juga bekerja di warung bakso itu.
"Itu, Mbak, lowongan, Mbak," jawab gadis berkerudung itu.
"Disini lagi ada lowongan, Mbak?" tanyaku semangat.
"Iya, Mbak," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Oh… makasih ya, Mbak!"
"Sama-sama, mari, Mbak." Dia tersenyum sebelum berlalu.
Sambil menikmati bakso kembali, aku berpikir, apa sebaiknya aku melamar kerja disini saja? Mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan. Pikirku. Segera ku habiskan bakso dalam mangkok di hadapanku, lalu aku bergegas ke meja kasir.
"Mbak, mau tanya soal lowongan itu. Gimana cara masukin lamarannya, Mbak?" tanyaku pada kasir itu, setelah selesai aku membayar pesananku.
"Mbak mau melamar?" Aku mengangguk.
"Kalau gitu langsung aja tanya langsung sama bos, Mbak. Mari saya antar." Gadis itu lalu mendahuluiku dan aku mengekor di belakangnya.
Dia membawaku menaiki tangga, di lantai dua bangunan ini terdapat dua ruangan.
Tok! Tok! Tok!
Gadis itu mengetuk pintu ruangan yang paling dekat dengan tangga.
"Masuk!" Suara pria dari dalam, menyuruh kami masuk.
Lalu kami pun masuk. Di dalam ruangan seorang lelaki berumur sekitar tiga puluh tahun sedang duduk menatap layar laptop di hadapannya. Entah apa yang dilihatnya disana.
"Ada apa, Lis?" tanya pria itu pada gadis yang mengantarku.
"Ini, Pak, ada yang mau melamar, Pak!" Laki-laki itu menoleh ke arahku.
"Silahkan duduk," suruhnya. Aku pun melangkah ke kursi yang ditunjuknya, lalu duduk disana.
"Kamu boleh keluar." Gadis itu pun pergi keluar.
Kini tinggal aku dan laki-laki berkulit sawo matang itu di dalam ruangan. Ada sedikit rasa takut yang hinggap dalam pikiranku. Lelaki di hadapanku itu kini kembali menatap layar laptopnya. Aku merasa seperti orang hilang disini, bingung mau bicara apa, sementara laki-laki di hadapanku tidak memulai pembicaraan.
__ADS_1
Bersambung...