Penantian Winarsih

Penantian Winarsih
Ide Mbak Hanyk 2


__ADS_3

"Kalau Mbak nggak bisa bantu Winar,  ya sudah! Jangan ngasih solusi yang nggak masuk akal! Dasar gil*! Nggak punya hati!  Nyesal aku bawa Winar kesini." omel Mbak Tri. Mbak Tri tidak dapat menahan emosinya. 


"Ayok! Kita pulang!" Mbak Tri menarik tanganku. 


"Kok jadi situ yang kebakaran jenggot,  sih!  Si Winarnya aja diam, kok situ yang marah!" Sepertinya Mbak Hanyk tidak terima Mbak Tri mengajakku pulang. Mbak Tri membalikan badannya yang akan keluar dari pintu. 


"Situ yang nggak mikir!  Kamu nggak punya ot*k! Kok anak kayak kue aja,  asal kasih sama orang!" Emosi Mbak Tri, aku masih menangis dalam diam, air mataku terus bercucuran. Aku nggak tahu harus ngomong apa. Sementara Mbak Tri dan Mbak Hanyk masih saling teriak. 


"Ini anak kamu aja kasih sama orang,  jangan anak orang mau seenak muncungmu kau kasih orang!" sungut Mbak Tri ketika melihat anak Mbak Hanyk yang berumur empat tahun,  di halaman rumahnya saat kami mau masuk ke dalam mobil, sepertinya anak itu baru pulang dari bermain. Sementara mulut Mbak Hanyk terlihat komat kamit sambil melirik Mbak Tri dengan tatapan mengejek. 


Kami Pun meninggalkan kediaman Mas Joko dengan hati dongkol. Kami pun sibuk dengan pikiran kami masing-masing,  tidak ada yang bicara. Hanya isakan tangisku yang sesekali terdengar beradu dengan suara deru kendaraan. 


"Sudah,  Win! Jangan terlalu di pikirkan omongan orang gil* itu." Mbak Tri menenangkanku. Mungkin ia tidak tega mendengar isakan ku sepanjang perjalanan.


"Nanti kita cari sama-sama jalan keluarnya. Kamu sabar, ya! Ada kami yang akan bantu kamu." ucap Mbak Tri makin membuatku terisak. Bagaimana mungkin orang lain malah lebih peduli padaku dibanding keluarga suamiku sendiri? 

__ADS_1


Mungkin karena kecapekan,  akhirnya aku tertidur di mobil. Saat terbangun,  ternyata kami sudah sampai di rumah orang tua Mbak Tri. Setelah mengembalikan mobil bapak Mbak Tri, kami langsung pulang dengan berjalan kaki, karena rumah orang tua Mbak Tri tidak jauh dari kontrakan kami.  Lea pun ikut pulang. 


"Win, kamu pasti lapar kan?  Tadi di rumah kakak iparmu, jangankan di kasih makan,  minum aja nggak di kasih." tanya Mbak Tri ketika kami sudah sampai di depan kontrakan.  Mbak Tri sewot lagi,  mungkin mengingat kejadian tadi. 


"Ke rumahku aja dulu yok, tadi sebelum kita berangkat, aku masak dulu tadi." Tanpa menunggu jawabanku,  Mbak Tri sudah menarik tanganku sampai di rumahnya.  


"Nggak usah, Mbak! Aku nggak lapar,  aku pengen tidur." jawabku, berusaha melepaskan pegangan Mbak Tri. Namun Mbak Tri tetap memaksa. Akhirnya aku pun ikut makan di rumah Mbak Tri. 


Setelah selesai makan dan membantu Mbak Tri membersihkan piring-piring kotor, bekas kami makan, aku langsung pulang. Aku langsung membaringkan tubuhku yang rasanya sangat capek. 


Ku pejamkan mata, ku tarik nafas kuat lalu ku buang perlahan. Terasa kepalaku berdenyut, nyeri sekali. Ku tenangkan hati,  kalau semua pasti ada jalan keluar. Tapi bukannya tenang, hatiku malah semakin kalut. Pikiranku semakin liar membayangkan hal-hal buruk terjadi padaku dan anakku kelak. Kalau aku kerja,  siapa yang menjaga anakku? 


'Ku serahkan semua ke dalam tanganMU ya Tuhan. Aku harus bagaimana? Kemana aku harus mencari suamiku? Bagaimana dengan anak ini?' Lirihku dalam doaku. Air mataku tiada hentinya mengalir. 


****

__ADS_1


"Kenapa wajahmu sembab gitu, Win? Kamu jangan nangis terus, Win. Kasihan anak kamu kalau kamu sedih-sedih terus." ujar Mbak Tri ketika kami bertemu di depan rumah saat aku menyapu teras rumah dan Mbak Tri hendak keluar untuk belanja.


"Iya, Win! Orang hamil itu nggak boleh sedih-sedih,  harus senang biar anaknya nanti bawaannya ceria nggak suka murung." tiba-tiba Bu Fatma tetangga sebelah rumah Mbak Tri menyahut. Entah sejak kapan dia ada disana. Aku hanya tersenyum saja menanggapi mereka. 


"Ibu mau belanja ya, bareng yuk!" ajak Mbak Tri. 


"Ayok … kamu nggak ikut, Win? Ikut yuk,  biar nggak makin suntuk di rumah terus."


"Nggak deh, Bu! Malu saya keluar dengan mata bengkak gini. Lagian masih ada stok di kulkas." Aku menolak ajakan Bu Fatma. 


Setelah Bu Fatma dan Mbak Tri pergi,  aku pun masuk. Aku duduk di sofa lalu menyalakan tv, seperti biasa pagi-pagi siaran tv selalu menyuguhkan acara gosip para selebriti. Meski tv menyala tapi pikiranku entah kemana. 


Entah mengapa kini rasa rindu yang kurasakan untuk Mas Roby, sepertinya telah berubah menjadi benci. Sakit hati kini ku rasa, terlintas dipikiranku untuk membalas perbuatan Mas Roby yang sampai kini belum ada kabar. Sebelum dia pergi,  sepertinya dia memang sudah berniat membohongiku. Buktinya dia pergi dengan alasan mau kerja,  tapi nyatanya temannya bilang dia sudah tidak bekerja disana.


Sepertinya yang diucapkan Mbak Hanyk ada benarnya. Anak ini lebih baik aku berikan pada orang lain. Pelan-pelan beban berat yang kurasakan belakangan ini lambat laun terangkat. Tapi aku kasih pada siapa anak ini? Tentu saja bukan Mas Rusdi orangnya. Aku tahu suatu saat Mas Roby pasti akan kembali,  dia pasti ingin ketemu sama anaknya. Dan aku tidak akan membiarkan itu. Aku tidak akan membiarkan Mas Roby bertemu dengan anak ini, setelah dia menelantarkan kami. 

__ADS_1


Lihatlah Mas, kau tidak akan pernah bisa bertemu anakmu! Itu akibatnya karena kau menyakitiku. 


__ADS_2