
"Kamu udah punya suami?" Terlihat wajah Genta sedikit murung, mungkin benar kata Pita, bahwa Genta punya rasa padaku.
"Iya, aku sudah menikah."
"Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan." Pita tiba-tiba bernyanyi membuat Genta melotot padanya. Namun Pita pura-pura tidak tahu.
"Sakit memang sakit jika cinta bertepuk sebelah tangan, namun lebih sakit lagi jika melihat kau terluka." ejek Pita seperti sedang membaca puisi, sambil matanya melirik Genta.
"Udah deh, nggak usah serius banget, ntar tambah sakit itu hati. Sampai segitunya pelototin aku, jangan sampe keluar itu mata," ucap Pita karena Genta terus saja menatapnya dengan bola mata yang membesar.
"Terus kenapa tadi kamu sampai nangis?" tanya Genta, setelah Pita tidak lagi mengeluarkan suara. "dia suami atau mantan?"
"Secara hukum dia masih suamiku."
"Hilang sudah ha–"
"Bisa diam, nggak! Berisik!" bentak Genta memotong bualan Pita. Tapi bentakan Genta malah membuat sepupunya itu tertawa cekikikan.
"Tenang, Bro. Aku tau rasanya patah hati, tapi kamu harus kuat. Kadang yang kita inginkan tak harus kita dapatkan" setelah Pita puas tertawa, ia mendekati Genta, lalu duduk tepat di sampingnya dan menepuk-nepuk punggung sepupunya itu, mungkin ia ingin memberi penguatan pada laki-laki berkacamata itu.
"Apa yang laki-laki itu lakukan sampai kamu menangis?" rahang Genta terlihat mengeras, seperti sedang menahan emosi. Mungkinkah dia emosi melihatku terluka?
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Terdengar seperti getaran hp. Kami melihat hp kami masing-masing, ternyata yang berbunyi adalah hp Pita.
"Halo!"
"Oh, iya. Baiklah, saya kesana, Pak." terdengar suara Pita menjawab orang yang menelponnya.
"Aku pulang duluan ya, Bos nyuruh aku gantiin Risa, dia lagi sakit katanya. Nomor kamu nggak aktif ya? Nggak apa ya aku duluan." ucap Pita setelah selesai menerima telepon. Aku melihat hp di tanganku, aku baru ingat tadi hp memang ku matikan ketika Mas Roby meneleponku.
"Bareng aja, yuk!" ajakku. Aku pun hendak beranjak dari duduk.
"Oh, tidak tidak tidak, kamu disini aja sama Genta, kamu lagi kacau. Biar Genta menghiburmu," Pita menarikku supaya tidak beranjak dari duduk. "Sepupuku tersayang, tolong kau jagalah temanku ini, aku hendak undur diri," Pita menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menundukkan kepalanya dan berjalan mundur. Ada saja tingkahnya yang membuatku tersenyum.
__ADS_1
"Dasar, koplak!" Genta melempar bola ke arah Pita, Pita pun lari menghindari lemparan Genta.
Kini tinggal aku dan Genta, diam tak bersuara. Aku tidak tahu harus bicara apa, Genta menunduk. Ia terlihat memainkan hp di tangannya.
"Gen, kita pulang aja, yuk!" ajakku setelah beberapa menit kami hanya diam saja.
"Aku masih pengen disini, Win, sama kamu." ujarnya, ia menatapku. Tatapannya membuat sesuatu di dalam dadaku bergetar, matanya sendu seperti minta di kasihani. Mata kami sesaat saling beradu.
"Win, apa kamu nggak pengen cerita sama ku tentang kehidupanmu, sebelum bertemu denganku?" pertanyaan Genta seperti sebuah permintaan yang tidak bisa ditolak, buatku. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kamu mau tau yang mana?"
"Semuanya," ujarnya, dia masih terus menatapku, membuatku salah tingkah.
"Tanya aja, aku nggak tau harus cerita darimana," pintaku.
"Suamimu, dia sekarang dimana?" aku hanya menggeleng.
"Maksudnya?" tanyanya cepat, seakan tidak sabar menunggu jawabanku.
"Kok bisa?"
"Dia pergi ninggalin aku, saat aku sedang mengandung, dan tadi dia menghubungiku lagi setelah lebih dari setahun pergi tanpa kabar."
"Hah!? Serius?" Genta seperti tidak terima dengan yang terjadi denganku.
Lalu aku pun menceritakan semua, mulai dari Mas Roby pergi sampai anakku yang saat ini di asuh oleh Mbak Mira. Saat menceritakan tentang Mas Roby sudah tidak ada air mata lagi yang keluar dari netraku, namun saat aku menceritakan tentang Bening, aku tak kuasa menahannya. Ada rasa rindu yang sangat dalam ku rasakan.
Sesekali terdengar suara cacian dari mulut Genta di sela-sela ceritaku. Mungkin dia geram atas apa yang menimpaku, seakan ia juga ikut merasakan apa yang ku rasa saat itu. Sekarang aku sudah merasa tenang, saat aku menceritakan semua pada Genta, tidak ada lagi rasa sakit di hatiku.
Tidak bisa ku pungkiri, saat aku bersama Genta, ada ketenangan yang ku rasakan namun aku berusaha menepisnya. Sikapnya yang dingin tapi perhatian membuatku sedikit menyimpan rasa padanya, meski aku sadar aku hanya akan memendamnya karena status yang ku sandang saat ini.
Kerrrr…
Tiba-tiba terdengar suara dari perutku, aku memang sejak tadi merasakan lapar tapi karena merasa tidak enak pada Genta, makanya aku tidak mengatakan padanya. Ku lihat Genta berdiri.
__ADS_1
"Yuk, kita cari makan," ajak Genta, dia mengulurkan tangannya padaku dan aku menyambutnya, lalu Genta menarik tanganku supaya aku juga berdiri. "kamu pengen makan apa?" tanyanya kemudian.
"Terserah kamu aja," jawabku. Genta melangkah, ia tidak melepaskan tanganku dari genggamannya, aku berusaha mengimbangi langkahnya yang panjang. Genta mengajakku keluar dari tempat itu.
"Kenapa nggak makan disini aja?" tanyaku saat kami telah keluar dari cafe.
"Aku kurang suka makanan disini. Kita makan di tempat lain aja." jawabnya, ia membukakan pintu mobil untukku, itu membuatku merasa diperlakukan istimewa.
"Fokus nyetir dong, Gen, bahaya!" ucapku, mengingatkan Genta yang menyetir sambil sesekali memainkan hp nya. Entah apa yang dilakukannya dengan ponsel pintarnya itu.
Setelah sekitar sepuluh menit kami dalam perjalanan, akhirnya Genta memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan seafood. Genta seperti tergesa-gesa keluar dari mobilnya, ternyata ia ingin segera membuka pintu mobil untukku. Lalu Genta meraih tanganku dan menggandeng ku masuk ke dalam rumah makan tersebut. Lalu kami duduk di tempat yang di mejanya ada angka enam belas.
Kami baru duduk di kursi, seorang pelayan telah datang membawa dua gelas minuman dan meletakkannya di hadapan kami. Di hadapanku ada jus jeruk hangat, sementara di depan Genta ada jus sirsak dingin.
"Ini pesanan siapa?" tanyaku heran pada pelayan.
"Pesanan atas nama Pak Genta, Bu." jawab gadis yang ku perkirakan usianya hampir sama denganku itu. Aku menoleh pada Genta yang tersenyum.
"Minum aja," suruhnya. "kamu suka jus jeruk hangat, kan?" aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Aku heran, dari mana Genta tahu minuman kesukaanku? Apakah dia menanyakannya ada Pita?
Aku dan Genta belum pernah keluar, jika kami bertemu hanya di rumah saja. Tapi Genta seolah sudah sangat mengenalku. Aku semakin tersanjung dibuatnya.
Tidak lama kemudian datang pelayan yang lain dengan membawa menu makanan, ada gurame goreng saus padang, cumi goreng tepung dengan sausnya, dan juga kepiting dengan ukuran besar. Semua makanan di atas meja begitu menggiurkan membuatku menelan air liur. Ternyata Genta telah memesannya tadi ketika kami dalam perjalanan.
"Ayo, dimakan. Nggak usah malu, harus habis." Genta terlihat makan dengan lahap, sementara aku bingung mau makan yang mana, pengen semua soalnya hehehe.
"Ini, aa… ." Genta hendak menyuapi ku.
"Nggak usah, aku bisa makan sendiri." ucapku sungkan, lalu aku memotong ikan gurame lalu melahapnya dengan nasi. Akhirnya rasa sungkan yang tadi hadir, kini hilang dengan nikmatnya hidangan di depan mata, tak terasa semua makanan yang terhidang telah berpindah tempat, kini tinggal tulang belulang ikan yang tersisa di atas meja. Perut sudah terisi dengan penuh.
"Win, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Genta setelah kami selesai makan.
"Tanya apa?"
"Kalau suamimu datang dan minta kembali sama kamu, gimana?" tanyanya. Aku terdiam, apa yang harus ku jawab dengan pertanyaan itu?
__ADS_1
Bersambung...