
"Winarsih?" Ia memanggilku, sepertinya ia terkejut melihatku datang.
"Tumben kamu datang kesini, Win? Ada apa?" tanya Mbak Hanik menyelidik, padahal kami baru juga keluar dari mobil. Mbak Hanyk seperti tidak suka dengan kedatanganku.
"Mau ketemu Mas Joko, Mbak. Masnya ada?" tanyaku tanpa basa basi.
"Ada tuh di belakang. Bentar Mbak panggil dulu." ujarnya seraya berlalu tanpa mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Begitulah, kakak iparku itu memang sedikit cuek. Bahkan, terkadang aku merasa Mbak Hanyk tidak menyukaiku.
"Ehh … Win, kenapa disitu? Ayok masuk!" pinta Mas Joko tidak lama setelah Mbak Hanyk pergi ke belakang. Lalu kami pun masuk, setelah Mas Joko mempersilahkan kami masuk.
"Silahkan duduk, Mas, Mbak!" Setelah masuk, kami dipersilahkan duduk oleh Mas Joko. Sementara Mbak Hanyk tidak terlihat lagi batang hidungnya.
"Ada apa, Win? Tumben kesini, udah ada kabar dari Robby?" tanya Mas Joko setelah kami duduk. Pertanyaannya membuatku merasa sedikit sungkan menanyakan soal suamiku yang tak kunjung pulang.
"Belum ada, Mas! Itulah maksud kedatanganku kesini, Mas." Aku menghela nafas sesaat, membuang sedikit sesak di dada. Sebenarnya aku tidak yakin, keluarga dari suamiku ini bisa menolongku. Apalagi setelah melihat sikap Mbak Hanyk tadi, semakin membuatku ragu. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus tetap mencoba, karena merekalah keluarga Mas Robby satu-satunya.
Aku bingung bagaimana cara menyampaikan maksudku pada Mas Joko. Bagaimana cara memulainya? Hatiku kembali ciut.
"Kenapa, Win? Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Mas Joko seakan tidak sabar.
__ADS_1
"Hmm … gimana ya, Mas, aku–"
"Gini, Mas, inikan si Winar bentar lagi mau lahiran, sementara si Roby nggak tau kemana rimbanya. Jadi, bagusnya kan keluarganya yang harus turut tanggung jawab." potong Mbak Tri, mungkin dia tau kebingunganku.
"Maaf, Mas! Bukan bermaksud ikut campur. Saya cuma kasihan sama Winar." Sambungnya lagi.
"Maksudnya tanggung jawab gimana ya?" Tiba-tiba Mbak Hanyk nongol dari balik pintu penghubung ruang tamu dengan ruang keluarga. Kami saling pandang, bergantian.
"Bertanggung jawab sama Winar lah, Mbak! Paling nggak sampe suaminya pulang. Atau pas Win melahirkan, Kalian kasih solusi gitu, Win harus gimana. Emang Mbak nggak kasihan lihat si Winar?" Mbak Tri sedikit sewot.
"Mbak ini siapanya Winar ya? Kok kayaknya ikut campur banget urusan si Winar?" Mbak Hanyk bicara dengan pongah, ia tidak kalah emosi.
"Saya tetangganya Winar. Saya bukan siapa-siapanya, tapi saya kasihan sama Winar makanya saya mau bantu antar kesini. Mbak kan keluarga suaminya, harusnya Mbak ngerti dong!" ujar Mbak Tri, masih dengan nada sedikit tinggi. Sementara Mas Joko dan Mas Edi hanya diam dan aku hanya bisa menunduk, merasa tidak enak hati.
"Hmm–"
"Maaf ya, Win, bukannya kami nggak mau bantu kamu. Tapi kamu sendiri kan tau kebutuhan kami ini banyak. Mbak cuma nggak mau nanti karena bantu kamu, keluarga kami malah kekurangan!" Mbak Hanyk menyela ucapan Mas Joko yang hendak bicara. Akhirnya Mas Joko diam kembali.
Kalau secara materi sebenarnya keluarga Mas Joko, bisa di bilang berlebih. Ia memiliki sepuluh hektar kebun sawit yang telah menghasilkan, empat buah mobil truk yang disewakan pada orang lain. Sementara mereka hanya memiliki satu orang anak laki-laki.
__ADS_1
"Lagi pula ya, mungkin kamu yang salah, makanya sampai Roby pergi nggak ada kabar. Bisa aja kamu bohongi kami, kan?" Mbak Hanyk mulai memojokkanku. "Atau jangan-jangan kamu selingkuh ya? Bisa aja kan, anak yang kamu kandung itu, bukan anak Roby!" tuduh Mbak Hanyk tanpa alasan. Kami semua terperanjat dengan ucapan Mbak Hanyk. Terutama aku. Bagaimana bisa Mbak Hanyk menuduhku seperti itu? Aku sungguh tidak menduga Mbak Hanyk akan mengeluarkan tuduhan yang tidak berdasar.
"Ya, Allah … kok tega sih Mbak nuduh aku kayak gitu! Nggak mungkin aku seperti itu, Mbak!" Netraku mulai berkaca-kaca. Tidak pernah aku menghianati Mas Robby, dalam benak pun tidak. Bahkan saat Mas Robby tidak di rumah pun, aku tidak pergi kemana-mana kecuali untuk belanja.
"Siapa yang bisa jamin kamu nggak seperti itu, Win! Bisa aja kamu bermain bersama laki-laki lain saat Roby kerja, kan? Lalu ketahuan sama Roby, makanya Roby ninggalin kamu?" Tuduhannya semakin menjadi. Kalau saja aku tahu diperlakukan seperti ini, tidak akan pernah aku kesini untuk meminta bantuan. Air mataku kini luruh, tidak bisa lagi kutahan. Bendungan yang sejak tadi kubangun, kini jebol sudah.
"Cukup, Mbak!" teriakku. "kalau Mbak nggak mau bantu, katakan aja, Mbak! Nggak usah nuduh yang nggak-nggak!" Suaraku meninggi, seiring dengan semakin derasnya cairan bening dari netraku yang masih berusaha kutahan.
"Lalu kenapa Roby sampai pergi dan nggak ngasih kabar? Kalau kamu memang nggak salah, nggak mungkin Roby seperti ini." Mbak Hanyk menatapku sinis. Ada kebencian yang terpancar dari matanya yang ditujukan padaku. Entah kenapa, tatapan itu sudah sedari dulu ia simpan untukku. Aku tidak tahu, apa salahku padanya.
"Terserah, Mbak! Yang jelas aku bukan perempuan seperti yang Mbak katakan. Aku datang kesini bukan untuk dihina." enak saja menuduhku yang tidak-tidak, pengen rasanya ku sumpal mulut Mbak Hanyk.
"Jangan bicara seperti itu, Ma! Mungkin Roby punya alasan lain yang membuatnya seperti ini." ujar Mas Joko, tapi ia tidak melihat ke arah Mbak Hanyk, ia menatap meja di depannya. Ia seperti takut menghadapi istrinya. Dari ucapannya, ia seperti membelaku.
"Papa jangan belain dia, Pa! Roby itu orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia nggak mungkin meninggalkan istrinya yang sedang hamil, kalau istrinya ini perempuan baik-baik." Mbak Hanyk melirik ke arahku. Iya, Mas Robby memang orang yang baik dan bertanggung jawab, tapi itu sebelum dia menghilang.
"Tapi bukan berarti Mama bisa menuduh Winar seperti itu, Ma!" Suara Mas Joko pelan. Masih terdengar suara perdebatan sepasang suami istri itu.
"Papa kenapa sih, kok malah belain dia! Atau jangan-jangan Papa suka sama Winar, ya? Kok dari tadi Papa belain dia terus!" hardik Mbak Hanyk setengah berteriak, terlihat netra Mas Joko melebar ke arah istrinya itu. Mungkin ia tidak percaya Mbak Hanyk malah menuduhnya.
__ADS_1
"Kok Mama pikirannya makin aneh, sih! Papa malah dituduh yang nggak-nggak!" ucap Mas Joko masih dengan suara yang pelan.
Bersambung...