
"Win, kenalin ini mama. Mama mertua ku." Mbak Mira mengenalkanku dengan wanita yang sejak tadi menatapku.
"Winarsih, Bu!" Aku memperkenalkan diri seraya menyalami ibu yang ternyata adalah ibu dari Mas Dewa. Wanita itu masih menatapku dingin.
"Ayo, masuk!" ajak Mbak Mira. Ia menarik tanganku, lalu aku pun mengikuti langkahnya.
Kami melewati ruang tamu, berukuran kira-kira tiga kali tiga meter di sana ada sofa, dan si sudut ruangan ada beberapa pot dengan tanaman lidah mertua di dalamnya, yang disusun di atas rak sedemikian rupa.
Lalu kami melewati pintu penghubung antara ruang tamu dengan ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan dan paling ujung ruangan terdapat dapur dengan gaya modern.
"Ini kamar kamu, Win! Istirahat aja dulu ya, kalau butuh apa-apa nanti panggil aja. Aku juga mau istirahat." Mbak Mira membuka pintu kamar, dan di sana sudah terdapat barang-barangku tadi. Sementara ibunya Mas Dewa tidak terlihat.
Aku masuk ke dalam kamar, setelah ku tutup pintu, lalu aku duduk di atas kasur yang empuk, dengan sprei berwarna merah muda dengan motif bunga mawar putih. Aku jelajahi setiap sudut ruangan dengan mataku, di samping tempat tidur terdapat meja kecil, di dekatnya di dinding terdapat colokan listrik. Di dalam kamar ini terdapat juga kamar mandi kecil.
Setelah puas mengitari kamar, aku baringkan tubuhku yang sedikit lelah. Lalu aku tertidur. Ketika aku terbangun, ku raih hp yang terletak di samping tubuhku, di layarnya jam menunjukkan pukul 17.18. Segera ku keluarkan handuk dan juga baju yang akan kupakai, lalu aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah tubuhku terasa segar, aku keluar kamar. Rumah terasa sepi, entah kemana penghuni rumah ini. Aku lanjutkan langkahku menuju luar, terlihat di pinggir jalan depan rumah Mbak Mira beberapa orang ibu-ibu sedang ngerumpi. Disana juga tampak ibu mertua Mbak Mira.
Ketika salah seorang dari ibu-ibu itu melihatku di depan rumah, seketika mereka semua menoleh ke arahku. Mungkin salah satu dari mereka bertanya tentangku, terlihat ibu bicara sambil melihatku. Dari raut wajahnya sangat terlihat kalau ibu itu tidak menyukaiku. Entahlah.
Saat terdengar suara azan dari masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah ini, mereka membubarkan diri. Ibu masuk melengos begitu saja, ketika ia melewatiku. Ada rasa sedikit tidak nyaman dengan sikap wanita yang melahirkan Mas Dewa itu.
****
Keesokan harinya jam lima pagi saat aku bangun, aku keluar dari kamar. Ternyata Mbak Mira juga sudah bangun, terlihat ia sedang memasak.
__ADS_1
"Masak apa, Mbak?" tanyaku saat aku menghampirinya.
"Ini, Win. Mau masak mie goreng buat sarapan."
"Biar aku bantu, Mbak."
"Boleh, kamu iris ini aja," Mbak Mira menyodorkan daun bawang dan sawi. Lalu Mbak Mira melanjutkan mengupas bawang sambil merebus mie.
"Nanti aku sama Mas Dewa kerja, Win. Kamu di rumah sama mama, ya," ujar Mbak Mira di sela-sela kegiatannya.
"Iya, Mbak."
"Ini kita sekalian masak untuk makan siang, ya? Biar nanti kamu sama mama tinggal makan aja," ujarnya lagi sambil menunjuk udang yang ada di dalam baskom kecil dekat wastafel.
"Ma, nanti tolong temani Winar ya, Ma. Khawatirnya nanti dia kesepian saat aku kerja." pinta Mbak Mira, pada ibu yang belakangan aku tahu bernama Sukma itu.
"Iya, Nak. Nanti mama temani Winar jalan pagi ya, Win! Ibu hamil itu harus banyak gerak, biar nanti lahirannya lancar," Bicara Bu Sukma begitu lembut pada menantunya. Aku tersenyum kecut dan Mbak Mira senyum lega.
****
"Win, ayok jalan," ajak Bu Sukma, ketika aku ingin menginjakan kakiku di kamar, setelah mengantar kepergian Mbak Mira dan suaminya berangkat kerja.
Suara Bu Sukma yang lembut, seketika meruntuhkan semua dugaan-dugaan buruk dan rasa khawatir yang sempat tertanam di hatiku.
"Iya, Bu. Aku siap-siap dulu ya, Bu."
__ADS_1
"Udah, gitu aja. Siap-siap apalagi sih?" Bu Sukma menarik tanganku.
Kami Pun berjalan mengelilingi komplek perumahan, udara yang sejuk beradu dengan hangatnya mentari pagi menerpa kulit. Ku lihat Bu Sukma sesekali menggerakkan tangannya, seperti orang lagi senam.
"Bu Sukma dari mana?" sapa seorang ibu yang sedang memberikan anaknya makan di depan rumahnya, ketika kami lewat disana.
"Iya, Mak Sasa. Biar sehat,"
"Ini siapa, Bu?" tanya Mak Sasa, melirikku.
"Sepupu Mira," jawab Bu Sukma, ia melangkah masuk ke halaman Mak Sasa. Sepertinya ia ingin sedikit lama disini. Aku pun mengikutinya.
"Sejak kapan disini?" ia melirik perut besarku.
"Baru kemarin, Mbak," jawabku singkat.
"Lagi hamil?"
"Iya, Mak Sasa. Biasalah anak muda sekarang, nggak ada suami pun bisa hamil."
Deg
Jawaban Bu Sukma seakan membuat jantungku berhenti sesaat. Aku tidak menduga Bu Sukma akan bicara seperti itu.
Bersambung dulu ya kak...
__ADS_1