
"Kenapa mereka meninggal bersamaan? Meninggal karena apa? Maaf ya, Win, kalau banyak tanya." tanya Mbak Mira lagi. Aku menghela nafas panjang.
*****
"Kata dokter yang memeriksa bibi saat di bawa ke puskes, bibi meninggal karena keracunan makanan. Sehingga dapat dipastikan kakek dan nenek juga meninggal karena hal yang sama.
Kemungkinan keluarga ayah itu meninggal karena keracunan jamur yang mereka konsumsi, Mbak. Soalnya waktu kejadian di temukan ada jamur yang sudah dimasak di dalam tudung saji, dan yang belum diolah juga masih ada di keranjang tempat bumbu. Kayaknya jamur itu adalah jamur beracun yang bentuknya mirip dengan jamur yang biasa dikonsumsi. Itu kata ayah." Setelah kuceritakan, Mbak Mira tidak lagi bertanya.
Kalau mengingat kisah ayah ini sebenarnya selalu membuatku sedih. Selalu terbayang wajah ayah yang menangis, tatapan matanya penuh kerinduan terpendam, yang tak bisa dicurahkan. Kehilangan orang-orang yang disayang, membuat ayah rapuh.
Bahkan saat menceritakan kematian ibu, ayah tidak sesedih itu. Bahkan aku seperti melihat ada percikan rasa kecewa dari pancaran bola matanya. Mungkin ia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu membawa ibu berobat ke rumah sakit, yang mengakibatkan ibu harus meregang nyawa. Atau mungkin ada rasa kecewa yang lain, entahlah, ayah sendiri tidak pernah bercerita tentang hal lain.
Dulu ayah sering berkata kalau akulah satu-satunya harta ayah yang paling berharga. Hanya akulah kekuatannya, yang membuat ia semangat hidup, yang membuatnya terus berjuang supaya bisa memberikan apa yang aku inginkan. Makanya ayah begitu sayang padaku, ayah selalu berusaha memenuhi setiap keinginanku.
Tapi entah kenapa, akhirnya ayah menyerah untuk berjuang untukku. Akhirnya ayah pun pergi meninggalkanku untuk selamanya, seorang diri. Akhirnya ayah membiarkan aku merasakan apa yang ayah rasakan. Hidup tanpa keluarga, sebatang kara.
Kenapa ayah pergi begitu saja tanpa mengajakku, atau paling tidak, tunggu aku hidup sukses dan bahagia terlebih dulu.
Sekarang, apakah ayah tahu hidupku begitu menyedihkan? Apakah ayah sedih? Atau ayah tidak merasakan apa-apa? Atau apakah ayah malah bahagia, karena ada aku yang juga merasakan apa yang dirasakannya dulu?
Tanpa sadar aku menangis sesenggukan. Aku seperti melihat ayah terbujur kaku di depan mataku, dengan tubuh yang ditutupi kain panjang. Kejadian itu seperti diputar ulang lagi. Aku seolah melihat diriku sendiri menangis histeris, memeluk tubuh kaku ayah. Terlihat dua orang ibu-ibu menarik tubuhku untuk melepaskan pelukanku dari ayah. Tapi aku tidak ingin lepas, aku terus memeluk tubuh kurus dan kaku itu. Aku ingin terus bersama ayah.
Mungkin inilah yang ayah rasakan saat ia menceritakan kisah usangnya. Seperti sebuah film yang diputar ulang dalam pikirannya.
"Win, Win!" Suara Mbak Mira memanggil-manggil.
"Udah, jangan nangis. Maaf ya, kalau aku bikin kamu sedih. Nggak bermaksud kayak gitu." Mbak Mira membawa tubuhku ke pelukannya.
Terlihat beberapa orang yang lewat menatap aneh pada kami. Sepertinya tanpa sadar aku sudah menarik perhatian orang-orang di taman ini.
Setelah aku tenang kembali, Mbak Mira menelpon Mas Dewa.
"Dimana, Mas?" tanya Mbak Mira, dengan ponsel menempel di telinganya.
"Ohh… ya udah, kami kesana ya?" kata Mbak Mira setelah mendengar jawaban dari seberang.
__ADS_1
"Ok…. " Lalu Mbak Mira memutuskan hubungan telepon.
"Sebelum pulang kita makan bakso dulu, yuk. Mas Dewa dan ibu udah disana." ajak Mbak Mira sembari berdiri lalu menepuk-nepuk pantatnya, membersihkannya dari tanah yang menempel disana. Dan aku pun melakukan hal yang sama.
Kami pun menuju tempat yang Mbak Mira maksud.
"Loh Mbak Mira, udah pulang toh?" seorang ibu berumur sekitar tiga puluh tahun, menyapa Mbak Mira.
"Aku memang disini aja kok, Ning! Nggak kemana-mana."
"Tapi kata Bu Sukma kemarin, Mbak sekeluarga mau keluar kota. Mau ada acara keluarga, Mbak." Mbak Mira menautkan kedua alisnya.
"Nggak ada, Ning. Emang kamu nggak ada ke rumah, kemarin-kemarin? Kan ada mama di rumah."
"Kan Bu Sukma yang nyuruh, Mbak. Katanya nggak usah ke rumah, soalnya nggak ada orang di rumah, mau keluar kota. Makanya seminggu ini saya nggak ke rumah, Mbak. Kata ibu, nanti kalo udah pulang di kabari." ujar wanita yang dipanggil Ning itu.
"Oh… kalau gitu, mulai besok kamu datang kayak biasanya ya, Ning!"
"Iya deh, Mbak. Makasih ya, Mbak! Saya pikir, saya dipecat. Bingung saya, Mbak, kalau sampai dipecat. Bapaknya anak-anak belum dapat kerja, Mbak," ujar Mbak Ning dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau Ning nggak ke rumah seminggu ini, trus siapa yg beresin rumah, Win? Kamu ya?" tanya Mbak Mira menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum kecut.
Ternyata Mbak Ning itu adalah asisten rumah tangga di rumah Mbak Mira. Tapi dia tidak menginap, setelah pekerjaannya selesai, Mbak Ning boleh pulang ke rumahnya. Sebab itulah Mbak Mira memang jarang ketemu dengan Mbak Ning, karena ketika Mbak Mira pulang kerja, Mbak Ning sudah kembali ke rumahnya.
Mbak Ning memiliki dua orang anak, berumur lima tahun dan tiga tahun. Dia bekerja pada Mbak Mira baru beberapa bulan belakangan. Tepatnya setelah suami Mbak Ning berhenti kerja, karena pengurangan karyawan yang terjadi di kantornya.
Ketika kami sampai di tempat dimana Bu Sukma dan Mas Dewa menunggu, ternyata mereka sudah mulai menikmati seporsi bakso yang ada di hadapan mereka masing-masing, sedangkan untuk kami sudah dipesan oleh Mas Dewa.
Kata Mbak Mira, penjual bakso ini adalah langganan mereka. Dia setiap hari minggu akan mangkal di taman ini. Sedangkan di hari lain Mamang penjual bakso itu akan berjualan keliling dengan menggunakan gerobaknya.
Setelah selesai menikmati bakso, kami pun langsung pulang.
Sampai dirumah aku langsung ke kamar, ganti pakaian dengan yang agak santai. Rencananya mau mencuci baju, daripada disuruh duluan dengan bahasa yang sakit hati, lebih baik inisiatif sendiri.
"Ma, tadi Mira ketemu sama Nining," terdengar suara Mbak Mira Ngobrol sama ibu mertuanya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Ngomong apa dia?"
"Nggak ada yang penting sih, Ma. Cuma dia bilang katanya, mama nyuruh dia nggak usah datang dulu ke sini," Masih terdengar obrolan mertua dan menantu itu ke dalam kamar.
"Iya, mama kasihan sama dia. Katanya anaknya lagi sakit waktu itu, jadi mama suruh aja dia ngurus anaknya yang sakit."
"Oh… tapi dia nggak bilang sama Mira kalau anaknya lagi sakit, Ma. Jadi aku suruh aja dia besok mulai kerja lagi, Ma." Ujar Mbak Mira.
Setelah itu, tidak ada lagi suara yang terdengar selain suara tv yang ada disana.
*****
Keesokan harinya, seperti biasa aku membantu Mbak Mira menyiapkan sarapan dan untuk makan siang. Setelah Mbak Mira dan Mas Dewa berangkat kerja, aku membersihkan piring bekas sarapan tadi.
Saat aku sedang menyapu, Mbak Ning datang.
"Loh… kok malah nyapu, Mbak! Sini biar aku aja." Mbak Ning mengambil sapu dari tanganku.
"Nggak usah, Mbak! Biar aku aja, Mbak ngerjain yang lain aja, Mbak."
"Biar aku aja, Mbak! Ini kan memang kerjaanku, kalau Mbak kan tamu disini,"
"Tamu apa toh, Ning, Ning… kalau tamu itu, paling lama tiga hari. Lah ini udah seminggu kok masih di bilang tamu." Tiba-tiba Bu Sukma datang saat kami saling tarik sapu.
Aku tidak berani menyahut, Mbak Ning pun seperti itu.
"Udah, Ning! Biarin aja dia yang ngerjain semua. Ibu kan udah bilang, nggak usah dulu kesini. Tunggu ibu kasih kabar, baru kesini." ujar Bu Sukma sewot.
"Tapi, Bu! Mbak Mira yang minta saya kesini, Bu."
"Udah, kamu pulang aja. Nanti biar ibu yang ngomong sama Mira." Bu Sukma kekeh minta Mbak Ning untuk pulang.
"Tapi saya butuh kerjaan ini, Bu. Kalau saya nggak kerja, saya dapat uang dari mana, Bu," iba Mbak Ning.
Bu Sukma diam seperti sedang berpikir.
__ADS_1
Bersambung dula ya kak...