
Bu Sukma menatap Mbak Ning, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Ya, udahlah. Kamu boleh kerja disini tapi gajinya bayar setengah ya. Kerjaan kamu biar dia bantu," ujar Bu Sukma akhirnya, setelah beberapa saat berpikir.
Mungkin Bu Sukma tidak tega juga membiarkan Mbak Ning tidak ada pekerjaan, sementara suaminya juga belum dapat pekerjaan.
"Iya deh, Bu. Ga apa, yang penting saya ada kerjaan, Bu!" ujar Mbak Ning lesu.
Sebelum tengah hari, semua pekerjaan rumah sudah selesai. Mbak Ning mengajakku mengambil pesanan Mbak Mira, berupa kebutuhan dapur untuk seminggu, seperti ikan, sayur dan bumbu-bumbu.
Kata Mbak Ning, Mbak Mira memang selalu memesan semua kebutuhan dapurnya pada penjual sayuran, tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sehingga Mbak Ning tinggal mengambilnya lalu menyusunnya di dalam kulkas.
Saat kami hampir sampai disana, ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang belanja.
"Ini bukannya perempuan yang tinggal di rumah Si Mira?" Seorang ibu menunjuk ke arahku, bicaranya seperti disengaja agak keras supaya aku mendengarnya.
"Emang ada? Aku malah nggak tau, loh!" ujar ibu di depannya, wanita yang memakai jilbab sorong warna coklat.
"Ya itu, katanya sepupunya si Mira, tapi aku nggak yakin loh, Jeng!" Lagi-lagi ibu yang pertama tadi,
"Kenapa nggak percaya? Nggak boleh suudzon, Jeng! Dosa!" Ibu di sebelahnya sepertinya tidak terpengaruh.
"Bukan suudzon, Bu. Cuma kalau menurutku ya, wanita ini istri keduanya si Dewa, Bu. Kan si Mira nggak hamidun sampe sekarang, padahal udah lama banget kan nikahnya, makanya dia nikah lagi."
"Hus… sembarangan kalau ngomong, nanti orangnya dengar." ujar ibu yang lain lagi.
"Maaf ya, Ibu-ibu semua. Ini Mbak Winarsih, sepupunya Mbak Mira, bukan istri Mas Dewa." Mbak Ning memperjelas.
"Alah… itu kan katanya, Ning. Paling juga cuma untuk nutupin doang, biar nggak malu." Sepertinya ibu yang ini memang biang gosip. Tidak ada sungkannya dia bicara seperti itu di depan orang yang dibicarakannya.
Aku hanya diam mengikuti langkah Mbak Ning. Setelah Mbak Ning mengambil pesanan Mbak mira, kami langsung meninggalkan tempat itu.
"Nggak usah di pikirin, Mbak, omongan ibu tadi. Dia memang gitu, biang gosip." kata Mbak Ning, sepertinya ia khawatir denganku.
"Nggak kok Mbak, biasa aja. Wajar sih mereka berpikir aneh-aneh. Dengan kondisiku yang seperti ini, pasti membuat orang bertanya-tanya." jawabku, mencoba mengerti.
Mengingat ucapan ibu tadi, membuat hatiku sedikit tersentil, apakah aku begitu egois? Demi menolongku, Mbak Mira dan Mas Dewa jadi bahan gunjingan tetangganya.
Apakah aku terlalu cepat mengambil keputusan? Berusaha menjauh dari tempat yang bisa ditemui Mas Roby, ku pikir itu akan membuatku tenang, tanpa memikirkan dampaknya untuk keluarga Mbak Mira. Aku kembali bimbang dengan keputusan yang aku ambil sekarang.
Mungkin aku harus mencoba mencari tahu keberadaan Mas Roby untuk terakhir kalinya. Setelah hampir dua minggu, tepatnya setelah kembali dari rumah Mas Joko, aku tidak lagi berniat untuk mencari keberadaannya.
Ini pertama kalinya aku mencoba lagi. Ku buka aplikasi pesan berwarna hijau, ku cari nama Mas Roby, namun belum ada perubahan. Nomornya belum pernah aktif, sejak terakhir aku melihatnya.
Ku coba menghubungi lewat telepon biasa, nyatanya yang terdengar hanya suara operator 'nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda.' begitulah suara operator dari seberang telepon.
__ADS_1
Hatiku kembali nelangsa, sakit. Aku coba lagi menghubungi Mas Joko.
"Halo, Win? Apa kabar? Gimana, udah lahiran?" pertanyaan bertubi-tubi dari Mas Joko.
"Halo, Mas! Aku sehat, Mas. Aku belum lahiran, Mas. Mas menunggu."
"Ohh… aku pikir kamu mau ngasih tau kalau kamu udah lahiran, Win."
"Bukan, Mas. Aku cuma mau tanya, apakah Mas Roby ada menghubungi Mas?" tanya dengan menahan air mata.
"Nggak ada, Win." jawab Mas Joko singkat, dari nada bicaranya biasa saja. Tidak ada rasa khawatir.
"Ya udah, Mas. Aku cuma tanya itu aja."
Setelah sambungan telepon dengan Mas Joko, aku menghubungi Mbak Tri siapa tahu Mas Roby pulang kesana.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
Suara sambungan telepon terhubung, namun tidak di angkat. Ku coba lagi untuk yang kedua kali.
Klik!
Telepon diangkat.
"Halo, Win!" sapa Mbak Tri.
"Baik, Win. Kamu gimana? Udah lahiran?"
"Belum, Mbak! Mbak, aku mau tanya, Mas Roby, belum pulang juga ya, Mbak?"
"Belum, Win! Kalau dia pulang, nggak mungkin nggak ku kasih tau sama kamu, Win!" jawaban Mbak Tri kembali membuat hatiku sakit.
Kemana kamu, Mas? Batinku. Aku seperti mengoyak lukaku sendiri, padahal beberapa hari belakangan ini, aku mampu melupakan tentang Mas Roby walau tidak sepenuhnya. Tapi aku malah mencoba mencarinya lagi dan hasilnya tidak sesuai harapanku.
Aku menangis, luka itu kini kurasa semakin sakit. Terbayang saat dia dulu bersama, dia begitu baik, perhatian, dia sepertinya begitu mencintaiku. Tapi sekarang, kemana semua itu?
"Kamu jahat, Mas!" teriakku.
"Kenapa kau tega ninggalin aku kayak gini? Aku benci sama kamu, Mas. Aku nggak akan biarin kamu ketemu sama anakmu." aku bicara sendiri, sambil menangis. Tanganku memegang dadaku yang begitu sakit dan sesak.
Aku begitu menyesali nasibku. Andai ayah masih disini, pasti aku tidak akan merasakan semua ini.
"Ayah, jemput aku, ayah!" aku terus saja meracau. Entah apa lagi yang keluar dari mulutku. Tapi setelah itu aku seperti bertemu dengan ayah. Aku lihat ayah berjalan ke arahku. Semakin dekat, dan kini ia merentangkan kedua tangannya seperti ingin memelukku. Tapi aku hanya diam, aku tak percaya ayah ada disini.
"Sini, Nak! Ayah rindu," seketika aku menghambur ke dalam pelukan ayah. Ayah memelukku erat. Ia mengelus-elus kepalaku. Aku kini merasakan ketenangan.
__ADS_1
"Ayah, kemana aja? Kenapa baru datang? Ayah mau jemput aku, kan?" aku hujani ayah dengan pertanyaan.
"Tenanglah, Nak! Apa yang kamu tangisi?" tanya ayah, ayah mengabaikan pertanyaanku. Ia mendorong tubuhku, agar ia dapat melihat wajahku. Ia membingkai wajahku dengan kedua tangannya. Ku lihat wajah ayah kini bersih, berseri. Tidak seperti dulu yang gelap terbakar matahari, tangannya kini tidak lagi kasar, begitu lembut, seandainya dulu aku tidak pernah berjumpa dengan ayah, pastilah aku akan menyangka kalau ayah dulunya bukanlah pekerja kasar.
Sepertinya ayah jauh bahagia sekarang daripada saat dulu masih bersamaku. Ia terlihat begitu bahagia, terpancar dari pancaran matanya. Senyumnya begitu menawan. Ayah terlihat lebih muda sekarang.
"Apakah ayah bahagia tanpa aku?" Pertanyaanku membuat ayah tersenyum. Tapi itu malah membuatku menangis.
"Kenapa kamu menangis?"
"Aku selalu nyusahin ayah, ya? Makanya ayah pergi ninggalin aku," ayah mengusap air mata dari wajahku.
"Kita jalan-jalan, yuk!" ajak ayah, langsung membuatku sumringah. Ayah menarik tanganku ketika aku beranjak ingin mengganti pakaian.
"Waktu ayah tidak banyak, Nak! Ayok!"
Ayah membawaku menuju pintu, ketika tiba di pintu, terlihat di depan sana terhampar sebuah taman yang ditumbuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni yang begitu indah. Indah sekali! selain itu terdapat beberapa pohon yang menjulang tinggi, yang menjadikan taman itu begitu sejuk.
Lalu beberapa meter dari tempatku berpijak terlihat sebuah danau kecil. Lalu ayah mengajakku kesana, duduk di sebuah kursi sepanjang dua meter, di bawah pohon, yang aku tidak tahu namanya apa. Di dalam danau ada bunga teratai bermekaran, berbagai warna. Indah sekali. Aku begitu terpesona dengan keindahan alam di sekitarku.
"Apa yang ingin kamu ceritakan pada ayah, Nak? Ceritalah pada ayah, ayah akan mendengarkanmu," pinta ayah. Kami duduk menghadap ke arah danau, tangan ayah merangkulku.
Aku pun menceritakan semua, mulai dari Mas Roby yang pergi tanpa kabar sampai akhirnya aku sampai disini, di rumah Mbak Mira. Entah mengapa, tidak ada kesedihan di hatiku saat aku menceritakan tentang Mas Roby. Aku juga menceritakan kerinduanku padanya.
"Yah, bawalah aku ikut bersamamu," Ayah kini melihatku, menarik daguku supaya mengarah padanya, dan aku kini melihatnya.
"Kamu harus disini, Nak! Belum waktunya kamu ikut. Sabarlah! Kamu harus kuat. Akan banyak hal yang akan kamu temui disini." Setelah mengatakan itu, ayah membuang muka ke arah danau. Kini ada mendung di bola matanya.
"Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Yah. Bagaimana aku harus hidup?"
"Mereka sekarang keluargamu, jangan pernah putus asa, jangan menyerah. Tuhan yang menggerakkan hatimu, Nak! Tidak ada yang kebetulan. Teruslah berdoa, supaya Tuhan memberi kemudahan untukmu dalam mengambil keputusan. Jangan pernah mengutuk apa yang sudah terjadi. Percayalah, semua ada hikmahnya." Mendengar ayah bicara, hatiku terasa tenang.
"Gimana dengan anakku nanti, Yah?"
"Kamu pasti mampu, Nak! Kamu ingat dulu, bagaimana ayah merawatmu? Dan ayah yakin kamu lebih hebat dari ayah." Ayah menggenggam kuat tanganku.
"Tapi itu hal yang berbeda, Ayah! Ibu meninggal, sementara Mas Roby?" Aku tidak mau ayah menyamakan apa yang aku dan ayah rasakan. Jelas itu hal yang berbeda.
"Percayalah, Nak! Setelah kamu melihat wajah anakmu nanti, kamu pasti tidak ingin berpisah darinya." Ayah meyakinkanku. "Ayah harus pergi, Nak! Ayok, ayah antar kamu pulang!" Ayah berdiri seraya menarik tanganku.
"Nggak mau, Ayah! Aku mau sama ayah." aku memeluk erat tubuh ayah.
"Nggak bisa, Nak! Waktu ayah sudah habis." kata ayah.
"Tidak, Yah! Ayah nggak boleh pergi, ayah tolong jangan tinggalkan aku." Aku menangis sesenggukan, memohon supaya ayah tidak meninggalkanku.
__ADS_1
Ini merupakan novel pertama author, mohon dukungan like dan komennya kakak. Terima kasih sudah mau mampir. Kalau ada krisan dari kakak kakak, author dengan senang hati menerima, demi kwalitas tulisan saya yang lebih baik.