
Entah apa yang membuat raut wajah Bu Sukma berubah. Seperti ada kesedihan di sana. Entahlah. Aku menatapnya lekat.
"Ibu minta maaf, Win! Tadi waktu kamu nelpon, ibu nggak sengaja dengar pembicaraan kamu. Setelah kamu nelpon, kamu sibuk bicara sendiri. Melihat kamu bicara sambil menangis, ibu jadi kasihan sama kamu, Nak!" Mata Bu Sukma berkaca-kaca.
"Ibu melihat kamu terduduk di lantai, disamping tempat tidur, sambil sesegukan. Lalu Ibu pergi ke kamar. Saat Ibu ke dapur, mau ambil minum, ibu lihat posisi kamu masih sama seperti ibu pergi tadi. Lalu Ibu memindahkanmu ke atas kasur. Badan kamu panas, kamu teriak-teriak panggil ayah." Sesekali Bu Sukma mengusap wajahnya.
"Melihat itu, ibu jadi yakin kamu tidak berbohong. Sekali lagi, ibu minta maaf, Win!" ucapnya, ia menarik tanganku lalu menggenggamnya. Lalu kemudian ia memelukku. Kami berdua tertawa sambil menangis. Sementara Mbak Mira tersenyum melihat kami. Aku bahagia sekali.
"Nggak usah minta maaf, Bu! Aku ngerti kok kenapa Ibu seperti itu." jawabku tulus. "Cuma aku sekarang bingung, Bu!" ucapku, ketika aku teringat tentang mimpiku tadi.
"Bingung kenapa?" tanya Mbak Mira yang sejak tadi diam saja.
"Tadi aku mimpi, Mbak! Ketemu sama ayah." Lalu aku menceritakan tentang mimpiku tadi. Bu Sukma dan Mbak Mira mendengarkanku, tanpa menyela.
"Ku rasa itu petunjuk, Win! Lebih baik setelah lahiran kamu tetap disini aja." ujar Mbak Mira.
"Tapi Mbak, aku ngerasa nggak enak. Nanti orang-orang ngomong yang nggak-nggak soal keluarga Mbak," ucapku, mengingat tadi pagi omongan ibu-ibu yang di warung.
"Kalau Ibu rasa, sebaiknya kamu memang jangan tinggal disini." Aku dan Mbak Mira serempak menoleh kearah Bu Sukma.
"Kenapa, Ma?" Tanya Mbak Mira nggak percaya dengan ucapan mertuanya itu.
"Maksud Ibu, bukan meminta Win untuk pergi jauh. Kalau menurut ibu, sebaiknya Win ngontrak atau kos aja. Lebih aman, kita harus menghindar dari godaan setan." Mbak Mira pun mengangguk, mungkin ia juga paham maksud Bu Sukma.
"Sepertinya lebih baik saya cari kerja di daerah lain aja, Mbak. Nanti kalau dedeknya sudah lahir, tinggal sama Mbak aja. Aku ngerasa hidupnya lebih terjamin kalau dia tinggal sama Mbak. Nanti sesekali saya kesini, kalau Mbak mengijinkan." Aku menunduk saja, meski kata-kata itu keluar dari mulutku. Sejujurnya hatiku sakit saat aku mengatakan itu.
"Ya, sudah… lebih baik itu kita pikirkan nanti saja setelah anaknya lahir. Sekarang kamu lebih baik fokus untuk persiapan lahiran anakmu saja. Mudah-mudahan semua lancar dan kalian berdua sehat," sahut Bu Sukma sambil mengelus perutku.
"Ehh… anak nakal, neneknya kok ditendang," canda Bu Sukma ketika anak dalam kandunganku mendadak bergerak ketika perutku disentuh Bu Sukma. Sontak kami pun tertawa.
__ADS_1
*****
Sejak hari itu, Bu Sukma sangat perhatian padaku. Ia selalu menemaniku berjalan mengelilingi komplek perumahan setiap pagi. Katanya biar nanti lahirannya gampang.
Untuk pekerjaan rumah, Bu Sukma menyerahkannya sepenuhnya kembali pada Mbak Ning, kecuali ngepel lantai. Untuk yang satu itu Bu Sukma tetap memintaku yang melakukannya. Itu pun harus ngepel dengan berjongkok. Katanya itu juga melatih untuk mempermudah lahiran nanti.
Sejak tadi siang, aku mulai merasa mulas di perut. Sepertinya aku akan lahiran. Tapi berhubung rasa sakitnya masih hilang timbul, kami tidak langsung ke rumah sakit.
Namun, menjelang magrib, rasa sakitnya semakin sering terasa. Kami Pun berangkat ke rumah sakit. Tidak lupa kami juga membawa perlengkapan ku dan juga perlengkapan bayi yang telah disiapkan Mbak Mira jauh hari sebelumnya.
Sekitar dua puluh menit dalam perjalanan, akhirnya kami pun sampai di rumah sakit. Mas Dewa menghentikan mobil di depan pintu masuk UGD, lalu tak lama dua orang perawat mendorong brankar, lalu menaikkanku ke atasnya. Sementara itu rasa sakit yang kurasakan semakin tak tertahankan.
Setelah semua administrasi selesai diurus Mas Dewa, aku pun dibawa ke ruang bersalin. Setelah perjuangan berat dan panjang akhirnya terdengar juga suara tangisan bayi. Lalu beberapa saat kemudian seorang perawat membawa bayiku yang masih berlumur darah ke depan wajahku. Melihat bayi mungil itu ada rasa haru di dalam dadaku, tanpa sadar aku meneteskan air mata. Aku bahagia sekaligus sedih.
Kedua rasa itu kini menyatu dalam hati. Aku bahagia karena aku berhasil melahirkan nyawa baru, yang lucu dan cantik, ya, anakku perempuan. Sementara disisi lain, aku merasa sedih karena anak ini lahir tanpa ada ayahnya yang menyaksikan kehadirannya. Selain itu, aku juga sebentar lagi harus merelakan anakku untuk di asuh keluarga Mbak Mira. Mengingat semua itu, air mataku semakin deras.
"Selamat ya, Win. Puji Tuhan, kamu dan anakmu sehat." ucap Mbak Mira, sementara ibu sibuk membawa barang-barang yang tadi di bawa dari rumah.
Ternyata Mas Dewa memesan kamar VIP untukku. Sekarang aku sudah disini, di ruangan yang dilengkapi dengan AC, tv, kulkas, dan di sudut ruangan terdapat sofa berwarna coklat.
"Oalah, Mir… Mir… Ibu kok dibiarin bawa ini semua, toh! Mbok yo di bantu…." ucap Ibu yang baru masuk.
"Astaga! Maaf, Ma! Mira lupa," Mbak Mira menepuk jidatnya.
"Untung mertuamu baik, Nak! Kalau nggak, wes tak pecat kamu." canda wanita yang rambutnya dipotong pendek itu. Kami pun tertawa mendengar celotehan Bu Sukma.
"Ibu pulang aja ya, Bu, sama Mas Dewa. Biar Mira disini temeni Win. Lebih baik ibu istirahat di rumah aja," Mbak Mira sepertinya mengkhawatirkan mertuanya itu. Ternyata jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam.
"Biar Dewa aja yang pulang sama kamu, biar Ibu aja yang disini. Besok kan kamu harus kerja, Mir!"
__ADS_1
"Besok Mira nggak kerja, Bu. Tadi udah minta izin, jadi lebih baik Ibu yang pulang, ya,"
"Ya, udah. Kita berdua aja disini temenin si Win. Lebih baik kamu telpon aja suamimu, suruh pulang."
Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang mereka bicarakan. Namun, saat aku terbangun yang terlihat adalah Mbak Mira yang tidur di atas sofa.
"Ehh… kamu mau kemana, Win? Sini aku bantu." Mbak Win lekas membantuku untuk turun dari tempat tidur, lalu memapahku ke kamar mandi.
"Udah lama kamu bangun, Win?"
"Lumayan, Mbak! Cuma mau bangunin Mbak, tapi Mbaknya tidur pulas banget. Mbak pasti capek ya?" Mbak Mira hanya tersenyum.
"Udah, kamu istirahat lagi ya," ujar Mbak Mira, ia membantuku untuk naik ke atas tempat tidur.
Tak lama setelah itu, datang perawat menghampiriku.
"Selamat pagi, Ibu. Ibu mandi dulu, biar segar ya, Bu. Saya bantu. Bentar lagi dedek bayinya akan di bawa ke sini, " ujar perawat itu. Ia mengajakku ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, tubuhku terasa segar. Aku pun duduk di atas tempat tidur, dan beberapa menit kemudian anakku sudah ada dalam pangkuanku. Dia pun sudah dimandikan oleh perawat yang lain.
Melihat wajahnya, hatiku terasa bahagia. Hidung dan bibirnya mirip sekali dengan ayahnya.
"Cantik, Win! Sama seperti kamu," ucap Mbak Mira yang berdiri di sampingku sambil menyentuh pipi anakku dengan jarinya.
"Ini, Mbak," Aku menyodorkan bayiku pada Mbak Mira.
"Apa?" tanya Mbak Mira kaget.
Ini merupakan novel pertama author, mohon dukungan like dan komennya kakak. Terima kasih sudah mau mampir. Kalau ada krisan dari kakak kakak, author dengan senang hati menerima, demi kwalitas tulisan saya yang lebih baik.
__ADS_1