
"Habisnya Papa kok malah belain dia, adik kamu itu Roby, Mas, bukan dia! Jadi nggak usah belain dia. Aku nggak percaya kalau Roby yang salah." Lagi-lagi Mbak Hanyk masih ingin memojokkanku.
"Ini kakak iparmu kurang segaris ya, Win?" ucap Mbak Tri membuat Mbak Hanyk melotot. Aku hampir saja tertawa dengan ucapan Mbak Tri, namun rasa sakit dengan tuduhan Mbak Hanyk barusan masih lebih kuat, yang membuatku tidak mampu untuk tertawa.
"Heh … kamu bukan siapa-siapa ya disini, jadi lebih baik diam saja! Jangan ikut campur! Pake bilang aku kurang segaris, dasar kurang *jar!" umpat Mbak Hanyk, menunjuk Mbak Tri.
"Lah … trus apa na–"
"Dek! Sudah diam!" Mas Edi menarik tangan Mbak Tri yang duduk di sampingnya. "Biar Winar menyelesaikan masalahnya dengan keluarganya, Dek!" ucap Mas Edi, yang di balas Mbak Tri dengan memonyongkan bibirnya.
"Sudah, Mbak, Mas Edi benar. Biar aku selesaikan masalahku sendiri. Aku nggak apa, kok!" ucapku pada Mbak Tri. Aku tidak ingin melibatkan mereka terlalu jauh.
"Tuh, denger suaminya ngomong. Jangan kebanyakan bacot!" ujar Mbak Hanyk sinis. Sesaat suasana hening. Tidak ada yang bicara.
"Maaf, Mbak! Jika kedatangan saya kesini tidak berkenan sama Mbak. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang memang harus ku lakukan, sebelum aku mengambil jalan lain. Aku pun bukannya ingin melimpahkan sepenuhnya tanggung jawab Mas Robby pada kalian. Aku hanya mencari tempat berlindung di saat aku akan melahirkan nanti. Tapi jika kalian tidak berkenan, aku juga tidak memaksa." ucapku akhirnya memecah keheningan, lalu aku diam sesaat, menahan gejolak di dada yang seperti ingin meledak. "dalam agama pun, sebenarnya kalianlah yang bertanggung jawab atas anak ini, jika bapaknya tidak ada." lanjutku lagi, membuat mata Mbak Hanyk membesar ke arahku. Mungkin ia tidak menyangka aku akan mengatakan itu.
"Hahh …." Terdengar Mas Joko menghela nafas.
"Saya juga bingung, mau gimana, Win–"
"Nggak usah bingung-bingung, Mas! Ngapain Mas capek-capek mikirin dia. Winarsih itu bukan tanggung jawab kita. Sudah! Terserah dia aja, aku nggak mau direpotin!" Lagi-lagi Mbak Hanyk bersuara lantang. "Heh! Kamu nggak usah sok sok bawa agama, ya. Aku nggak peduli apa kata agama. Yang jelas, aku nggak mau rugi dan tidak mau capek. Jelas! Jadi, jangan ajarin aku soal agama. Kamu pikir, aku bodoh! Mau diperalat dengan alasan agama, hah!?" bibir Mbak Hanyk dimiringkan sebelah.
__ADS_1
Sungguh, berani sekali dia berkata seperti itu. Tidakkah ia takut jika Tuhan bisa menghukumnya hanya dengan tiupan kecil? Aku saja merinding mendengar ocehannya. 'Ya Tuhan, ampunilah dia, bukakan pintu tobat untuknya'. Ku sempatkan melantunkan doa di dalam hati untuk kakak iparku itu.
"Kamu yang hamil, kok mau ngerepotin orang lain! Kalau kamu nggak sanggup ngurus anakmu, ngapain kamu hamil?" Lanjut Mbak Hanyk tanpa menjaga perasaanku sedikit pun. Suaranya kini sedikit merendah. Andai aku bisa meminta, aku juga tidak ingin dalam keadaan seperti ini, siapapun tidak ada yang ingin bernasib sama denganku.
"Sudah, Ma! Kasihan Winar, jangan di tambah dengan ucapan mama yang nggak berperasaan itu." ujar lelaki berkulit gelap itu.
"Apa? Nggak berperasaan kata Papa? Jadi kamu punya perasaan sama dia, Pa? Hah!" bentak Mbak Hanyk, emosinya kini naik lagi.
"Sudahlah, Win! Kita pulang saja. Sepertinya nggak ada gunanya kita kesini." Ujar Mbak Tri. Aku pun berdiri hendak beranjak.
"Tunggu, Win!" pinta Mbak Hanyk ketika aku telah berdiri, aku pun mengurungkan langkahku.
"Gini …." Mbak Hanyk terlihat ragu, ia menatap kami satu per satu. Kami semua menatap Mbak Hanyk, menanti apa yang akan dikatakannya.
"Hmm … Daripada kamu bingung, gimana cara besarin anak kamu tanpa suami, bagus kamu–" Mbak Hanyk menjeda ucapannya. Entah apa sebenarnya yang ingin disampaikannya.
"Maksudku, kamu kenal kan sama Mas Rusdi, anak Bude Marni?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.
"Nah, dia sama istrinya kan sampai sekarang belum punya anak. Padahal udah sebelas tahun menikah. Kalau nggak salah, mereka pengen ngangkat anak, tapi sampai sekarang belum dapat-dapat." ujarnya.
"Maksudnya, Mbak? Trus hubungannya sama aku apa?" tanyaku tidak mengerti.
__ADS_1
"Aduhh… kamu ini kok lemot banget sih, Win!" ujar Mbak Hanyk geram.
"Gini loh, Win, kan kamu bentar lagi lahiran to … habis itu kan kamu harus kerja, karena si Roby nggak pulang-pulang, gitu kan? Jadi, daripada kamu pusing nanti nggak ada jagain anakmu, mending kamu kasih aja itu anakmu diurus sama istrinya Mas Rusdi." tuturnya sumringah. Gampang sekali mulutnya bicara.
"Apa!? Astaga, Mbak! Kok tega banget sih ngomong gitu Mbak!" Tiba-tiba air mataku luruh, rasanya dadaku habis di pukul pakai palu godam. Sakit sekali rasanya. Ingin ku tampar rasanya mulut Mbak Hanyk, andai aku tidak mengingat umurnya yang lebih tua dariku, pasti aku telah melakukannya.
"Benar juga apa yang diomongin Mbakmu itu, Win. Nggak mungkin kamu menggantungkan hidupmu sama orang lain, kan?" Mas Joko malah mendukung istrinya yang kelebihan berat badan itu. Aku makin terisak, tidak pernah ku duga keluarga suamiku sepicik ini. Aku kesini untuk minta tolong, tapi malah dibuat makin pusing. Andai mereka tidak mau membantu, apakah harus menyarankan seperti itu?
"Lah, kok malah nangis toh, Win? Kalau anak kamu dikasih sama mereka, di jamin anakmu nggak akan kekurangan. Bahkan biaya lahiran kamu pasti mereka tanggung, Win. Dan setelah itu kamu bebas, cari kerja nggak kepikiran anak, cukup fokus untuk dirimu saja." Kembali Mbak Hanyk menjatuhkan batu besar ke dadaku.
Ya Allah, apa salahku sampai aku mengalami semua ini? Andai aku masih punya orang tua mungkin hidupku tidak akan seberat ini. Andai mereka masih ada, pasti mereka akan membantuku. Pasti aku masih punya tempat mengadu, masih punya tempat untuk pulang saat aku mengalami masalah berat seperti sekarang ini.
Lalu sekarang kemana aku harus mengadu? Kemana aku harus pulang? Ayah, Ibu, kenapa kalian tinggalkan aku sendirian disini? Tolong aku, Bu, Yah! Aku butuh kalian, aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Tolong peluk aku Bu, Yah!
Aku terus menangis, aku tidak tahu lagi apa yang terus di ucapkan Mbak Hanyk. Terlalu bodoh aku karena sudah berharap pada mereka bisa menolongku.
"Cukup, Mbak!" Aku terperanjat, tiba-tiba Mbak Tri berteriak pada Mbak Hanyk. Entah apa yang diucapkan Mbak Hanyk yang membuat Mbak Tri murka.
Bersambung...
__ADS_1