
Seketika tubuh ayah lemah, seperti tanpa tulang. Tanpa sadar ayah terjatuh dan tidak sadarkan diri. Entah berapa lama ayah tak sadarkan diri. Bahkan katanya, ayah beberapa kali pingsan lalu sadar, kemudian pingsan dan sadar lagi.
Ketika ayah benar-benar sadar, di rumah kakek masih banyak orang yang melayat. Ya, ayah dijemput karena kakek, nenek dan juga bibi meninggal di waktu yang hampir bersamaan. Saat tubuh ketiga orang yang disayanginya itu dimasukkan ke liang lahat, lagi-lagi tubuh ayah ambruk. Benar-benar pukulan yang sangat kuat.
Bagaimana tidak, semua keluarga yang ayah sayangi meregang nyawa di hari yang sama.
Berawal dari seseorang yang datang ke rumah kakek, katanya waktu itu seharusnya kakek ada janji dengan temannya untuk bertemu di suatu tempat. Namun, saat teman kakek menunggu, kakek tak kunjung datang. Akhirnya teman kakek itu menyusul kakek ke rumahnya. Namun saat tiba di rumah kakek, temannya tersebut hanya menemukan tubuh kaku tak bernyawa dari kakek dan nenek, saat itu bibi masih bernafas, namun kritis dan langsung dibawa ke puskesmas. Namun sayangnya nyawa bibi pun tidak bisa diselamatkan.
Saat ayah menceritakan semua itu, wajah ayah basah dengan air mata. Terkadang ayah terdiam sesaat, untuk sekedar menghirup udara dengan kuat lalu mengeluarkannya perlahan. Mungkin ayah merasa sesak di dada karena kesedihan yang begitu besar.
Kata ayah, hidupnya serasa hancur setelah kejadian itu. Ayah merasa Tuhan itu tidak adil karena semua keluarganya diambil dalam waktu yang bersamaan. Dia tinggal sebatang kara. Ayah sempat frustasi, ayah seperti hilang pegangan. Ayah tidak lagi melanjutkan sekolahnya, ayah menjual semua harta kakek. Rumah dan beberapa petak sawah. Setelah semua harta kakek terjual, ayah pergi merantau ke kota.
Bahkan ayah tidak mendengarkan nasehat pamannya, untuk tidak menjual harta kakek, untuk masa depan ayah kelak. Kata ayah, jika ayah tetap di kampung itu, ayah tidak sanggup melihat setiap tempat yang pernah ayah datangi bersama kakek, nenek dan juga bibi. Melihat setiap sudut rumah itu hampir membuatnya gila. Itulah sebabnya ayah yakin untuk pergi dari kampung itu, untuk merantau ke kota.
Ayah tidak pernah menceritakan apa yang ayah lakukan di kota, sampai akhirnya berjumpa dengan ibu.
"Win!" Suara Mbak Mira membuyarkan lamunanku.
Aku bergegas ingin menemui Mbak Mira namun ternyata Mbak Mira sudah di depan kamar.
"Keluar yuk, jalan ke taman, mumpung aku libur. Sekalian olahraga, biar nanti lahirannya lancar,"
"Iya, Mbak. Aku siap-siap dulu ya,Mbak!" jawabku.
Mas Dewa dan ibu juga ternyata ikut. Aku dan Mbak Mira berjalan beriringan, sementara ibu dan Mas Dewa berjalan di depan kami.
"Rencana kamu sesudah lahiran apa, Mir?" tanya Mbak Mira.
__ADS_1
"Cari kerja, Mbak. Kalau seandainya aku dapat kerja nggak di daerah ini, gimana?"
"Kenapa nggak cari kerja disini aja, Win?" tanya Mbak Win, membuatku bingung menjawabnya. Aku memang belum memikirkannya.
"Ada teman yang menawarkan pekerjaan, Mbak. Tapi nggak disini," tiba-tiba saja bibirku mengeluarkan kata-kata itu begitu saja.
"Ohh … trus gimana dengan dedeknya nanti?"
"Mbak beneran mau ngurus anakku, Mbak?" tanyaku. "gimana dengan Bu Sukma, Mbak! Apa dia setuju kalian mengasuh anak orang lain?" tanyaku sedikit khawatir.
"Mama setuju, hanya saja ibu takut kalau kamunya yang menipu. Kalau menurut aku sih itu hal yang wajar, ya kan." Mbak Mira diam sejenak, lalu menatapku. "Mama takut kamu cuma mau manfaatin kami. Mama pernah ngomong apa sama kamu?" lanjutnya lagi.
"Ng– nggak ada, Mbak." jawabku terbata..
"Kalau mama pernah ngomong sesuatu yang nggak enak, maklumin aja ya, Win! Namanya orang tua, pasti khawatir anaknya kenapa-napa kan? Misalnya, kamu pura-pura di tinggal suami padahal sebenarnya kamu dan suamimu kerja sama mau merampok kami. Kita kan baru kenal, sekarang ini banyak penipu." Aku mengangguk paham.
Mungkin itu juga alasan Bu Sukma bersikap seenaknya sama aku. Dia mengawasi gerak-gerikku, Bu Sukma jadi parno sendiri. Batinku.
"Kalau aku sih, niatnya ikhlas mau bantu. Aku punya prinsip, Win! Saat aku bantu orang lain, sebenarnya aku membantu diriku sendiri. Aku percaya, saat kita melakukan kebaikan, pasti yang datang sama kita juga kebaikan. Itu pasti.
Walaupun seandainya kamu mau nipu kami, nggak masalah buat aku. Misalnya kamu pura-pura ditinggal suami, padahal sebenarnya kamu dan suamimu hanya ingin merampok kami. Kamu tanggung sendiri resikonya. Bukan kami yang jadi lawan mu, tapi Tuhan. Aku serahkan semua pada Tuhan." Mbak Mira mengatakan kata-katanya begitu lembut. Tapi mampu membuat bulu kuduk ku merinding.
Aku seperti mendengar Mbak Mira berkata 'kalau kamu macam-macam, maka kamu akan menerima siksaan yang begitu sakit. Tuhan sendiri yang akan turun tangan menghukummu'. Meski aku sama sekali tidak ada niat untuk menipu, tapi ucapan Mbak Mira sedikit mencuil hatiku. Entah kenapa.
"Waktu kamu kirim pesan beberapa waktu lalu, aku langsung memberitahukannya pada Mas Dewa. Dan anehnya Mas Dewa langsung bilang 'ayo besok kita jemput', katanya dia merasa anak ini memang dijodohkan untuk kami. Padahal aku pernah loh, Win, ngajak Mas Dewa buat cari anak asuh di panti aja, tapi Mas Dewa nggak mau. Tapi saat dengar tentang kamu, dia malah mau cepat-cepat. Lalu kami berdoa bersama, semoga diberi kemudahan. Dan kami niatkan menolong."
Mendengar semua itu, aku merasa beruntung bisa bertemu keluarga ini dan di sisi lain, ada juga rasa khawatir pada diriku sendiri. Ada rasa takut jika suatu saat Tuhan akan menghukumku karena melepas tanggung jawab pada anakku.
__ADS_1
"Kalau seandainya nanti dedeknya sudah lahir, trus kamu nggak mau cari kerja disini, dan ingin bawa anak kamu, nggak masalah, Win! Jadi kamu nggak usah khawatir, kami nggak maksa anak kamu harus sama kami. Anak itu sepenuhnya hak asuhnya ada sama kamu. Kami hanya mau mengasuh anak itu jika kamu merasa nggak sanggup mengasuh dia, karena harus kerja. Dan kamu sendiri yang minta kami mengasuhnya." Aku kehilangan kata mendengar penuturan Mbak Mira.
Aku tahu Mbak Mira dan suaminya orang yang baik, tapi aku tidak menyangka hatinya semulia ucapannya tadi.
"Ehh… keluarga bapak sama ibu kamu emang nggak ada, ya?" Mbak Mira mengalihkan pembicaraan.
"Ada sih, Mbak! Tapi aku nggak tau dimana, aku nggak pernah ketemu mereka. Ayah sama ibu dulu ketemu di perantauan."
"Loh… kok gitu, emang ayah kamu nggak pernah ajak kamu kesana? Atau mereka yang mengunjungi kalian, gitu?" Aku hanya menggeleng.
Mungkin Mbak Mira merasa aneh, bagaimana mungkin aku tidak tahu keluargaku dimana. Tapi itulah kenyataannya.
"Dulu ayah pernah cerita, disaat ibu meninggal, adik ibu datang. Tapi saat itu kan aku masih bayi, Mbak! Jadi tetap aja nggak kenal. Dan saat itu juga paman membawa kakakku pergi." jawabku kemudian.
"Jadi kamu nggak pernah ketemu kakak kamu?" aku menggeleng. "trus keluarga ayah gimana?" tanyanya lagi.
"Kita duduk disana aja yuk!" ajak Mbak Mira sebelum aku menjawab pertanyaannya.
Lalu kami melangkah ke arah pohon yang ditunjuk Mbak Mira tadi, untuk berlindung dari sengatan matahari, hari mulai panas. Sementara Mas Dewa dan Bu Sukma entah kemana mereka perginya.
"Ayah punya adik perempuan, tapi udah meninggal juga di saat ayah masih SMA. Bahkan bibiku meninggal dihari yang sama dengan kakek nenek." jawabku setelah kami duduk di bawah pohon, beralaskan rumput.
"Ya Tuhan, sedihnya. Turut berduka cita ya, Win! Nggak nyangka, kisah keluargamu setragis itu." Mbak Mira mengusap-usap punggungku.
"Kenapa mereka meninggal bersamaan? Meninggal karena apa? Maaf ya, Win, kalau banyak tanya." tanya Mbak Mira lagi. Aku menghela nafas panjang.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih udah tetap mendukung Winarsih, terima kasih juga untuk doa-doanya untuk Winarsih.
Jangan lupa selain dukung Winarsih, dukung author juga ya kak 😀😀😀