
Pagi sekali, Mbak Tri sudah bangun karena ia akan menggoreng risol dan bakwan pesanan orang yang kemarin, menjelang siang hari akan diambil oleh yang memesannya.
Aku pun bersiap-siap, barang-barang yang akan ku bawa telah siap ku periksa kembali. Bu Mira katanya sudah berangkat dari subuh tadi, kira-kira jam sembilan sampai. Masih ada waktu,taku ke rumah Mbak Tri dulu, cuma sekedar ngobrol sambil aku membantunya memindahkan gorengan yang telah matang ke wadah yang akan dibawa si pemesan.
Kira-kira jam sembilan lewat sepuluh menit, terdengar suara klakson mobil di depan kontrakan.
"Itu kakakmu mungkin, Win. Lihat sana!" ujar Mbak Tri.
Aku pun melangkahkan kakiku untuk melihat apakah benar Bu Mira dan suaminya yang datang.
Setelah di depan pintu rumah Mbak Tri, aku melihat sebuah mobil avanz* berwarna hitam telah parkir di halaman kontrakan, lalu keluar seorang wanita memakai atasan lengan panjang dengan motif abstrak, di padukan dengan celana berwarna krem dengan panjang tiga perempat.
Ia melangkah mendekat ke arahku, yang disusul dengan seorang pria dengan rambut cepak berpakaian berwarna merah dengan bahan kaos.
"Winarsih, ya?" tanyanya ramah, ia mengulurkan tangannya yang ku sambut sambil mengangguk kikuk. Aku Pun mengajak mereka untuk masuk ke dalam kontrakan. Lalu aku ke dapur untuk mengambil air minum untuk aku suguhkan.
Tidak lama kemudian Mbak Tri datang dengan membawa beberapa risol dan bakwan dalam sebuah piring.
"Ini Mbak, Mas, dinikmati! Oh… iya, saya Tri, tetangga sebelah Winar." Mbak Tri menyalami tamu ku, setelah meletakkan piring berisi gorengan yang dibawanya.
"Iya, Mbak, salam kenal. Saya kakaknya Winar. Winar kemarin cerita loh tentang mbak sama saya," Bu Mira memperkenalkan diri sebagai kakakku, karena aku memang memintanya kemarin ketika sedang berkirim pesan dengannya.
"Winar cerita apa, Mbak? Pasti jelek-jelekin saya, ya!" canda Mbak Tri, yang disambut dengan tawa kami.
Walau baru kenal dengan Bu Mira dan suaminya tapi kami seperti sudah lama saling kenal, tidak ada perasaan kaku. Cerita mengalir begitu saja.
Sudah hampir satu jam, setelah kedatangan Bu Mira.
"Gimana, Win? Udah bisa kita berangkat?" tanya Bu Mira.
"Su– sudah." jawabku. Rasa gugup tiba-tiba menyerangku.
"Mana barang yang dibawa? Biar saya masukkan," tanya Pak Dewa, suami Bu Mira.
__ADS_1
Lalu Pak Dewa memasukkan barang-barang yang sudah aku siapkan dari kemarin. Saat aku ingin membantunya, mereka kompak melarangku. Aku benar-benar terharu dengan perlakuan mereka padaku. Mungkin seperti ini rasanya punya keluarga, diperhatikan, ada saat dibutuhkan. Ya Tuhan, andai ini tidak sesaat. Hatiku menjerit.
Meski aku belum benar-benar mengenal keluarga Bu Mira, tapi hatiku yakin kalau Bu Mira dan suaminya adalah orang yang baik. Mudah-mudahan aku tidak salah menilai mereka.
Setelah Pak Dewa selesai memasukan semua barang-barangku, kami berpamitan sama Mbak Tri.
"Mbak, makasih banyak ya sudah banyak bantu aku. Kalau nggak ada mbak, nggak taulah hidupku kayak mana." ucapku tulus. Ada rasa sakit terasa di dada, saat aku sadar sebentar lagi aku akan berpisah dengan orang yang sudah seperti kakakku itu.
"Nggak usah berterima kasih, Win! Aku tuh udah nganggap kamu adikku. Jadi nggak usah berterima kasih. Maafin aku ya, kalau selama ini ada salah." Mbak Tri memelukku erat.
"Aku juga minta maaf Mbak, banyak salah sama Mbak, banyak ngerepotin mbak." Kami saling berpelukan, tidak peduli lagi dengan wajah yang basah karena butiran-butiran kristal bening yang keluar dari netra.
"Ingat ya, kalau kamu udah lahiran jangan lupa kasih kabar. Kalau ada apa-apa langsung kabari." Aku mengangguk. Setelah itu Bu Mira dan Pak Dewa juga menyalami Mbak Tri.
Tidak lupa aku pun berpamitan dengan tetangga-tetangga yang lain, yang kebetulan tidak pergi kemana-mana.
"Oalaahh… Win, Win, nggak nyangka loh kalau kamu bakalan pergi. Kok kamu baru ngomong sekarang toh." ujar Bu Fatma ketika aku berpamitan dengannya dan suaminya. Ia kaget karena aku memang tidak memberitahukannya sebelumnya.
"Nggak apa-apa, Bu, ini juga mendadak."
Meski tidak sedekat dengan Mbak Tri, Bu Fatma juga orang yang baik. Hanya pekerjaan sebagai pedagang membuatnya jarang di rumah, sehingga membuat kami jarang komunikasi.
"Makasih banyak, Bu. Udah perhatian sama aku. Maaf ya, Bu, kalau aku ada salah." ujarku, sambil membalas pelukannya.
"Sama-sama, Nak! Semoga lancar ya lahiran mu nanti. Kamu sehat, anakmu juga sehat." Doa Bu Fatma.
"Amin… makasih, Bu!"
Setelah selesai berpamitan, kami masuk ke dalam mobil. Mbak Tri dan para tetangga yang lain, melambaikan tangan ke arah kami. Melihat mereka yang begitu peduli padaku, membuatku terharu.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan kontrakan dan penghuninya yang dua tahun belakangan ini memberi warna baru dalam hidupku.
****
__ADS_1
Dalam perjalanan, tidak terlalu banyak yang kami bicarakan. Setelah dua jam perjalanan, kami berhenti sebentar di rumah makan padang, untuk mengisi perut.
Setelah selesai makan dan istirahat sebentar, kami pun melanjutkan perjalanan lagi.
"Nanti kalau di rumah, bilang aja kamu itu sepupu saya, Win!" ujar Bu Mira.
"Iya, Bu!"
"Jangan panggil ibu, dong! Emang aku udah tua apa, kok kamu panggil ibu trus." Dia sewot, karena dari kemarin dia melarang aku memanggilnya ibu.
"Emang udah tua, masa nggak sadar, Yang!" Canda Mas Dewa yang membuat Mbak Mira pura-pura ingin memukulnya.
"Masih muda gini, kok dibilang tua, sih! Dasar suami, nggak bisa banget buat istri senang!" sahut Mbak Mira. Aku hanya tertawa saja melihat kelakuan sepasang suami itu.
"Pokoknya saya nggak mau dipanggil ibu lagi sama kamu, Win! Awas masih panggil ibu, ku jewer ku kupingmu ya!" ujar Mbak Mira sambil bercanda.
"Baiklah, Mbak yang cantik," balasku bercanda pula.
"Nah, gitu dong! Kan enak." Kami pun tertawa bersama.
****
Tidak terasa, kami pun sampai di rumah dengan cat berwarna putih, di halamannya tertata beberapa buah pot dengan berbagai macam tanaman di dalamnya.
Perasaanku kembali tidak menentu, tubuhku kembali mengeluarkan keringat. Rasa panas dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Ada rasa takut yang menyelinap masuk kedalam hatiku. Aku takut kalau ternyata mereka hanya pura-pura baik, ada juga rasa khawatir kalau mereka hanya memanfaatkanku.
Hufffh!
Aku menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. Membuang rasa khawatir di dalam dadaku yang kini terasa menyesakkan.
Tidak lama kemudian, keluar seorang ibu paruh baya datang menyambut kami. Ketika aku turun dari mobil, ibu itu menatapku. Entah apa arti tatapan itu, dia memindai dari kepala hingga ke ujung kaki. Lalu kemudian dia melihat perutku yang sudah membesar. Tatapan ibu itu sungguh membuatku tidak nyaman.
Tatapan wanita dengan rambut digelung di belakang kepala itu, seolah membuat membeku, diam tak berkutik. Aku bingung mau melangkah ke arah mana. Sementara Mbak Mira sibuk membantu suaminya mengeluarkan barang-barang dari mobil.
__ADS_1
Bersambung dulu ya...