
[Selamat pagi, Bu. Salam kenal. Maaf baru balas, semalam nggak liat hp.] balasnya.
"[Gpp, Bu. Maaf, Bu, kalau saya lancang. Saya liat postingan Ibu di grup 'adopsi anak' kalau ibu sudah 9 tahun menikah ya?] klik kirim. Akhirnya aku ku kirim kalimat itu setelah beberapa kali aku ketik lalu ku hapus. Tanganku gemetaran, tubuhku berkeringat. Entah perasaan apa yang kurasakan.
[Iya, Bu. Ibu samakah dengan saya?] balasnya setelah beberapa menit aku menunggu.
[Nggak, Bu. Saya baru 3 tahun menikah. Sekarang saya lagi hamil.]
[Oh, selamat ya Bu. Udah dikasih kepercayaan. Mudah2an menular pada saya.] dari balasannya terlihat, sepertinya dia tidak berniat untuk mengangkat anak. Balasannya membuatku tidak yakin kalau dia mau mengurus anakku.
[Makasih, Bu. Tapi ya itu, Bu. Suamiku pergi ninggalin aku Bu.] balasku tidak lupa kuselipkan emoticon sedih.
[Loh, kok bisa? Sabar ya, Bu.]
Akhirnya aku ceritakan padanya yang aku alami. Entah kenapa keraguan yang sempat hinggap, kini hilang. Tidak ada rasa khawatir saat aku menceritakan masalahku padanya. Seolah-olah aku telah lama mengenalnya. Saat berkirim pesan dengannya, ada kehangatan yang menjalar di dalam dadaku.
Aku juga menceritakan kalau orang tuaku sudah lama meninggal. Aku tinggal sebatang kara, tidak punya keluarga lagi. Dia bilang dia turut sedih, setelah mengetahui kisahku. Bahkan dia bilang sampai menangis.
[Itulah Bu, makanya aku bingung sekarang. Mau kerja tapi nanti anakku siapa yang jaga. Kalau mau di bawa kerja, mana ada yang mau terima, Bu!.] Ku kirim lagi pesan padanya. Entah mengapa air mataku bercucuran setelah aku mengirimkannya.
[Kalau kamu mau, aku mau dititipin anak kamu hehe... ] Deg. Benarkah? Atau dia hanya bercanda, dadaku semakin bergemuruh. Harap-harap cemas itu yang ku rasa. Aku bingung, harus aku jawab apa? Aku terdiam menatap layar, apa yang harus ku katakan padanya?
[Kalau kamu mau loh, Bu. Kalau nggak mau, ga papa.] balasnya lagi, mungkin dia menunggu lama balasanku.
[Ibu serius? Nanti Ibu bawa kabur pula anakku hehe (bercanda bu)] Entah kenapa tidak ada rasa khawatir saat aku mengetik kalimat itu.
[Haha … nggak mungkinlah, Bu. Tapi aku serius loh, kalau kamu mau anakmu aku yang jagain kalau kamu kerja.] Lagi dia meyakinkanku.
Setelah banyak berkirim pesan akhirnya aku tahu kalau dia tinggal di kabupaten, kira-kira empat jam perjalanan dari tempat tinggalku sekarang. Dia juga menceritakan kalau ada masalah dengan sistem reproduksi pada suaminya yang mengakibatkan mereka sulit untuk memiliki anak. Darinya juga aku mengetahui kalau dia bekerja di sebuah rumah sakit daerah di kota itu.
[Gimana, Win? Kalau kamu memang mau, biar nanti malam saya bicarakan dengan keluarga saya. Dan besok kami jemput kamu kesana.] pesan dari Bu Mira, aku memintanya untuk memanggilku dengan nama saja, karena usia kami terpaut jauh.
[Iya, Bu! Saya mau.] balasku. Akhirnya ku putuskan anakku akan ku serahkan pada Bu Mira. Ada rasa lega karena aku menemukan orang yang akan menjaga anakku. Entah perasaan dari mana, aku merasa Bu Mira adalah orang yang baik. Aku yakin anakku akan bahagia bersama mereka.
__ADS_1
[Baiklah, besok saya dan suami kesana, ya. Sekarang kamu siapin aja apa yang mau di bawa besok.]
[Baik Bu] balasku singkat.
Setelah selesai berkirim pesan dengan Bu Mira, aku selesaikan pekerjaan rumah, makan lalu istirahat. Sambil berbaring, aku memikirkan bagaimana caraku pamit sama Mbak Tri, bagaimana cara menyampaikan nanti. Semua ku susun di dalam hati. Tidak lama setelah itu, aku pun tidur.
****
Sore hari itu, setelah mandi dan beberes rumah, aku ke rumah Mbak Tri.
"Mbak Tri!" panggilku.
"Masuk aja, Win!" teriak Mbak Tri, sepertinya ia sedang di dapur. Lalu aku pun masuk.
"Lagi masak apa, Mbak!" tanyaku setelah aku sampai di dapur.
"Ini, Win, mau masak risol sama bakwan. Pesanan Bu Sofia." jawabnya. Mba Tri memang sering dapat pesanan makanan.
"Lumayan, Win! Cukuplah buat jajan Lea hehe… ." Mbak Tri terkekeh.
"Perkiraan lahiran kamu kapan, Win?"
"Tiga minggu lagi, Mbak!" jawabku tanpa menoleh.
"Nggak terasa ya, udah mau lahirin aja."
"Iya, Mbak! Mungkin aku akan lahiran di kabupaten, Mbak!" kataku menunduk.
"Di tempat siapa? Bukannya kamu nggak ada keluarga disana? Kenapa nggak disini aja?" Mbak Tri menghentikan kegiatannya, menatapku menyelidik.
"Di– itu, di tempat kakakku, Mbak." kataku berbohong. Mbak Tri menatapku seolah ingin menelanjangiku.
"Kakak? Kakak yang mana?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Kak Minarsih, Mbak. Ternyata dia disana. Dia kemarin menghubungiku, dan katanya besok dia akan menjemputku." Lagi-lagi aku berbohong.
"Kamu yakin? Dari mana kamu tau dia kakakmu? Sekarang banyak penipuan, Win! Harus hati-hati." Mbak Tri mengingatkanku. Dia terlihat khawatir padaku.
"Aku yakin, Mbak! Dia selama ini mencariku. Aku yakin karena dia punya foto bapak sama ibu." Makin banyak lagi kebohongan yang kubuat. 'Ya, Tuhan! Ampuni aku' Rintihku dalam hati.
Sepertinya Mbak Tri mulai percaya dengan kebohonganku, dia tidak lagi menanyakan sesuatu yang membuatku berbohong lagi.
"Kamu bakal balik kesini lagi atau bakal netap disana?" tanya Mbak Tri setelah beberapa saat kami saling diam.
"Belum tau, Mbak. Yang penting lahiran dulu aku, Mbak. Yang lainnya nanti aku pikirkan belakangan." Mbak Tri mengangguk.
Aku memang sengaja menyembunyikan rencanaku, aku tidak ingin nanti ada yang berniat menghalangi rencanaku. Aku tahu Mbak Tri peduli sama aku dan anakku, dan pasti dia tidak akan setuju dengan rencanaku ini.
"Kalau nanti kamu balik kesini, trus kamu kerja, anakmu titipin sama aku aja, Win." ujar Mbak Tri, aku hanya tersenyum kecut.
"Kira-kira ada yang mau beli perabotanku nggak ya, Mbak?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kok di jual? Siapa tau nanti kamu balik lagi kesini."
"Buat biaya lahiran, Mbak! Nanti kalau balik kesini lagi, kan bisa beli lagi kalau udah kerja."
"Iya ya… Nanti aku bantu jualin. Kamu buat aja catatan harganya. Kapan kamu berangkatnya?" tanya Mbak Tri.
"Besok, Mbak! Biar beli perlengkapan bayi di sana aja, soalnya belum beli sama sekali."
"Hmm… " Mbak Tri menghela nafas kuat, netranya nampak memerah seperti ingin menangis. Apakah dia sedih karena akan berpisah denganku? Sebenarnya aku pun sedih berpisah dengannya. Karena selama kenal dengannya, kami seperti dua orang saudara yang kadang pergi bersama, masak bersama dan kadang makan bersama. 'Semoga Bu Mira juga orang baik' harapku dalam hati.
Malam itu Mbak Tri dan Lea tidur di kontrakanku, kami bercerita banyak hal. Kami juga menangis sedih bersama karena akan berpisah. Mungkin seperti ini rasanya punya keluarga. Ada bahagia saat bersama, dan sakit saat berpisah.
Bersambung
__ADS_1