Penantian Winarsih

Penantian Winarsih
Episode 15


__ADS_3

Aku terus menangis sambil memeluk ayah dan memintanya tidak meninggalkanku. 


"Ayah… Ayah… jangan pergi,Yah!" teriakku saat ayah berusaha melepaskan pelukanku. Aku tersedu-sedu, dan terus memanggil-manggil ayah. 


"Win… Win…. " Sebuah suara memanggil namaku. 


"Win, bangunlah. Kamu belum makan dari tadi." katanya sambil menepuk-nepuk wajah ku. "Ya, Tuhan! Win, kamu demam, Win." suara itu terdengar panik, apakah aku salah dengar? 


Perlahan aku membuka mata, mataku seperti tidak mau terbuka. 


"Win, kamu udah bangun? Ini makan dulu." Itu suara Bu Sukma, ku kucek mataku agar bisa melihat. 


"Kamu kenapa, Win? Ibu khawatir ada apa-apa sama kamu. Kamu terus berteriak-teriak! Badan kamu panas lagi." Kini aku sudah bisa melihatnya, walau rasanya mataku hanya terbuka sedikit. 


Tadi aku bertemu ayah ternyata hanya di alam mimpi, tapi rasanya seperti nyata. Aku benar-benar menangis. 


"Tadi kamu mimpi, ya? Sampe teriak-teriak panggil ayah. Kalau ibu boleh tau, tadi kamu mimpi apa?" tanya Bu Sukma, kini tatapannya melihatku iba. Tidak ada lagi tatapan sinis dan benci seperti sebelumnya. Dia bahkan mengelus-elus lembut tanganku kini. 


"Eh… kamu makan dulu aja, kamu pasti lapar kan? Tadi siang kamu nggak makan." Perhatian Bu Sukma kini membuatku merasakan sesuatu di dalam dadaku, rasanya seperti ingin meledak. Bukan karena marah atau sedih, tapi aku merasa bahagia, mendapat perhatian darinya. Beginikah rasanya punya ibu? 


"Bentar, ibu ambil dulu makanan untuk mu, ya," ujarnya sebelum melangkah keluar dari kamar. Ya, Tuhan, ada apa dengan Bu Sukma? Kenapa tiba-tiba dia begitu perhatian padaku? Baru tadi pagi aku melihat tatapan sinisnya, tapi sekarang tatapan itu telah menjadi tatapan sayang. Ada apa dengannya? 

__ADS_1


"Ini makanlah, kamu harus banyak makan, biar cucu ibu sehat!" Apa? Dia menyebut anakku cucu? Betulkah ini? Kini air mataku kembali bercucuran, ah… kenapa belakangan ini aku begitu mudah menangis? Cengeng! 


"Ini, kok malah bengong!" Bu Sukma menyodorkan piring di tangannya. "maafin ibu, ya!" ucapnya lagi, saat aku hanya menatapnya, bingung. 


"Ke– kenapa ibu minta maaf?" tanyaku terbata. 


"Sudah, kamu makan dulu, biar ada tenaga nanti cerita sama ibu." Ibu mengulurkan sendok berisi nasi, hendak menyuapiku. 


"Biar saya sendiri aja, Bu!" kataku, lalu mengambil piring dari tangan Bu Sukma. 


Aku pun makan dengan lahap. Aku memang sudah sangat lapar. Ternyata jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah empat sore. Seingatku, aku tadi sedang menelpon Mbak Tri. Lalu entah apa yang terjadi setelah itu.


"Ini, nemenin Win lagi makan. Kayaknya dia lagi demam," Bu Sukma menjelaskan. 


"Demam? Kok bisa, Win? Masuk angin ya?" terlihat Mbak Mira mengkhawatirkanku. 


"Biar dia selesai makan dulu, Mir!" Bu Sukma sedikit mendelik pada menantunya itu. Mbak Mira tersenyum. Lalu ia pergi, sementara Bu Sukma masih setia menemaniku. Entah apa yang merasukinya.


*****


Setelah selesai makan, Mbak Mira dan Bu Sukma masih setia menemaniku. 

__ADS_1


"Bu, tadi kenapa ibu minta maaf?" tanyaku penasaran. 


"Sikap ibu udah keterlaluan sama kamu kemarin-kemarin. Ibu takut kamu hanya manfaatin anak mantu ibu, cuma nggak tau cara mengungkapkannya. Si Mira ini orangnya gampang percaya sama orang, gampang kasihan dan iba sama orang lain." ucapnya sambil menatapku, mungkin ia mau menyelami hatiku, apakah disana ada niat buruk pada mereka, dan tentu saja ia tidak akan pernah menemukannya karena aku memang tidak pernah berniat mau menipu mereka. 


"Dulu kami, tepatnya mereka ini udah pernah ditipu. Ada seorang perempuan datang ke rumah ini, entah bagaimana awalnya dia bisa sampai disini. Sendirian. Dalam keadaan hamil juga. Tapi dia masih hamil muda, baru masuk tiga bulan. Dia mengatakan orang tuanya orang yang tidak mampu, katanya di ujung pulau jawa. Dia bilang, dia ingin nanti anaknya kalau lahir biar di adopsi sama mereka ini, karena wanita itu tidak sanggup untuk membiayai. " Mata Bu Sukma menerawang. 


"Mungkin karena anak mantuku ini pengen sekali punya momongan, meski bukan anak kandung, mereka langsung percaya saja. Jadi perempuan itu tinggal disini sampai melahirkan. Biaya semuanya Mira dan Dewa yang menanggung. Anaknya lucu, perempuan, kami semua sayang sama anak itu." Bu Sukma diam sesaat, kini matanya yang tadinya berkaca-kaca, mulai menitikkan bulir-bulir bening.


"Ibu sebenarnya kan tinggal di kota, cuma sekali-sekali disini. Jadi, saat bayi itu lahir, ibu kesini, tapi nggak bisa lama-lama, karena nggak bisa ninggalin Ratih, adeknya Dewa, terlalu lama. Saat itu dia masih SMA. Jadi setelah Ibu pulang, Mira dan Dewa lagi kerja, nah itu perempuan buat ulah. Dia kan tinggal di rumah sendirian. Saat itu, dia pergi tanpa permisi, bawa anaknya dan selain itu dia juga mencuri perhiasan dan logam mulia Mira, ada banyak. Ibu pun nggak tau persisnya. Pokoknya semua dibongkarnya, barang berharga yang bisa di bawa, dia ambil semua. Saat mereka pulang, mereka menemukan rumah berantakan, tidak ada perempuan itu dan anaknya. Awalnya kami berpikir, rumah ini habis dirampok, perempuan dan anaknya itu kami pikir diculik. Tapi untungnya rumah ini dari dulu udah pake cctv, dan ternyata perempuan itu pelakunya dan dia dibantu oleh seorang pria." Bu Sukma menghela nafas. Kini aku mulai mengerti mengapa sikapnya padaku agak sedikit menyebalkan. 


"Padahal dia disini diperlakukan bak ratu, semua serba dilayani. Sebelumnya juga dia minta duit sepuluh juta, katanya buat modal ibunya untuk buka warung kecil. Tapi hilang semua. Entah bod*h atau terlalu baik mereka berdua ini, ibu juga nggak ngerti." Ibu itu kini menatapku lembut, bahkan dia tersenyum padaku, ini untuk pertama kalinya Bu Sukma tersenyum padaku. 


"Makanya, waktu mereka memberi tahu tentang kamu sama ibu, ibu memang nggak setuju, Ibu nggak mau kecewa untuk kedua kali, tapi ini malah ngotot! Nggak ada kapoknya, jadinya ibu setuju asal ibu tinggal disini. Ibu harus mengawasi, nggak mau kecolongan lagi!" Kini ibu itu menoel pelan hidung menantunya itu, dan Mbak Mira tersenyum. Pemandangan yang indah menurutku. Terlihat sepasang mertua dan menantu itu saling menyayangi. 


"Ini, kalau diingatin lagi soal kejadian itu, selalu jawab 'nggak apa-apa ma, Tuhan itu baik dan adil. Nggak usah pikirin yang nggak perlu. Biar Tuhan yang bekerja selanjutnya, kita cukup melakukan bagian kita aja, berbuat baik pada siapa saja. Sekalipun orang itu jahat sama kita.' aduuh… pengen rasanya tak uwel-uwel anak ini," Dengan ekspresi yang lucu Bu Sukma menirukan suara menantunya itu, membuat kami tertawa. 


"Kesel toh, kita khawatirin dia, ehh malah ibu pula yang diceramahin. Dasar, menantu baik mama ini." ucap Bu Sukma, sambil meremas tangan Mbak Mira. Melihat itu, tiba-tiba ada yang mengalir hangat didalam dadaku. Pemandangan yang luar biasa, aku tersenyum-senyum melihat mereka. Aku turut bahagia melihat kebersamaan mereka. Andai aku punya mertua, apakah akan seperti ini? Batinku.


"Lalu, mengapa Ibu tiba-tiba berubah?" tanyaku, saat Bu Sukma tidak bicara lagi. Air muka wanita paruh baya itu sedikit berubah, tapi dia tetap tersenyum. 


Ini merupakan novel pertama author, mohon dukungan like dan komennya kakak. Terima kasih sudah mau mampir. Kalau ada krisan dari kakak kakak, author dengan senang hati menerima, demi kwalitas tulisan saya yang lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2