Penantian Winarsih

Penantian Winarsih
Dicurigai


__ADS_3

Aku tajamkan lagi pendengaranku, benarkah yang aku dengar? 


"Itulah, Bu! Malu sebenarnya menampung orang yang nggak bisa jaga diri. Ngerepotin, cuma mau gimana lagi, Dewa sama Mira ngotot pengen bantu anak itu." Suara Bu Sukma dari warung. Sepertinya ada beberapa ibu-ibu duduk lesehan, sehingga aku tidak dapat melihat mereka karena tertutup etalase yang terletak di depan warung.


"Tapi kok anak itu bisa minta tolong sama Mira, Bu Sukma? Lah mak bapaknya kemana?" Terdengar pertanyaan dari ibu lain. 


"Dia yatim piatu, orang tuanya udah lama ninggal, kata Mira dia udah nggak ada keluarganya."


"Yo, wajar to, Bu, kalau kehidupan anak itu bebas. Siapa yang ngajarin kalau dia udah nggak punya siapa-siapa Bu Sukma, nggak ada yang ngawasin." Aku pura-pura sibuk memilih jajanan agar aku bisa mendengar obrolan mereka.


"Iya, Bu. Malah kasihan, udah nggak punya siapa-siapa, ketemu sama laki-laki hidung belang lagi," sahut sebuah suara lagi, yang entah seperti apa wujudnya. 


"Kasihan kalau dia tau diri, Bu Tum! Aku nyuci baju, dia malah nyantai tidur-tidur. Makan tinggal makan, piring kotor nggak dicuci," Bu Sukma mulai mengarang cerita. "lagian ya, Bu, aku sering lihat dia suka melirik anakku. Kan takut, Bu! Nanti rumah tangga anakku yang hancur." Tambahnya lagi. 


Ya Tuhan, kenapa Bu Sukma tega memfitnahku begitu? Tidak pernah terlintas sedikitpun di benakku untuk menghancurkan rumah tangga Mbak Mira. 


"Mbak, mau beli apa?" tanya yang punya warung, ia menatapku curiga. Aku menyerahkan roti dan jajanan yang ada di tanganku. Lalu aku memberikan uang berwarna biru. 


"Kamu ting–" Belum selesai ibu itu bicara aku sudah pergi begitu saja. Entah apa yang mau diucapkannya. 


"Hei,  Mbak! Ini kembaliannya belum!" Aku terus melangkahkan kakiku tanpa peduli teriakan pemilik warung itu. 


Sudah tidak ada lagi air mata yang keluar mendengar obrolan Bu Sukma dan ibu-ibu yang lain. Entah sudah habis saat aku menangis tadi, atau hatiku yang sudah mulai terbiasa. 


Meski orang tuaku telah lama meninggal, tapi aku belum pernah merasa sesakit ini. Aku pikir mendengar ucapan dari Mbak Hanyk waktu itu yang paling menyakitkan, tapi ternyata sekarang aku merasakan yang lebih sakit. Apakah Tuhan marah padaku karena menyerah terhadap anakku? 


Ketika aku sedang makan roti di kamar, terdengar langkah kaki dari arah luar menuju ruang keluarga. Aku cepat-cepat menyembunyikan makananku di bawah tempat tidur. Bukan apa-apa, aku hanya takut yang datang Bu Sukma. Aku tidak mau dia akan mengataiku lagi. 


"Lagi ngapain, Win, udah makan?" Ternyata yang datang adalah Mbak Mira. Dia masih memakai baju kerjanya. 


"Belum, Mbak!" jawabku jujur. 


"Kok belum?  Ini udah sore, loh! Nanti sakit, kamu harus banyak makan. Eh…  kenapa wajahmu sembab gitu? Kamu nangis? Kenapa? Kamu nggak betah? " tanyanya bak kereta api. 


"Nggak, Mbak! Aku nggak selera, pengen makan roti tadi, Mbak. Jadi aku beli tadi di warung. Tuh udah banyak ku makan," ujarku,  sedikit berbohong. 

__ADS_1


"Tapi kamu harus tetap makan, Win! Sana makan, gih! Aku mau ke kamar, istirahat dulu. Jangan lupa makan." Aku hanya mengangguk. 


Setelah Mbak Mira pergi, aku beranjak untuk mengunci pintu. Setelah itu aku melanjutkan kembali roti. 


Tok! Tok! Tok! 


Lima belas menit setelah aku mengunci pintu, sebuah ketukan terdengar dari depan pintu. 


"Ada apa, Mbak?" tanyaku setelah aku bukakan pintu.


"Keliling komplek yok, biar nggak suntuk. Baru jam lima ini." ajak Mbak Mira, netranya melihat jam yang tergantung di dinding. 


"Kamu capek, ya? Ya–"


"Nggak kok, Mbak. Aku mau," Aku merasa tidak enak menolak ajakan Mbak Mira.


Kami pun mengitari jalanan komplek berdua, sambil bercerita tentang banyak hal. Tentang keluarganya, tentang keluarga Mas Dewa, dan lainnya. 


"Mau kemana, Mir?" tiba-tiba ada motor yang berhenti disamping kami. 


"Ini habis belanja, Mir," jawab ibu yang memakai jilbab warna biru dongker, kini matanya tertuju padaku. "siapa,  Mir?"


" Sepupu saya, Bu,"


"Hati-hati, Mir! Jaga suami kamu baik-baik, sekarang banyak pelakor gentayangan." Wanita itu melihatku sinis. 


"Maksudnya, Bu?" Sepertinya Mbak Mira belum sadar arah ucapan Bu Tumina. 


"Sekarang itu banyak malah saudara sendiri yang menghancurkan kita, Mir. Jangan mudah percaya, walaupun saudara sendiri." Bu Tumina melihatku dan Mbak Mira bergantian. 


Aku melihat Mbak Mira menatapku sepertinya ia merasa tidak enak. Ia sepertinya sadar ucapan Bu Tuminah itu menyindirku. 


"Ya udah, Bu! Kami lanjut jalan ya, udah makin gelap ini, Bu," Mbak Mira menarik tanganku. 


"Mir… ." panggil ibu itu lagi, Mbak Mira membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ibu cuma ingatin supaya hati-hati. Rambut boleh sama hitam tapi hati nggak ada yang tau." 


"Makasih, Bu!" ucap Mbak Mira lalu kembali menarik tanganku. 


Setelah kejadian itu, aku dan Mbak Mira saling diam. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, entah apa yang dipikirkannya. Apakah mulai saat ini Mbak Mira tidak akan percaya lagi padaku? Apakah dia akan khawatir aku akan akan mengambil suaminya? Tidak Mbak, aku tidak akan mengambil suamimu, percayalah. Tidak pernah ada niat dalam hatiku untuk itu, terlintas pun tidak.


"Win, Win!" Mbak Mira menepuk bahuku. "kamu kenapa?" 


"Kenapa, Mbak?" tanyaku bingung. 


"Ee… ditanya malah balik nanya. Kamu kenapa geleng-geleng kepala tadi?" Herannya. 


Ternyata tanpa sadar tadi aku menggeleng-gelengkan kepalaku, saat aku sibuk dalam lamunanku. 


"Nggak papa, Mbak, tadi ada lalat gitu lewat di depan wajahku," Aku bohong menutupi rasa maluku.


*****


Sudah satu minggu aku tinggal di rumah Mbak Mira. Bu Sukma tiap hari menyuruhku ini dan itu, kadang caci makian juga ia lontarkan untukku. Aku tidak tahu letak kesalahanku dimana, sehingga Bu Sukma begitu membenciku. Mungkin karena aku numpang di rumah anaknya. Atau mungkin Bu Sukma tidak percaya kalau aku mengandung dari hasil pernikahan, yang malangnya suami ku pergi disaat aku dalam keadaan mengandung. 


Aku tidak pernah meminta nasibku seperti ini. Tidak akan ada orang yang ingin hidupnya sepertiku. Ditinggal orang tua disaat masih sangat membutuhkan kasih sayangnya, tidak punya sanak saudara, dan sialnya lagi sekarang aku bahkan ditinggalkan sama orang yang seharusnya menjadi sandaranku.


Dulu aku masih sangat bersyukur ketika ayah baru meninggal, aku tidak jadi anak jalanan. Pak Haji mau menampungku, dan membantu biaya ku sampai aku lulus SMP. Setelah aku lulus SMP, aku tidak melanjutkan sekolahku. Pak haji menyuruhku menjaga kios penjual pulsa miliknya, dan aku boleh tinggal disana. Pak Haji membuatkanku kamar, yang berdindingkan triplek. 


Pak Haji tidak mengijinkan ku untuk tinggal di rumahnya karena ia memiliki anak laki-laki, yang umurnya beberapa tahun di atasku. Pak Haji Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika aku tinggal disana.


Ayahku dulu semasa hidupnya bekerja mengolah lahan milik orang lain, hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membayar uang kontrakan rumah per bulan. Ayah meminta upahnya dibayar per bulan.


Kata ayah, dulu ibu meninggal karena sakit. Tapi karena tidak ada biaya, ibu tidak dibawa berobat. Ayah juga tidak tahu ibu sakit apa waktu itu.


Ayah dua kakak beradik, dan ayah adalah anak pertama. Ia memiliki adik perempuan yang jaraknya lima tahun di bawah umur ayah.


Saat ayah duduk di bangku SMA, ayah tinggal ngekos karena letak sekolah cukup jauh dari rumah kakek. Suatu hari, ayah dijemput dari sekolah oleh tetangga kakek. Katanya ayah harus pulang, karena ada hal yang penting yang menyebabkan ayah harus pulang. Saat itu ayah hanya menurut saja meski di dalam hatinya bertanya-tanya. ketika syah bertanya, kata orang yang menjemputnya, ayah akan tahu hal penting itu nanti saat tiba di kampung. 


Saat tiba di kampung, dia sangat terkejut. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2