Penantian Winarsih

Penantian Winarsih
Episode 22


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak perlu memikirkan jawaban untuk pertanyaan Genta, karena jika Mas Roby datang dan memintaku untuk kembali padanya, jelas aku akan menjawab 'tidak'. Tidak pernah terbesit sedikitpun untuk kembali lagi padanya. 


Yang jadi pertanyaan di dalam benakku adalah, untuk apa Genta menanyakan hal itu? 


"Apa jawabanmu, Win?" tanya Genta lagi di saat aku menyimpan tanya di balik pertanyaannya tadi. 


"Jelas aku nggak akan mau balik sama dia lagi. Nggak akan ada alasan yang bisa diterima saat suami pergi meninggalkan istrinya tanpa kabar apapun." jawabku yakin.


Tidak akan mungkin aku mau kembali pada orang yang jelas-jelas menelantarkanku dan anakku. Seandainya dulu ia tidak pergi tanpa kabar, mungkin saat ini aku masih bisa memeluk dan merawat anakku. 


"Apa yang akan kamu lakukan jika dia ingin bertemu dengan anakmu?" 


"Dia nggak punya hak untuk itu,"


"Kamu nggak bisa bilang seperti itu, Win! Apapun alasannya, laki-laki itu tetap bapak dari anak kamu." aku tersenyum miris dengan kata-kata Genta. Ia benar, bagaimanapun caraku menjauh kan Bening dari Mas Roby, Bening tetaplah anaknya. Tapi dia telah membuangku disaat Bening masih dalam kandunganku, bukankah itu artinya dia juga telah membuang Bening? 


"Apakah masih pantas dia disebut bapak, setelah apa yang dia lakukan? Seandainya pun dia sudah tidak mencintaiku lagi, bukankah seharusnya dia bertahan jika memang dia peduli pada anaknya yang masih di dalam kandunganku? Sekalipun dia sangat membenciku, bukankah seharusnya dia tetap memberikan kenyamanan padaku, demi anaknya yang akan ku lahirkan? Lalu kenapa dia malah mencampakanku? Dan sekarang dia datang seolah-olah tidak terjadi apa-apa?" tanyaku meluapkan emosi, disaat Genta mengingatkanku pada status Mas Roby sebagai bapak dari Bening. 


"Win, bukankah kamu juga melakukan hal yang sama?"


"Maksudmu?!" tanyaku pelan namun penuh penekanan. 


"Maaf kalau kata-kataku ini menyinggung perasaanmu. Bukankah kamu juga memberikan anakmu di urus oleh orang lain?" 


"Maksudmu, aku sama dengan b*jing*n itu?" tanyaku dengan memicingkan kedua mataku. "Kamu tau apa, sehingga kamu berani menilai aku seperti itu? Bahkan, kamu baru mengenalku, tapi kau menilaiku seolah-olah kau sangat tahu semua tentangku!" ucapku setengah berteriak, aku tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan kami. 


"Kau tidak tau apa yang ku rasakan, dan tidak akan pernah tau. Aku memberikan orang lain untuk mengasuh anakku, itu untuk kebaikannya," saat berkata seperti itu, suaraku nyaris tidak terdengar karena tertahan seiring dengan aku menahan tangisan yang berusaha kubendung. 


Tidak ada yang tahu seberapa besar rasa rinduku pada Bening. Mungkin untuk sebagian besar orang, akan menilaiku seperti Genta, yang mengatakan aku sama saja dengan membuang anakku. Mungkin banyak orang yang mengatakan aku bodoh karena tidak mau berjuang untuk menghidupi anakku. Mungkin ada juga yang menilaiku kurang iman.


Yah, mungkin aku memang bodoh, kurang iman, atau apalah hal buruk lain yang mereka ucapkan untuk menilaiku. Tapi biarlah aku menjadi orang bodoh dan kurang iman, yang penting aku tahu anakku tinggal di tempat yang aman, tidak akan kelaparan, dan yang terpenting dia tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua barunya. Semoga orang-orang yang memberi label 'orang bodoh dan kurang iman' padaku, tidak pernah mengalami apa yang telah kualami. 

__ADS_1


Aku tidak tahu bagaimana nasib Bening jika dia tetap bersamaku, mungkin nasibnya tidak akan jauh beda dariku. Makan seadanya, tidur hanya beralaskan tikar, dan terkadang mendapatkan sesuatu dari belas kasihan orang lain. Sampai umurku tiga tahun ayah selalu menitipkanku pada orang lain, pada saat ayah bekerja. Setelah tiga tahun, aku kadang ditinggal sendirian di rumah, atau sesekali di bawa ke ladang. Setelah ayah meninggal, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Dan seperti inilah nasibku sekarang. 


Membayangkan itu terjadi pada Bening membuatku tidak bisa lagi menahan tangis. Sekarang aku merasa tenang saat aku tahu Bening bersama orang yang menyayanginya, ia mendapatkan kasih sayang yang penuh dari keluarga yang menyayanginya. Dan aku tidak merasa menyesal karena semua itu, karena aku juga tidak akan bisa menyakitinya seperti yang pernah aku lakukan padanya. Meski aku harus mengorbankan perasaanku, asal dia bahagia, buatku itu sudah cukup. 


"Maafkan aku, Win. Aku hanya ingin mencoba membuka pikiranmu, kamu pasti punya alasan mengapa kamu melakukan itu pada anakmu, dan mungkin juga suamimu punya alasan mengapa ia pergi dan tidak memberi kabar. Apakah kamu nggak ingin tau alasannya?" ucap Genta, ketika kami sudah di dalam mobil hendak pulang. 


"Iya, dia punya alasan, lalu untuk apa aku mengetahuinya?" tanyaku pelan. 


"Supaya kamu tidak menyesal suatu saat nanti. Setelah kamu mengetahui alasannya, kamu akan mengambil keputusan yang tepat. Win, kamu harus menyelesaikan masalahmu, bukan malah menghindar. Kalau dia menghubungimu, bicaralah padanya." Genta menghentikan mobilnya di dekat sebuah taman. 


"Apa kamu ingin aku rujuk sama laki-laki itu?" tanpa kusadari pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku terkejut dengan pertanyaanku sendiri, seketika aku merasa bodoh. Aku menepuk kepalaku sendiri, saat aku melirik Genta, ia malah menatapku tersenyum, membuatku semakin merasa konyol. Senyumnya membuatku lupa kekesalanku padanya.


"Aku nggak akan mengatakan aku ingin atau tidak, yang perlu kamu tau, aku pengen melihatmu bahagia, tentu saja dengan pilihanmu." ucapnya setelah sekian detik dia menatapku sambil tersenyum. Lalu ia menarik tanganku. "percayalah, aku akan selalu ada saat kamu butuh aku. Aku nggak akan mempengaruhi keputusanmu, kamu yang tau mana yang baik buatmu. Jadi pikirkanlah dengan baik." dia menggenggam tanganku erat, genggaman tangannya seperti mengalirkan sengatan listrik ke dalam dadaku, aku merasakan sesuatu di dalam diriku, yang belum pernah ku rasakan sebelumnya, bahkan saat Mas Roby masih bersamaku. Saat ku tatap matanya, disana seperti tengah berharap sesuatu, tapi entahlah. 


"Kita pulang atau kamu masih mau jalan-jalan?" tanya Genta setelah ia melepas genggaman tangannya. 


"Pulang aja, yuk! Aku pengen istirahat." ajakku. 


Ku lihat Genta meraih hp nya setelah menekan tombol di layar yang ada di dashboard mobil, lalu mengutak atiknya sebentar tak lama kemudian terdengar alunan lagu dari speaker mobil.


'Berawal dari tatap


Indah senyummu memikat


Memikat hatiku yang hampa lara


Senyum membawa tawa


Tawa membawa cerita


Cerita kasih indah tentang kita

__ADS_1


Terkadang ku ragu


Kadang tak percaya


Tapi ku yakin kau milikku


Kau membuatku bahagia


Di saat hati ini terluka


Kau membuatku tertawa


Di saat hati ini terbawa


Terbawa oleh cintamu untukku


Untuk kita….'


Sesekali Genta terdengar ikut menyanyikan lirik lagu dari Yura itu. Aku tidak tahu apa maksud Genta memutar lagu yang berjudul 'Berawal Dari Tatap'itu. Apakah itu suara hatinya? Tanyaku dalam hati.


Setelah kami sampai di depan ruko tempatku kerja, Genta menghentikan mobilnya. 


"Win," panggilnya saat aku hendak membuka pintu. Lalu aku menoleh padanya. 


"Ada yang mau aku katakan, tapi setelah masalahmu selesai dengan suamimu. Jadi, aku berharap kamu tidak menghindar darinya lagi." ucapnya. Lalu ia keluar dari mobil.


"Silahkan, Nona," ucapnya dengan tersenyum manis, sesaat setelah ia membukakan pintu untukku. Debaran di dadaku semakin menjadi dengan perlakuan Genta. "kamu masuklah, aku melihatmu dari sini," ucapnya sambil mengerlingkan matanya. Membuatku tersipu. 


Aku pun berjalan melewati jalan setapak di sebelah ruko menuju rumah yang terletak di belakang ruko. 


"Hoi!" teriak seseorang, yang membuatku terlonjak kaget. 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2