
Mbak Mira terkejut saat tiba-tiba aku menyerahkan bayiku padanya. Entah kenapa hatiku terasa sakit saat melihat wajahnya yang mirip dengan Mas Roby. Mbak Mira pun langsung menggendong anakku.
"Siapa namanya, Win?" tanya Mbak Mira yang menatap wajah anak dalam pangkuannya. Aku menggeleng, tapi Mbak Mira tidak melihatku. Aku menahan gejolak di dalam dada.
"Win?" Kini Mbak Mira melihatku.
"Kamu kenapa, Win? Ada yang sakit?" Aku tidak lagi mampu membendung air mataku yang kini menganak sungai. Aku hanya menggeleng, menjawab pertanyaan Mbak Mira.
Kemudian Mbak Mira memelukku, setelah ia meletakkan bayiku yang sedang tidur, ke dalam boks bayi yang ada di sebelah ranjangku.
"Sudah, jangan menangis! Kalau ada apa-apa, cerita, jangan dipendam sendiri," Aku masih terisak di pelukan Mbak Mira. Mbak Mira berusaha menenangkanku.
"Kamu nggak boleh stres, Win. Kasihan anak kamu. Sudah, jangan sedih lagi, ya." Aku hanya mengangguk.
"Win, kamu nggak perlu khawatir soal anak kamu. Kamu nggak akan berpisah dari dia, kamu yang akan merawat anak kamu sendiri. Jadi nggak udah dipikirkan, ya?" Mungkin Mbak Mira berpikir kalau aku menangis karena anakku akan di ambil sama mereka.
Setelah aku melihat wajah anak itu, membuatku semakin yakin, Mbak Miralah orang yang tepat untuk menjadi orang tua dari anakku. Seandainya dia tinggal samaku, aku takut malah akan membahayakan anakku. Ada rasa ingin menyakiti anak itu. Aku merasa dialah penyebab kesusahanku sekarang, andai dia tidak ada di dalam perutku, aku pasti sudah kerja tanpa harus menyusahkan orang lain. Dengan melihat anak ini aku akan selalu mengingat Mas Roby, penghianat itu.
"Mbak, tolong jauhkan anak itu dariku, Mbak!" pintaku pada Mbak Mira. Mbak Mira menatapku heran.
"Tolong, Mbak!" Air mata yang tadi sudah berhenti mengalir, kini mengalir lagi. Akhirnya, karena Mbak Mira melihatku yang tidak ingin melihat anakku, Mbak Mira pun menggeser boks bayi ke sudut ruangan.
"Sudah, nggak usah banyak pikirin, Win. Aku memang nggak tahu apa yang kamu rasakan sekarang, cuma aku yakin kamu pasti kuat." Mbak Mira memelukku.
"Sekarang baringlah, nggak bagus kamu terlalu lama duduk," aku hanya menurut.
*****
Setelah dua hari di rumah sakit, aku pun diperbolehkan untuk pulang. Saat kami sampai di rumah Mbak Mira, rumah terlihat ramai. Sepertinya keluarga Mbak Mira dan Mas Dewa sedang berkumpul.
__ADS_1
Mereka menyambutku dengan suka cita, bahkan aku belum mengenal mereka tapi mereka memperlakukanku seperti anggota keluarga. Mereka memelukku secara bergantian.
Ternyata mereka adalah mama dan papa Mbak Mira, ada juga kakak ipar Mbak Mira, yaitu Mbak Kinan dan kedua anaknya yang perempuan berusia kira-kira dua belas tahun dan dan yang kedua laki-laki berumur tujuh tahun, sementara suaminya tidak ikut karena pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Selain itu, ada juga Ranti, adik Mas Dewa.
"Kamu istirahat aja, Win. Habis melahirkan itu harus banyak istirahat, banyak makan biar cepat sehat," Ucap Bu Jenar, mama Mbak Mira.
"Iya, Bu," jawabku sambil tersenyum.
"Panggil mama aja, jangan panggil ibu, mulai sekarang kamu anakku." ucap Bu Jenar, mengalirkan kehangatan ke seluruh tubuhku.
"Iya, Bu eh… M– ma," jawabku sungkan. Dia tersenyum. Dia lalu menyelimutiku.
"Kamu istirahat aja, ya. Mama tinggal dulu, biar kamu bisa istirahat." ujarnya, ia pun berlalu hilang di balik tembok.
Aku begitu tersanjung diperlakukan dengan baik oleh keluarga ini. Betul kata ayah dalam mimpiku saat itu, mereka adalah keluargaku sekarang. Aku sangat berterima kasih pada mereka.
"Siapa nama dedeknya, Tante?" tanya Falisha anak Mbak Kinan, saat ia memain-mainkan jemari bayiku.
"Gimana kalau kita kasih nama Bening aja," Mbak Mira berbinar.
"Iya, Fa setuju. Tapi harus ada tambahannya, Tan," ucap Falisha seraya berpikir. Entah berapa banyak nama yang mereka coba sematkan pada anakku.
"Samain sama nama Fa aja, gimana, boleh nggak?" tanya anak yang sedang duduk di bangku SMP itu.
"Apa?" tanya kami hampir berbarengan. Lalu kami tertawa karena suara kami seperti suara paduan suara.
"Nama Fa kan, Falisha Adriani, jadi nama adeknya kita kasih nama Bening Adriani. Boleh kan, Ma?" tanya Fa pada ibunya.
"Mama sih boleh-boleh aja," ucap wanita yang telah memiliki dua orang anak itu.
__ADS_1
Sepertinya semua setuju dengan saran dari gadis remaja itu
Begitulah mereka, sangat menyayangiku dan juga anakku. Kami seperti telah lama saling kenal. Bahkan aku seperti merasa terlahir dari keluarga ini. Tanpa terasa lagi-lagi kristal bening mengalir dari pelupuk mata, terharu.
Apakah Tuhan sedang mengganti semua kehilanganku selama ini? Terima kasih Tuhan, untuk kebahagiaan ini. Meskipun hanya sesaat aku ikhlas, Tuhan, yang jelas aku seperti merasa punya keluarga yang lengkap sekarang.
*****
Lebih dari sebulan sudah aku melahirkan Bening, Mbak Mira memberinya dengan Tekadku sudah bulat, aku tidak ingin tinggal di sekitar anakku. Aku tidak mau tumbuh kembang anak ku terhambat karena kehadiranku.
Aku pun mulai mencari-cari pekerjaan melalui sosial media, tanpa memberi tahu Mbak Mira dan keluarga. Akhirnya aku sepertinya menemukan pekerjaan yang cocok denganku, walau hanya sebagai asisten rumah tangga. Aku memang tidak berharap lebih, aku sadar hanya tamatan SMP.
Keluarga Mbak Mira sebenarnya sudah membujukku supaya mencari pekerjaan di daerah itu, tapi aku tidak mau. Bahkan Mas Roby sudah menawarkan pekerjaan di kantor temannya, walau hanya sebagai cleaning service, mengingat ijazahku yang hanya tamatan SMP. Tapi Mas Dewa juga menjanjikan, agar ia membantuku untuk mengikutkan ku tes untuk mendapat ijazah SMA agar aku bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Namun, aku menolak. Bukan menolak, tapi menunda dulu untuk sementara. Aku hanya ingin jauh sementara dari Bening. Jika aku dekat dengannya aku takut rasa rinduku akan cepat membawaku padanya, namun saat telah berjumpa malah aku emosi seperti saat di rumah sakit waktu itu.
Aku sudah mencoba untuk menerima kehadirannya, tapi sangat sulit buatku. Tidak bisa kubayangkan jika anak yang baru dilahirkan itu habis di tanganku. Seperti berita-berita di tv, yang membunuh anaknya karena sakit hati pada suaminya. Membayangkan itu air mataku bercucuran. Aku membayangkan anakku habis di tanganku. Ya, Tuhan, ampuni aku. Batinku.
*****
Sudah lebih dari sebulan aku melahirkan. Selama itu pula orang tua Mbak Mira disini, kadang Papa pulang karena ada urusan, setelah itu ia kembali ke rumah Mbak Mira. Mbak Kinan dan keluarganya setiap akhir pekan mereka datang ke rumah Mbak Mira.
Hari ini Mama dan Papa dari Mbak Mira akan kembali ke rumahnya. Katanya sudah terlalu lama mereka meninggalkan rumah.
Kini tinggal aku, Mbak Mira, Bu Sukma dan Bening. Aku sedang menyusui Bening di kamar, sementara Bu Sukma sepertinya sedang istirahat di kamarnya. Mbak Mira pergi ke minimarket untuk belanja keperluan rumah dan Bening.
Perasaanku tiba-tiba dihinggapi rasa sepi, rasanya sunyi sekali. Entah mengapa perasaanku mendadak tidak enak.
"Oeek… oeek… oeek…." tangisan Bening tiba-tiba memekakkan telinga.
__ADS_1
Ini merupakan novel pertama author, mohon dukungan like dan komennya kakak. Terima kasih sudah mau mampir. Kalau ada krisan dari kakak kakak, author dengan senang hati menerima, demi kualitas tulisan saya yang lebih baik.