
Rasa benciku pada Mas Roby sepertinya menular pada anak dalam kandunganku. Rasanya aku tidak ingin melihat anak ini dan itu menguatkan hatiku untuk memberikannya pada orang lain. Aku berpikir kira-kira siapa yang mau menampung anakku?
Entah setan dari mana yang masuk ke dalam hatiku hingga niat untuk memberikan anak ini pada orang lain memberiku semangat. Aku beranjak dari duduk lalu masuk ke kamar. Aku ambil koper, lalu aku memasukan baju-bajuku kedalamnya. Saat aku lagi asik memasukkan baju ke dalam koper, perutku terasa perih, aku baru sadar dari tadi aku belum sarapan, sementara hari sudah hampir siang.
Aku beranjak ke dapur, lalu memasak karena aku memang belum masak sejak tadi. Di dalam kulkas ada ikan nila dan sayur sawi putih yang beberapa hari lalu ku beli. Ikan nilanya ku sambal sementara sawinya ku tumis. Selesai masak, aku langsung makan, rasanya nikmat sekali. Sudah lama rasanya aku tidak makan senikmat ini. Setelah perutku kenyang, aku membereskan bekas masak tadi, lalu mencuci piring bekas aku masak dan bekas makan.
Selesai makan, rasanya semangatku berlipat. Aku melanjutkan kembali memasukkan baju-bajuku ke dalam koper yang tadi sempat ku tinggalkan. Beberapa pasang baju kubiarkan tetap di dalam lemari untuk aku pakai sebelum aku pergi. Tidak lupa surat-surat berharga juga kuselipkan di lipatan baju dalam koper.
Aku sadar jalan yang aku ambil salah, tapi entah kenapa aku tetap yakin untuk tetap melakukannya. Hatiku sudah ditutupi dendam, rasa cinta yang tadinya begitu besar mendadak sirna berganti benci, dan rasa rindu yang begitu berat kini berubah menjadi rasa sakit hati yang teramat sangat. Ditambah dengan tuduhan Mbak Hanyk kemarin, yang mengatakan anak yang aku kandung bukan anak Mas Roby membuat kepalaku terasa panas jika mengingatnya.
Setelah selesai memasukkan baju-baju ke dalam koper, aku membaringkan tubuhku. Baru saja aku meluruskan tubuh, ada seseorang yang mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Win … !" panggil Mbak Tri. Aku segera beranjak untuk membukakan pintu untuk Mbak Tri.
"Ada apa, Mbak?" tanyaku setelah aku buka pintu.
"Nggak apa-apa! Aku cuma khawatir kamu masih sedih." ucapnya tersenyum.
"Aku udah nggak apa-apa, Mbak!"
__ADS_1
"Baguslah! Kamu nggak usah khawatir, ya! Aku bakal bantu kamu. Aku udah ngomong sama Kak Rida, supaya dia nanti yang bantu kamu lahiran. Soal biaya, kamu nggak usah pikirin, katanya kamu nggak usah bayar." Aku tidak menyangka Mbak Tri berniat menolongku sampai sejauh itu. Mataku kembali berkaca-kaca, aku terharu dengan kepedulian keluarga Mbak Tri padaku.
Kak Rida adalah istri dari Mas Dwi, mas nya Mbak Tri. Kak Rida seorang bidan yang membuka praktek di sebelah rumah Bu Salma, orang tua Mbak Tri. Mas Dwi dan istrinya memang tinggal di rumah Bu Salma.
"Oi … kok malah bengong! Ya udah, kalau kamu udah nggak sedih lagi, aku ke sebelah ya. Kalau ada apa-apa langsung kasih tau." ujarnya sebelum berlalu.
Aku terharu dengan kebaikan keluarga Mbak Tri, tapi aku merasa sungkan karena terlalu banyak merepotkan mereka. Tapi aku juga bingung bagaimana cara menyampaikan rencanaku pada Mbak Tri? Ahh… nanti saja aku pikirkan itu, yang penting sekarang aku sudah siap untuk meninggalkan tempat ini.
Tekadku sudah bulat, kalau aku disini, pasti suatu saat Mas Roby akan kesini. Dia akan mencari kami. Dan aku tidak mau dia bertemu dengan anaknya. Itu balasan untuk dia karena sudah meninggalkanku dalam keadaan seperti ini.
Yang harus aku pikirkan sekarang, bagaimana caranya aku bisa menemukan orang yang mau mengurus anakku. Aku terus berpikir, mungkin di sosial media ada grup yang memang dibuat untuk mencari anak angkat, itu terlintas dalam pikiranku.
Lalu aku meraih hp dari atas meja, lalu sambil berbaring aku buka sosial media berlambang f. Lalu ku ketik pada pencarian kata 'adopsi', aku klik grup, lalu keluarlah beberapa grup adopsi anak. Aku klik grup yang paling atas, setelah itu aku lihat disana banyak postingan yang ingin mencari anak untuk diadopsi, beberapa juga ada yang ingin anaknya untuk diadopsi karena berbagai alasan.
Hingga malam aku masih memikirkan niatku tadi. Semakin kupikirkan semakin kuat pula niatku untuk melanjutkan rencana awalku. Akhirnya, ku buka lagi aplikasi berwarna biru, ku cari grup yang tadi sempat ku tinggalkan. Ku lihat lagi postingan-postingan yang ada disana. Ku yakinkan hatiku, lalu aku melihat sebuah postingan 'Sudah 9 tahun menikah, tapi belum diberi momongan.' begitu bunyinya, kulihat ada beberapa komentar.
[Semoga cepat diberi momongan bunda…]
[Sabar Bunda]
[Aku juga udah 7 tahun bun, belum dikasih juga. Peluk bun.]
__ADS_1
Itu beberapa komentar pada postingan itu, ada juga beberapa puluh yang menyukai postingan itu. Entah kenapa saat aku membaca postingan yang bernama Mira Berliana itu aku seperti merasakan kesedihan yang dirasakan ibu itu. Tanpa sadar aku klik namanya, lalu aku lihat profilnya.
Di akunnya terlihat ada beberapa foto Mira dengan seorang lelaki, yang kemungkinan adalah suaminya, ada juga fotonya bersama teman-teman kerjanya, sepertinya ia bekerja di dinas kesehatan terlihat dari pakaian yang digunakannya saat berfoto yaitu baju putih seperti yang biasa dipakai perawat di rumah sakit. Mungkin ia bekerja sebagai perawat atau bidan di rumah sakit atau puskesmas. Kebanyakan di akunnya adalah foto-foto dan beberapa ia membagikan postingan resep-resep masakan.
Setelah beberapa menit aku berpikir, akhirnya aku klik kirim pesan.
[Mat malam, Bu. Salam kenal] kirimku. Tubuhku rasanya panas dingin, dadaku deg-degan, telapak tanganku basah karena keringat. Beberapa menit aku tunggu, belum dibaca. Berkali-kali aku periksa lagi belum ada balasan. Aku gelisah, ada rasa takut dengan responnya nanti. Akhirnya ku putuskan untuk tidur karena sudah sampai tengah malam aku tunggu tidak juga ada balasan darinya.
****
Hari selanjutnya, saat aku terbangun dari tidur, aku periksa lagi hp ku. Namun belum juga ada balasan pesan yang kukirim tadi malam. Ada rasa kecewa di dada, apakah seharusnya aku tidak mengambil keputusan ini? Sungguh aku takut sekarang.
Untuk mengalihkan pikiranku, aku keluar untuk sekedar menghirup udara pagi. Saat aku membuka pintu, ternyata sudah berkumpul ibu-ibu di halaman kontrakan. Aku pun menghampiri mereka.
"Baru bangun, Win?" tanya Bu Leli, tetangga depan kontrakan.
"Iya, Bu! Tadi malam susah tidurnya malam banget, Bu, jadinya bangunnya juga malah agak siang." jawabku sedikit malu.
"Biasa itu, Win! Apalagi kalau lagi hamil tua kayak kamu itu memang susah tidur. Menjelang pagi baru bisa tidur." ujar Bu Fatma.
Ketika lagi asik ngobrol sama ibu-ibu tetangga, hpku berbunyi yang menandakan ada pemberitahuan masuk. Saat ku periksa, dadaku tiba-tiba bergemuruh, tanganku kembali berkeringat.
__ADS_1
Lalu dengan dada yang berdebar-debar aku pun membaca pesan tersebut.