Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 10 25 Tahun Kemudian


__ADS_3

Di suatu malam...


Duapuluh lima tahun kemudian setelah perang Luoyang yang menelan banyak korban jiwa itu. Bulan purnama menerangi hutan di pinggir desa Mlarak. Tampak sebuah bangunan tua di antara pepohonan jati. Reruntuhan rumah tua itu hampir tidak beratap. Hanya satu sisi dinding yang terbuat dari batu hitam yang masih utuh. Dinding lainnya sudah tidak utuh. Daun pintu sudah tak ada, rusak dan lapuk termakan rayap.


Di ruangan dalam yang terbuka dan luas mirip bangsal beberapa orang sedang istirahat. Rumah tua itu sering dijadikan tempat menginap perantau yang kemalaman di jalan. Suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara jengkrik dan kodok sahut-sahutan. Gerimis membuat malam makin dingin.


Terdengar suara orang mendendangkan syair. Suaranya sinis dan dingin. Suaranya tidak keras namun terdengar jelas oleh semua orang di rumah besar. Suara jengkrik dan kodok mendadak senyap ditelan suara yang membawa suasana magis.


Akulah sang pengelana


Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan, Kan kuremas matahari di telapak tanganku Kan kupecahkan wajah rembulan Tak ada lawan, Tak ada tandingan, Ilmu dari segala ilmu...!"


Dengan Syair Penakluk Langit,


Syair itu seakan menyihir semua orang. Semua diam. Saling pandang. Sebagian wajahnya pucat. Sebagian lainnya waspada. syair dinyanyikan dengan tenaga dalam tinggi, membuat jantung orang berdegup kencang. Suara itu juga menebar pengaruh magis.


Pelan-pelan gema suara menghilang. Suara jengkrik dan kodok mulai lagi bersahutan. Gerimis masih menyiram bumi. Seorang lelaki paruh baya bersandar di dinding tertawa dingin, menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya gembul, kepala botak.

__ADS_1


"Syair hanya satu kali dinyanyikan, berarti ia akan membunuh satu orang di antara kita di ruangan ini, siapa?


Aku pasti akan melawannya, aku akan adu jiwa dengannya, sudah lama aku mencarinya," kata si lelaki botak itu. Semua di ruangan saling pandang. Semuanya, sebelas orang, tujuh lelaki dan empat wanita.


Seorang anak muda berusia sekitar tigapuluhan sedang melahap nasi bungkus. la menunda makannya, memandang lelaki gembul botak itu dengan heran. Ia menoleh kepada kakek tua berusia enampuluhan yang duduk di sampingnya. "Guru, mengapa harus ada yang tadi." mati terbunuh? Apa anehnya syair


Sebelum kakek itu menjawab, lelaki botak mendahului dengan tertawa dingin. "Anak muda, itu tadi namanya Syair Jurus Penakluk Langit tapi belakangan lebih dikenal orang dengan sebutan syair Maut. Dan si penyanyi adalah siluman kejam yang doyan membunuh. Kalau syair dinyanyikan satu kali, artinya ia akan mencabut nyawa satu orang sebelum fajar menyingsing. Kalau dua kali, ya artinya dua nyawa."


"Siapa si pembunuh itu ?"


"Siapa? Selama ini tak seorang pun pernah melihat tampangnya. Orang rimba persilatan menjulukinya si syair Maut. la muncul tiba-tiba dan dengan ilmunya yang tinggi mudah baginya untuk membunuh siapa saja. la muncul tiba- tba dan menghilang tiba-tiba persis siluman. Agaknya benarlah syair syairnya, tak ada lawan, tak ada tandingan!"


"Ini yang pertama kali. Waktu isteriku jadi korban kekejamannya, aku tak ada di situ. Istriku memang mati dibunuh siluman itu. Dan Sesaat Sima Yi tertegun. Kemudian ali mukanya berubah cerah, ia tertawa lepas. "Kamu pasti Jiu Cien, wah kamu sudah dewasa, aku pangling, kalau bertemu di jalan aku pasti tak bisa mengenalmu Berdirilah dan kembali ke samping kakek gurumu, nanti kita ngobrol." la memberi hormat dengan dua tangannya kepada orangtua yang disebutnya kakek itu. "Kak Yu Jin, terimalah hormatku"


Jiu Cien kembali ke tempat duduknya.


Tetapi langkahnya terhenti karena pada saat bersamaan terdengar kembali syair Jurus Penakluk Langit dilantunkan. Suara penyanyinya sama, tetap jernih dan bening. Dari suaranya sulit diduga, dia itu perempuan atau lelaki.

__ADS_1


Akulah sang pengelana


Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan, Kan kuremas matahari di telapak tanganku Kan kupecahkan wajah rembulan Tak ada lawan, Tak ada tandingan,


Dengan Syair Penakluk Langit,


Ilmu dari segala ilmu...!"


Semua orang di ruangan saling pandang. Tidak ada suara lain kecuali kumandang syair itu. Suaranya mendengung dan bergema di segala penjuru Sesaat kemudian suara lenyap.


Belum juga orang-orang itu hilang rasa tegangnya, syair berkumandang lagi. Begitu seterusnya sampai empat kali beruntun. Semua orang tegang. Pendekar wanita separuh baya yang dikenal sebagai Mei Chu bangkit. la tampak kesal. "Rupanya satu saja tak cukup bagi si syair Maut, malam ini ia menginginkan lima nyawa. Benar-benar kurangajar, apa dia pikir kita semua ini batang pisang yang manda digorok begitu saja. Di ruangan ini juga hadir dua tokoh kelas atas, Sima Yi dan Yu Jin. Aku ingin tahu apa yang mau dilakukan si pembunuh itu."


Sambil berkata, Mei Chu dengan geram menggerakkan tangannya. Sekejap saja sebilah pedang sudah dalam genggaman. Gerakannya sebat dan sulit diikuti pandangan mata orang biasa. Itu suatu bukti perguruan Pedang Bunga kesohor dengan ilmu pedangnya, bukan bualan semata.


Sima Yi memandang semua orang di ruangan. "Kita tak punya waktu, setiap saat pembunuh itu bisa menyerbu Kupikir sebaiknya kita semua berkumpul di tengah ruangan dalam bentuk lingkaran, setiap orang menghadap keluar lingkaran. Dengan demikian serangan dari arah mana saja bisa kita ketahui. Cepat!"


Tak perlu diulang, semua orang bergerak mengikuti saran Sima Yi. Sepasang suami isteri yang usianya sudah tua, beringsut keluar menuju pintu. "Kami hanya dua orangtua pedagang kecil yang tak mengerti silat. Kami juga bukan dari dunia kependekaran. Pasti bukan kami yang dimaui penyanyi syair itu. Kami mohon pamit, para pendekar."

__ADS_1


Tertatih-tatih dua orangtua itu melangkah keluar reruntuhan rumah tua dan menghilang di kegelapan malam Semua pendekar memandang dengan mata mendelong tanpa bisa berbuat apa-apa. Jiu Cien tetap berdampingan dengan Yu Jin. "Kakek, keadaan tampaknya gawat Pembunuh misterius itu rupanya memiliki ilmu yang tinggi. Aku lihat guru Sima Yi dan kakek juga, tampak tegang."


__ADS_2