
Malam itu, Cao Tao meneruskan perintah kakaknya, kaisar Cao Cao. Seluruh pasukan siap untuk berangkat esok pagi, menuju desa Luoyang. Mereka akan mencegat pasukan Kerajaan Shu di hutan dekat Luoyang. Mereka akan menyusun jebakan dan siasat yang akan melumpuhkan dan menghancurkan pasukan Kerajaan Shu.
Di dalam kamar, Jiu Shan menggumuli tubuh isterinya. Dia tergila-gila akan kecantikan wajah dan tubuh isterinya. Dia sudah tahu, istrinya selingkuh dan memadu cinta terlarang dengan Sima Yi. Tapi dia tak sanggup mencegah.
Dia takut, isterinya akan memilih. Dia yakin isterinya pasti akan memilih Sima Yi. Dia tak sanggup berpisah dari Zsu Mei.
Zsu Mei mengelus kepala suaminya. Dia sering merasa iba pada suaminya. Laki-laki itu sangat kasmaran padanya. Dia tahu, suaminya itu lebih tergila-gila pada tubuhnya ketimbang mencintainya. Laki-laki itu menyukai bagian tubuhnya, mengelus dan menjilati buah dada, ketiak, paha dan betis bahkan sering menciumi telapak dan tumit kakinya.
Sulit dipercaya bahwa Jiu Shan yang terkenal sebagai pendekar berilmu tinggi dan jago tarung yang amat tega membunuh lawan serta ditakuti lawan dan disegani kawan, ternyata tidak berdaya menghadapi pesona tubuh dan kecantikan liar seorang perempuan bernama Zsu Mei.
"Zsu Mei aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku," suara Jiu Shan memelas sambil dia menciumi ketiak isterinya. Laki-laki itu sudah tak berdaya lagi. Tiga kali dia mencapai orgasme. Sedangkan Zsu Mei tak sekalipun, namun seperti biasa, perempuan cantik ini berpura-pura merasakan kenikmatan orgasme. Perempuan itu mengumpulkan segenap kekuatan batinnya.
Suaranya agak parau. "Kak, besok kita tarung di medan perang, mungkin kita akan mati, itu sebab aku harus berterus terang padamu tentang aku dan Sima Yi."
__ADS_1
"Zsu Mei, aku sudah tahu semuanya, kalian berdua saling menyinta dan kalian sering bercinta," sambil mengelus payudara dan mencium leher isterinya, Jiu Shan melanjutkan. "Aku tahu semuanya. Tidak perlu kamu ceritakan padaku."
"Kak, kamu sudah tahu aku selingkuh dan bercinta dengan Sima Yi tetapi kamu diam saja, mengapa?"
"Sebab aku yakin kamu akan memilih Sima Yi jika aku mendesakmu, dan itu aku tak mau, aku tak mau berpisah denganmu Zsu Mei, jangan tinggalkan aku!"
Mendadak rasa iba dan kasihan mendorong dirinya untuk memeluk dan menciumi wajah suaminya. "Tidak Kak, aku tak akan meninggalkanmu Besok, kita berdua akan berdampingan melawan musuh. Mati hidup kita bersama-sama. Aku tak akan berpisah darimu, walau sejengkal pun."
Perang Luoyang melibatkan ribuan serdadu di kedua pihak, Kerajaan Wei dan Kerajaan Shu. Adu strategi dan siasat. Pihak Kerajaan Wei mempersiapkan jebakan yang jika terlaksana akan menghancurkan pasukan Kerajaan Shu. Sayang ada pengkhianat yang membocorkan rahasia ini. Jebakan Kerajaan Wei itu akhirnya menjadi kuburan bagi pasukan Kerajaan Wei.
"Kami boleh mati tapi tidak boleh terhina. Jika harus mati, kami akan menyeret banyak korban dari pihak lawan."
Di tengah arena perang Cao Tao dan para pendekar kepercayaan istana, bertarung mendampingi Kaisar Cao Cao. Seratus lebih prajurit dan Prajurit Kerajaan Shu mengepung raja Kerajaan Wei itu. Di antara kelompok pengepung itu, beberapa pendekar berilmu tinggi seperti Pang Tong, Palotai, Sempai Chu, Wita Chung, dan Baichan telah menutup ruang bagi Kaisar Cao Cao untuk lolos.
__ADS_1
Tidak jauh dari tempat itu, Jiu Shan berdua isterinya bahu membahu bersama Lin Wa adu jiwa menghadapi Ma Chao, Iblis Chengdu, yang dibantu Sepasang Iblis Chongging dan belasan pendekar tangguh lainnya.
Di satu sudut medan Sima Yi dan Lu Xun terdesak oleh Takadagawe, pendekar Himalaya yang kosen itu. Jurus-jurus silat Takadagawe sangat aneh. Ditambah lagi dengan tenaga dalamnya yang begitu besar, tak heran jika Sima Yi dan Lu Xun terdesak hebat. Padahal dua pendekar itu tergolong pendekar kelas utama dataran tengah.
Sima Yi, murid tunggal Yue Jin, dari gunung Huang. Ia memiliki ilmu ringan tubuh Jejak Kilat yang kesohor kehebatannya serta jurus Big Bang.
Sedangkan Lu Xun, murid pertama Xiahou Dun yang sudah mewarisi seluruh ilmu gurunya, ketua Partai Naga Emas, mumpuni dalam jurus-jurus Naga Emas yang kondang.
Namun dua jago kerajaan ini terdesak hebat bahkan nyawa mereka sudah di ujung rambut. Saat itu Lu Xun berteriak keras mengerahkan segenap tenaga lewat dua jurus Naga Emas yang saling susul Balaraksha (Seribu Raksasa) dan Balasasra (Seribu Prajurit). Sehebat-hebatnya Takadagawe gebrakannya tertahan juga. Dua jurus Naga Emas itu diumbar pada saat yang tepat. Saat di mana nyawa terancam. Keampuhannya menjadi berlipat ganda.
Sementara Sima Yi memanfaatkan kesempatan dengan menggelar dua jurus dahsyat dari Big Bang "Kak Lu Xun, ayo kita adu jiwa dengan siluman ini," teriak Sima Yi.
Lu Xun menggeram, Sima Yi tak kalah bengisnya. Tetapi Takadagawe bukan pendekar biasa, dia sudah terbiasa dalam pertarungan tingkat tinggi Karenanya dia bukannya gentar malah merangsek maju. Dua tangannya berputar dalam lingkaran yang berbeda. Tangan kanan membuat lingkaran besar ke kanan, tangan kiri membuat lingkaran kecil ke kiri.
__ADS_1
Tenaga dua pendekar dataran tengah itu tersedot diseret arus tenaga lingkaran. Keadaan kritis. Sebab begitu Takadagawe menyibak dua tangannya disusul tenaga mendorong maka tulang dada dua pendekar dataran tengah itu terancam berantakan. Benar saja!
Tampak jari-jari tangan Takadagawe lurus merapat, dua tangannya mengubah lingkaran menjadi gerakan seperti menyibak air. Tenaga dua pendekar dataran tengah terpental ke kiri dan kanan. Dua siku Takadagawe ditekuk. Keadaan kritis. Maut mengancam dua pendekar dataran tengah.