Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 17 Getar Cinta diantara 2 Insan


__ADS_3

Pada saat kritis bagi si gadis, mendadak sebuah bayangan masuk pertarungan. "Laki-laki pengecut. Tidak pantas bertarung dengan perempuan, menggunakan cara membokong." Tanpa basa-basi Jiu Cien melancarkan jurus Banteng Besar dari Big Bang yang sudah sempurna ia kuasai.


Hebat! Tangchi yang sudah terluka, kaget setengah mati, dia berupaya menangkis serangan Jiu Cien. Tetapi sia-sia, pukulan Jiu Cien menerpa bahunya. Ia kaget. Belum sempat ia bebenah diri, jurus susulan Jiu Cien Gorila Besar dari Big Bang telak menghajar perut dan lengannya.


Tangchi muntah darah! Seketika nyalinya terbang. Gila! Hanya dalam dua jurus ia dihajar tanpa sempat membela diri. Lawan ini bisa membunuhnya. la tak berpikir dua kali lagi, ia kabur secepatnya.


Ada alasan mengapa Jiu Cien begitu cepat memetik hasil, hanya dua jurus, Tangchi langsung terluka dan kabur. Pertama, Tangchi sudah terluka oleh pukulan si gadis. Kedua, Jiu Cien menyerang ganas tanpa memberi kesempatan. Ketiga, hebatnya jurus Big Bang yang baru selesai ia kuasai.


Jiu Cien terpesona akan ilmunya tadi. Ia baru pertama kali menggunakan jurus ciptaan pendekar Huangshan dan hasilnya sungguh luar biasa. Dari gerakannya bisa diukur bahwa lawannya tadi bukan sembarang orang namun toh bisa ia lukai dalam dua jurus. Saat itu Jiu Cien melihat si gadis sempoyongan. Sebelum terjungkal ke dalam sungai, Jiu Cien sigap menangkap lengannya.


Mendadak gadis itu menyerangnya dengan pukulan ganas, mengarah mata. Jiu Cien terkesiap, sama sekali tak menduga akan diserang. Untung saja keracunan membuat pukulan si gadis tak bertenaga. Jiu Cien menangkis dengan tenaga ringan, takut si gadis terluka.


Si gadis sempoyongan. Pingsan. Jiu Cien meraih pinggangnya, mendudukkannya di atas batu dengan hati-hati la menotok beberapa titik jalan darah di punggung dan leher. Gadis itu sadar. Ia berontak. Jiu Cien berkata lirih. "Nona, kamu tenang, aku bukan musuhmu, musuhmu yang tadi sudah kuusir pergi."


Gadis itu masih mengigau, "Aku tak mau pingsan."

__ADS_1


Jiu Cien menjawab sambil menyalurkan tenaga dalam ke punggungnya. "Iya, kamu tak boleh pingsan, aku akan membantumu dengan tenaga dalam"


Kesadaran si gadis mulai pulih. la mengerti bahwa orang yang berada di belakangnya sedang menolongnya.


931


Tangchi sudah pergi. Mendadak ia merasa perutnya mual, pusingnya makin memabukkan. la ingat terkena serangan paku Tangchi "Aku, aku kena senjata rahasia paku beracun, katanya racun laba-laba."


Jiu Cien terkejut. la melompat ke depan si gadis. "Di mana?"


Memegang nadi dan memandang mata si gadis, sekejap saja, Jiu Cien mengenal racun yang menyerang si gadis adalah racun ganas. "Ulurkan dua tanganmu" Katanya dalam nada memerintah. Gadis itu mengikuti perintahnya. Tanpa membuang waktu lagi Jiu Cien segera mengempos tenaga dalamnya. Tangannya bergetar penuh tenaga menempel tangan si gadis. Mereka duduk berhadapan di atas batu besar dekat air terjun. Keduanya saling menatap. Lalu Jiu Cien memejamkan mata.


Gadis itu merasa tenaga yang hangat menerobos tangannya. Tenaga itu berputar dan menyelusur seluruh tubuhnya. Tadi agak pusing kini ia merasa lebih baik. Tadi dia sangat berkeinginan untuk tidur, kini rasa kantuknya perlahan-lahan lenyap. la melihat darahnya yang warnanya hitam merembes keluar dari lukanya. Tidak lama kemudian senjata semacam paku meloncat keluar dari luka di dadanya. Agak lama kemudian satu paku lagi terlempar keluar dari luka di pahanya. Diam-diam dia memuji hebatnya tenaga dalam laki-laki penolong ini.


Gadis itu meneliti pemuda di hadapannya. Lelaki itu basah kuyup. la bertelanjang dada, tampak bulu dadanya yang lebat. Wajahnya penuh keringat bercampur air sungai. Hidung besar agak bangir. Mulutnya lebar, bibirnya tipis. Tanda ia punya semangat tinggi dan agak kejam. Rambut setengah keriting, gondrong sampai leher. Alisnya tebal. Secara keseluruhan ia tidak tergolong tampan, tetapi punya daya tarik. Dan dengan tubuhnya yang kekar atletis, justru lebih nampak jantan.

__ADS_1


Jiu Cien membuka mata, si gadis menangkap seberkas sinar tajam. Ada kilatan yang membuat si gadis bergidik. "Orang ini kejam," pikirnya. Sesaat kemudian sinar mata itu kembali ramah dan penuh kedamaian. la mengubah penilaian dalam hatinya tadi, "Pemuda ini baik dan luhur budi". Tanpa terasa gadis itu merasa suka, "Terimakasih, pendekar, kamu telah menolong aku," katanya.


"Tunggu dulu, nona, kau belum sembuh Racun masih mengeram dalam tubuhmu, berbahaya. Racun segera mengganas lagi jika tidak cepat ditolong, tetapi... bagaimana ya."


"Kenapa? Katakan saja, aku tidak takut mati, tadi memang aku takut, aku takut diperkosa lelaki bejat itu. Kalau mati, aku tidak takut mati"


"Bukan mati, tetapi kamu bisa lumpuh. Racun itu ganas, harus dikeluarkan dari tubuhmu, setelah itu kamu minum obat untuk membersihkan darahmu"


"Bagaimana mengobatinya, apakah kamu bisa? Apakah kamu punya obatnya?" Saat itu si gadis merasa perutnya mual, "Aku mual, rasanya mau muntah." Saat berikutnya ia muntah. Lendir mengandung sedikit darah.


Jiu Cien merasa serba salah. "Racun mulai mengganas. Aku bisa menolongmu, aku murid seorang ahli pengobatan, tetapi..."


Gadis itu semakin bingung. "Katakan, apakah ada syarat untuk pertolonganmu? Katakan!"


Wajah Jiu Cien memerah, agak tersinggung. "Kamu salah, nona. Aku menolongmu karena kebetulan ingin menolong, itu saja. Aku tidak minta apa-apa sebagai imbalan, tetapi aku khawatir kamu salah sangka. Soalnya aku harus mengisap darah dari luka kamu, dan luka itu ada di paha dan dada" Waktu menyebut paha dan dada, suara Jiu Cien rnenjadi lirih. "Tetapi kalau tidak ditolong, kamu bisa lumpuh atau mati."

__ADS_1


Wajah gadis ini memerah. Malu. la baru tahu mengapa pemuda itu kikuk. Lukanya tepat di perbatasan payudara dan bahu, untuk mengisap luka artinya pemuda itu harus meraba dan melihat buah dadanya. Luka di paha tempatnya sejengkal di atas lutut. Ini juga daerah tersembunyi dari kaum wanita. Ia berpikir, "Jika lelaki ini tidak datang menolong tentu aku sudah diperkosa Tangchi, dan sudah tentu harganya jauh lebih mahal dibanding harus mati. Tetapi memperlihatkan bagian tubuh, itu juga perkara besar, aku bisa malu setiap ketemu dia."


__ADS_2