Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 21 Cinta atau Nafsu


__ADS_3

Meishin termenung. Jiu Cien memandang wajah cantik itu. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, pertemuan Wuwei "Meishin, dalam percakapan kita yang lalu, tampaknya kau banyak mengetahui tentang pertemuan Wuwei. Aku tidak tahu maksud pertemuan itu, tetapi aku mendengar omongan orang, pertemuan itu akan dihadiri banyak pendekar dengan ilmu yang tinggi. Apa tujuan dan maksud pertemuan itu?"


Belum lama berselang tersiar berita ke semua penjuru dunia kependekaran dataran tengah, bahwa akan ada pertemuan besar di perguruan Wuwei pada hari pertama bulan depan. Undangan sudah disebar ke semua pendekar kelas utama dataran tengah. Semua diundang, tidak peduli apakah dari golongan putih atau golongan hitam. Pertemuan itu untuk menentukan dan memilih lima pendekar paling jago di dataran tengah yang akan mewakili dataran tengah menghadapi tantangan para pendekar Himalaya. Lima pendekar dataran tengah lawan lima jagoan Himalaya, pada tengah bulan, empatpuluh lima hari setelah pertemuan di Wuwei. Asal muasal tantangan itu menurut cerita dari mulut ke mulut, lantaran orang-orang Himalaya menuduh para pendekar dataran tengah bertanggungjawab membunuh dan merampok sekelompok pedagang Himalaya. Rombongan pedagang Himalaya dirampok, tujuhbelas orang Himalaya dibunuh, hanya empat orang yang lolos. Mereka yang lolos pulang membawa berita ke Himalaya. Di antara yang mati, salah seorangnya adalah pendekar muda, putra tunggal pendekar yang paling dihormati dan disegani di Himalaya, India. Ladalinu.


Sampai sekarang ini, para pelaku perampokan dan pembunuhan itu belum ketahuan, siapa dan dari kelompok mana. Lantaran tidak tahu kepada siapa harus menuntut tanggngjawab dan membalas dendam, maka orang-orang Himalaya melayangkan surat tantangan. Perjanjian yang disertakan cukup sederhana, jika para pendekar Himalaya kalah, maka urusan selesai sampai di situ. Jika Himalaya menang, maka semua pendekar dataran tengah harus mencari dan menemukan pelakunya kemudian menyerahkan kepada pihak Himalaya untuk diadili.


Selama gadis itu bercerita, Jiu Cien tak sesaat pun melepas pandangan dari kecantikan yang terpampang di depan matanya. Cara gadis itu bertutur melalui gerak mulutnya yang indah membuat Jiu Cien semakin terpesona. Meishin selesai bertutur, ia menegur Jiu Cien. "Hei, kenapa kamu memandangi aku terus-terusan?"


1332


"Kamu cantik Meishin, aku menyukaimu, aku, aku mencintaimu"


Meishin terkejut. Tidak menduga kalimat itu keluar dari mulut Jiu Cien. Ia terpana memandang lelaki di hadapannya itu. Ia tidak bisa berkata-kata, mulutnya seakan terkunci. la diam saja, ketika tangan Jiu Cien yang kekar memeluknya. "Meishin, kenapa kau diam?" Jiu Cien memegang dagunya, menatap matanya. Meishin memejam mata, malu.


Jiu Cien mengecup bibirnya. Gadis itu diam tak bereaksi, saat berikut Meishin bernafsu. Ia memegang kepala dan menjakak rambut Jiu Cien. Mulutnya yang tadinya diam, berubah liar. Nafas kedua insan itu semakin panas. Keduanya bergumul bergulingan di lantai goa. Tangan Jiu Cien merambah ke seluruh tubuhnya. Meishin terengah-engah, mendadak ia mendorong tubuh Jiu Cien, melepaskan diri dari pelukan.


Jiu Cien terengah-engah menahan birahi, bertanya, "Kenapa, kamu tidak suka?"


Masih terengah-engah, Meishin tertawa. "Kamu bodoh, apakah barusan tadi itu tandanya aku tidak suka atau tandanya aku suka?"

__ADS_1


Jiu Cien memeluk Meishin, menciumnya lagi. Meishin merapatkan tubuhnya, balas mencium dengan bernafsu. Sesaat kemudian ia melepaskan diri. "Fei Hung, jangan sekarang, lukaku masih sakit. Terutama luka di bagian dada. Lukanya belum kering." la tertawa sambil mendorong tubuh Jiu Cien. Lelaki ini memegang tangannya, sekali lagi ia menggumuli tubuh si gadis. "Jangan sekarang," kata Meishin. Ia berbisik di telinga Jiu Cien. "Tunggu tiga malam lagi, saat itu lukaku pasti sudah kering, tidak perih lagi."


Melewati dua hari Jiu Cien berlatih silat di air terjun. Seperti biasa, ia tidak berlatih jurus Naga Emas, ia memperlancar jurus Big Bang dan Jejak Kilat. Ia menyembunyikan asal-usulnya. Sementara Meishin lebih sering menghabiskan waktu di dalam goa, berlatih tenaga dalam. Sesungguhnya tenaga dalamnya sudah pulih. Namun ia perlu waktu memikirkan hubungannya dengan lelaki bernama Fei Hung itu. "Ini hubungan yang aneh dan unik. Baru satu hari berkenalan dia sudah menyatakan mencintaiku, apakah bukannya nafsu birahi, mungkin juga dia mengatur siasat dan tipuan. Dia hanya mengincar tubuhku, setelah menikmati tubuhku, dia akan pergi meninggalkan aku. Ia akan menertawakan aku. Tetapi mungkinkah dia selicik itu?"


Dua hari dilalui Jiu Cien dan Meishin hanya dalam batas percakapan. Jiu Cien sudah tergila-gila akan pesona wajah dan tubuh Meishin. Tiap saat memandang Meishin, nafsu birahinya bergejolak. Tetapi hasratnya tak pernah terpenuhi. Beberapa kali keduanya berciuman, berpelukan dan bergumul Hanya sebatas itu. Pada akhirnya Meishin mendorong dan menolak secara halus.


Malam itu, ketika Meishin sudah lelap dalam tidur, ia terbangun. Ia merasa seseorang menciumi kakinya. "Fei Hung, apa yang kau lakukan, mengapa menciumi kakiku?"


Jiu Cien tetap menciumi betis dan dengkul si gadis. Meishin merasa geli tetapi tidak berniat menarik kakinya, tidak juga menertawakan karena khawatir lelaki itu tersinggung. Jiu Cien berkata lirih. "Meishin, aku mohon maaf. Aku sudah kasmaran, tidak ada obatnya kecuali mendapatkan kau sebagai isteriku."


Malam itu setelah selama tiga hari tinggal bersama Jiu Cien dalam goa, Meishin telah memantapkan keputusannya. "Malam ini saatnya aku berterus-terang, agar semuanya tidak menjadi kacau," katanya dalam hati la lalu mengumpulkan keberaniannya "Fei Hung, aku mengerti perasaanmu. Tetapi kita baru tiga hari berkenalan, aku belum mengenal kamu dan kamu juga belum mengenal aku secara keseluruhan. Aku pikir mungkin kamu hanya terpengaruh nafsu. Kita perlu waktu untuk lebih mengenal diri masing-masing."


Lelaki itu tersentak. "Apakah memang aku terpengaruh nafsu birahi seperti yang ia katakan?" Jiu Cien membantah pikirannya. "Meishin aku tidak terpengaruh nafsu, aku benar-benar mencintaimu, aku tidak main-main."


Jiu Cien tertawa lirih, agak tersinggung. "Tak mungkin. Usiaku tigapuluh lima tahun, kamu kutaksir sekitar duapuluh, bahkan mungkin delapanbelas atau sembilanbelas. Kau jangan mencari-cari alasan. Aku tahu kamu juga mencintaiku, aku melihat itu di matamu Kau tak bisa menipu dirimu sendiri."


"Kamu harus percaya! Apa yang kukatakan adalah sesungguhnya, usiaku empatpuluh dua tahun. Memang aku tampak muda, awet muda karena aku berlatih ilmu dari pendekar tua asal desa Henan. Aku juga sudah tidak perawan lagi, sudah dua lelaki yang pernah meniduriku."


Jiu Cien tertawa geli.

__ADS_1


"Kenapa tertawa? Kamu menertawakan aku?" Meishin cemberut.


"Tidak, aku tidak menertawakan kamu. Aku geli mendengar alasan itu. Bagiku, semua itu tidak ada artinya. Aku tetap mencintaimu, apakah kamu berusia empatpuluh dua tahun, apakah kamu lebih tua dari aku, apakah kamu sudah tidak perawan lagi, apakah kamu sudah pernah bercinta dengan dua orang lelaki sebelumnya, semua itu aku tidak peduli. Aku mencintaimu karena keadaanmu sekarang ini dan tak ada hubungannya dengan masa lalumu"


"Kamu gila!"


"Ya memang aku gila, sudah kukatakan padamu, aku kasmaran dan mencintaimu, tak ada obatnya kecuali menjadikan kamu isteriku, aku bersungguh-sungguh."


Meishin menatap lelaki itu dengan pandangan penuh arti cinta. "Sini Fei Hung, kekasihku, peluk aku."


Jiu Cien mendekap tubuh molek itu, menciumi wajahnya. "Kamu mau menjadi isteriku? Apakah kamu juga mencintaiku?"


Meishin mengangguk, membalas ciuman dengan bernafsu. Namun saat Jiu Cien sudah tak mampu mengendalikan diri, seperti biasa Meishin menolak tubuhnya.


Jiu Cien bertanya, "Kenapa?"


Meishin mencium dada lelaki itu, merasakan keringat dan bau khas lelaki bernama Fei Hung. "Aku pernah dikecewakan lelaki, mereka hanya menginginkan tubuhku, setelah puas mereka pergi dan tak pernah kembali. Fei Hung, kuharap kamu mengerti keadaanku, aku percaya kamu mencintaiku, aku pun mencintaimu, tetapi aku masih bingung apakah ini yang disebut cinta ataukah hanya nafsu birahi belaka."


Jiu Cien mengecup bibirnya. "Aku akan sabar menunggu sampai kau siap menerimaku. Aku sangat mencintaimu Meishin."

__ADS_1


Meishin memeluk lelaki itu "Aku juga mencintaimu Fei Hung, apakah sudah ada wanita lain dalam hidupmu ?"


"Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang membuat aku jatuh cinta dan kasmaran seperti kepadamu sekarang ini. Memang ada beberapa perempuan yang singgah dalam hidupku, tetapi mereka hanya melintas, tidak ada yang istimewa. Hanya kamu yang istimewa, Meishin."


__ADS_2