Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 23 3 Naga Bersatu


__ADS_3

Di warung hanya tinggal beberapa orang termasuk Jiu Cien dan Meishin. Lelaki itu memandang berkliling. la tinggi besar dengan perut gendut, tampangnya buruk. Sorot matanya tajam menatap dua sejoli itu. Meishin merasa rikuh ditatap.


Tatapan yang kurang ajar. "Ini pasti pendekar gadungan," pikir Meishin.


Lelaki berwajah buruk itu menghampiri meja Jiu Cien. Ia tersenyum kepada Meishin. Tampak giginya yang hitam dan jarang. "Eh Gadis cantik, kamu lihat gadis kurus yang tadi masuk warung ini?"


Meishin enggan menjawab. Jiu Cien menjawab. "Dia lari ke sungai!"


Lelaki itu menggebrak tongkat ke tanah. "Aku tidak tanya kamu, aku tanya Gadis cantik itu."


Belum sempat Jiu Cien atau Meishin menjawab, dari arah sungai si gadis kurus datang berlari. "Hei Mi Fang, pendekar cabul, pemerkosa perempuan, aku ada di sini, dasar orang jelek, goblok, ayo kejar aku, Mi Fang jelek, gendut, bangkotan."


Lelaki yang bernama Mi Fang sangat murka. la berteriak keras saking murkanya. "Aku bunuh kamu, bangsat kurus." Sambil menyumpah serapah ia melompati jendela dan mengejar si gadis kurus. Tubuhnya besar tetapi gerakannya gesit. Ilmu ringan tubuhnya tinggi Jelas dia bukan orang sembarangan.


Sepasang mata Jiu Cien bersinar. Meishin sempat menangkap sorot mata kekasihnya. "Meishin kamu tunggu di sini, aku ada urusan


dengan bajingan Mi Fang itu." Jiu Cien melompat jendela mengejar Mi Fang. Meishin tidak membuang waktu, ikut mengejar setelah sebelumnya melempar uang logam ke meja Lemu wee Terjadi kejar-kejaran, menuju ke hutan. Gadis kurus itu paling depan, di belakangnya berurutan Mi Fang, disusul Jiu Cien dan Meishin.


Tiba di hutan pinggir desa. Gadis kurus berhenti.


Mi Fang menyerbu langsung mengemplang dengan tongkat. Tidak mirip tongkat, karena ukurannya lebih besar dari tongkat biasa. Di ujungnya ada ukiran kepala ular, terbuat dari logam Gadis itu mengelak gesit sambil memaki, "Mi Fang, hari ini ajalmu tiba, bersiaplah untuk mati"


"Kamu bangsat mulut lancang, siapa kamu sebenarnya? Aju urusanmu dengan aku? Katakan sebelum kuhancurkan kepalamu!"


"Kamu pendekar cabul. Sudah banyak anak gadis dan isteri orang yang kamu perkosa dan kamu hancurkan hidup mereka. Kamu juga ikut dalam rombongan yang menghancurkan Partai Naga Emas. Dosamu sudah bertumpuk, cuma bisa dicuci dalam neraka jahanam!"


"Ha... ha... ha... jadi kamu sisa-sisa orang

__ADS_1


Partai Naga Emas. Kebetulan aku memang sudah bersumpah membasmi semua orang Partai Naga Emas. Tetapi aku tak perlu cepat-cepat membunuhmu, aku memang lagi mencari gadis kurus untuk jadi selirku"


"Bangsat mulut busuk!" Keduanya langsung tarung.


Mi Fang menyerang ganas dengan tongkat


kepala ularnya. Si gadis dengan gesit melompat mundur sambil menghunus pedangnya. pedang itu mengeluarkan cahaya warna warni dan mengkilat dijilat sinar matahari. Itu pedang pusaka!


Jiu Cien terkesiap mendengar dialog keras dua seteru itu. Tak disangkanya si gadis berasal dari Partai Naga Emas. "Siapa dia, murid siapa? Tak peduli siapa dia, aku harus membantunya. Tanpa alasan itu pun, aku harus membunuh Mi Fang, hutang nyawa bayar nyawa. Dia telah membunuh paman Lu Xun," gumamnya.


Hanya sejenak Mi Fang tertegun. Agak gentar ia melihat pedang pusaka itu. "Tetapi apa hebatnya pedang itu di tangan anak ingusan, tak lama lagi pedang itu akan menjadi milikku." Berpikir demikian ia maju menggebrak dengan tongkat mautnya.


Pertarungan berlangsung seru Mi Fang menyerang ganas, memanfaatkan tongkatnya yang panjang, berat serta dikendalikan tenaga dalam yang sudah dilatih puluhan tahun. Gadis kurus mengandalkan ringan tubuh dan pedang pusakanya. Mi Fang tidak leluasa memainkan jurus tongkatnya karena dia harus menghindari benturan senjata. Tahu gelagat, gadis itu menyerang makin gencar mengandalkan kehebatan pedangnya. Tetapi lambat laun kelihatan Mi Fang masih lebih lihai. Seandainya tak ada pedang pusaka itu sudah dari tadi gadis kurus itu kena hajar.


Jiu Cien melompat masuk arena. "Mi Fang kamu hutang darah orang-orang Partai Naga Emas, hari ini kamu harus mati!"


Mi Fang bukan pendekar sembarangan. Ia memang segan akan keampuhan pedang pusaka di tangan si gadis. Tetapi terhadap Jiu Cien yang bertangan kosong, ia tak segan segan menyerang dengan jurus maut andalannya Tongkat Panah. Tongkat bergerat ibarat ular hidup. Kadang mencakar dan menyodok kemudian menyabet dan mengemplang. la tetap saja menghindari benturan dengan pedang si gadis. Setiap diserang si gadis, Mi Fang menghindar sambil tetap menyerang Jiu Cien dengan gencar.


Lambat laun, Jiu Cien tampak terdesak dan terancam.


Rupanya si gadis tak mengerti siasat tarung Mi Fang. Semakin ia menekan Mi Fang, semakin besar serangan Mi Fang mengarah Jiu Cien. Karuan saja Jiu Cien kalang kabut. Jiu Cien mengeluh, "Gadis ini tak kenal terimakasih, sudah kubantu malah ia ikut menekanku."


Mi Fang berseru, "Sebut namamu sebelum kepalamu pecah berantakan!" Tongkatnya mencakar dan mengemplang ke arah kepala dan pundak Jiu Cien.


Jiu Cien tak menjawab. Ia memusatkan perhatian pada serangan lawan. Masuk ke dalam pertarungan tanpa persiapan, itu kesalahannya yang membuatnya terdesak hebat. Kini ia cuma bisa bertahan sambil menanti kesempatan memperbaiki posisi. Akhirnya kesempatan itu pun datang.


Tongkat mengemplang dari atas ke bawah. la berlaku nekad. Ia menanti sampai tongkat hanya berjarak satu jengkal dari kepalanya. Meishin terkejut. Tanpa sadar ia menjerit. Tidak cuma menjerit, ia bergerak cepat menerobos pertarungan.

__ADS_1


Pada saat itu Jiu Cien merasakan angin tongkat menerpa kepalanya mendatangkan rasa pedih. Tenaga dalam Mi Fang ternyata kuat melebihi perkiraannya. Tindakan nekad itu dilakukan Jiu Cien dengan perhitungan matang. Ia tahu melawan Mi Fang yang ilmunya demikian tinggi, salah hitung sedikit saja, kepala bisa pecah. Jiu Cien membuat gerakan setengah jungkir ke belakang sambil memutar tubuh, itulah jurus indah Naga Berputar di Awan dari Naga Emas.


Gerakan yang cukup berani, salah hitung sedikit kepala bisa pecah berantakan. Tongkat itu menerpa angin. Jiu Cien lolos. Gerakan itu telah memisahkan Jiu Cien dari lawannya sekitar satu tongkat.


Tak buang waktu lagi, Jiu Cien merentang dua tangan ke samping dengan cakar mengembang, mirip naga mengepak sayap, mirip juga gerak penari. Kaku dan luwes. Dua sifat yang bertentangan tetapi dirangkum dalam satu gerak, jurus Naga Meliuk dari Naga Emas.


Saat bersamaan Meishin ikut menyerang Mi Fang, membokong dari belakang. Mi Fang merasa kesiuran angin keras mengancam punggungnya. Serangan pedang si gadis kurus itu mengincar empat titik mati di tubuh bagian kirinya. Mi Fang terkesiap. Dua gadis itu menyerang dengan jurus mematikan. Terpaksa untuk selamat ia harus menarik tongkatnya yang tadi luput menghantam kepala Jiu Cien. la menarik tongkat sambil memutar badan dan menyodok pangkal tongkat ke arah Meishin. Sementara tubuhnya melangkah ke kanan, melayangkan tendangan ke pergelangan tangan gadis kurus yang menggenggam pedang.


Kini Jiu Cien yang terkejut. Dari mana Meishin mempelajari Naga Terbang Lurus, jurus bersahaja dari Naga Emas yang unik dan punya banyak perubahan. Jurus itu ampuh. Sodokan dua tangan bergantian, mengeluarkan tenaga yang saling mendukung.


"Ini rame, seru, sungguh rame, ayo mari kita mainkan jurus Naga Emas bersama-sama," seru gadis kurus itu. Seruan yang mengejutkan Meishin dan Jiu Cien, namun keduanya tidak berpikir lama untuk menyatakan kesepakatan dalam gerak.


Dua tangan Jiu Cien tidak berhenti, ia memainkan jurus Naga Meliuk, menyerang dengan amarah dan kebencian membuat tenaganya berlipat ganda.


Gadis kurus tidak tinggal diam, pedangnya menyerang bagai cakar naga dalam jurus Naga Terbang tak Beraturan, mengarah tujuh titik kematian lawan. Saat itu juga Meishin setelah mengelak dari serangan tongkat lawan, mengulang lagi jurus Naga Terbang Lurus mengarah dua kaki lawan.


Mi Fang tak pernah menyangka akan mengalami hari senaas itu dalam hidupnya. Umu silat tiga anak muda itu jauh di bawah kepandaiannya. Kalau satu lawan satu tak sampai limapuluh jurus, ia sudah akan memukul remuk kepala mereka. Itu sebab ia setengah main-main menghadapi si gadis kurus. Tetapi apa yang dialaminya sekarang sungguh luar biasa. Tiga anak muda itu pun tak pernah menyangka bahwa jurus Naga Emas yang dimainkan bersama ternyata sangat ampuh.


Serangan gabungan itu ternyata telah mengunci semua jalan keluar Mi Fang. Tetapi Mi Fang bukan pendekar sembarangan. Ia sudah malang melintang puluhan tahun di dunia kependekaran, sering menghadapi ancaman bahaya yang tak terbilang banyaknya. Ia mengemplang kepala Meishin, sambil memutar tubuh ia melayangkan sapuan tongkat ke gadis kurus dan tendangan berantai ke dada Jiu Cien. la memunahkan serangan dengan serangan.


Dalam satu gebrakan ia sudah melayangkan serangan ke tiga penjuru. Mi Fang hebat. Tetapi Meishin tak kurang lihainya. la tak menarik serangan. Agaknya tongkat akan menghantam kepalanya, ternyata tidak. Meishin mengubah kedudukan jongkok menjadi merata tanah, ketika tongkat lewat di kepalanya. Ia melenting, memburu dan menghajar ************ lawan. Itu jurus Naga Terbang Menyusup.


Mi Fang terkesiap. "Celaka!" serunya. Memang ia celaka. Serangan Meishin membuatnya terkejut sehingga serangannya ke gadis kurus tertahan. Si gadis dengan jurus Naga Perkasa berhasil menebas tongkat dan terus menikam dada. Jiu Cien mematahkan tendangan berantainya, balas menghantam pundaknya.


Mi Fang tak sempat mengelak. Perut dan dadanya robek di tiga tempat oleh tusukan pedang. Pundaknya patah dihajar Jiu Cien. Dia bisa menyelamatkan selangkangannya tetapi serangan susulan Meishin mengena telak tulang punggungnya. Ia menjerit. Lengkingnya mendirikan bulu roma. la melempar diri, ingin menghindar dari serangan susulan. Tetapi gerakannya sudah lamban. Tubuhnya tak lagi mau menurut perintah.


Tiga anak muda itu seperti mengikuti satu perintah, serempak memburu lawan. Tendangan Jiu Cien, pukulan Meishin dan tusukan pedang gadis kurus itu susul menyusul menerpa tubuh Mi Fang. Tubuh lelaki tinggi besar itu jatuh berdebum di tanah. Darah muncrat dari mulut dan luka-lukanya. Matanya melotot, memandang tiga anak muda itu dengan penuh sesal. "Kenapa tidak sejak awal aku berlaku telengas dan bersungguh-sungguh mungkin tak senaas ini nasibku." Tetapi sesal kemudian tak berguna. Saat berikut rubuhnya mengejang, seluruh urat tubuhnya mencuat. la mati penasaran.

__ADS_1


__ADS_2