Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 22 Gelora Cinta 2 Insan


__ADS_3

Setelah lima hari berdiam di goa, tenaga Meishin sudah pulih seperti sediakala. Pagi itu, kedua insan yang sedang jatuh cinta itu sepakat bepergian bersama. Mereka menuju Selatan menyusur sungai Bangau. Di jaman itu, sungai merupakan lalu lintas paling mudah dan murah bagi para pelancong dan pedagang. Orang hanya perlu menyewa perahu milik perguruan dan keamanan mereka pasti terjamin.


Sepasang kekasih itu menyewa perahu berukuran sedang yang cukup untuk tujuh delapan orang penumpang. Di bagian tengah ada gubuk beratap daun nyiur, tempat penumpang berlindung dari panas mentari. Tukang perahu seorang lelaki kurus berusia separuh baya dibantu seorang anak remaja. "Kami hanya sampai di batas Gangxi saja, anak muda," kata pemilik perahu ketika Jiu Cien minta diantar sampai daerah yang terdekat dengan desa Chang'an.


"Kenapa Pak, kami akan membayar lebih," kata Meishin.


Orangtua itu menggeleng. "Itu daerah perbatasan kekuasaan perguruan Bruanxi. Di daerah itu jika seseorang mau naik perahu harus menyewa milik perguruan Bruanxi. Itu sebab kami hanya mengantar tuan sampai batas daerah itu saja."


Perjalanan air ke Gangxi biasanya tiga hari. Malam hari, istirahat. Memang berbahaya di malam gelap pekat mengarungi sungai yang penuh buaya pemakan manusia. Pemilik perahu berdua cucunya nginap di daratan di rumah kerabatnya. Jiu Cien berdua Meishin tetap di perahu yang ditambat di tepi sungai.


Berada hanya dua-duaan dalam gubuk perahu yang sempit dibuai ayunan kendaraan air, mendatangkan perasaan yang sulit dilukiskan bagi pasangan kekasih itu. Mereka berpelukan. Ada rasa bahagia dan rasa enggan berpisah. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Jiu Cien semakin terperosok ke jurang cinta, kasmaran.


Begitu juga Meishin yang merasa tak mungkin bisa hidup tanpa Jiu Cien di sampingnya. "Aku sudah mencintai Fei Hung, ia telah merebut seluruh hatiku, Fei Hung tidak cuma telah menyelamatkan aku dari aib besar, tetapi telah memberiku kehangatan cinta."


Banyak lelaki menyatakan cinta, tetapi ia tak pernah tergila-gila seperti saat Jiu Cien berbisik di telinganya. "Meishin aku mencintaimu, aku sudah jatuh di bawah pesona kecantikanmu. Cintailah aku, jika tidak aku pasti mati memelas."


Waktu itu Meishin membalas dengan bernafsu. "Fei Hung, aku juga mencintaimu"


Dia mengenal beberapa lelaki tapi belum seorang pun membuatnya merasa enggan berpisah. Tetapi entah mengapa ia merasa enggan berpisah dengan Jiu Cien. Bukan cuma enggan berpisah. Lebih dari itu Jiu Cien telah mendatangkan perasaan yang membingungkan. Ia dibuatnya lupa alam sekeliling. "Tidak salah orang bilang cinta itu nikmat. Aku tak perlu menyesal mencintai Fei Hung. Aku tahu, ia tergila-gila dan sangat mencintaiku. Bisa kulihat dan kurasakan."

__ADS_1


Bagi Jiu Cien, Meishin ibarat rembulan di tengah gelapnya malam. Selama ini ia tak pernah dicintai dan mencintai perempuan. Ia pernah meniduri beberapa perempuan tetapi hanya sebatas kebutuhan jasmani. Inilah pertama kali ia kasmaran pada perempuan.


Cinta memang aneh. Cinta bisa datang dengan tiba-tiba. Pada saat lain, cinta bisa berubah menjadi kebencian, juga secara mendadak. Kalau cinta sudah datang, mekar dan tumbuh subur maka manusia sulit mengendalikannya dan sulit menghentikannya.


Segala sesuatu tak pernah tidak mengikuti hukum alam, selalu bila seseorang mengalami saat-saat paling getir dalam hidupnya, waktu berjalan serasa lama dan panjang.


Sebaliknya jika mengalami saat yang paling menggembirakan dan membahagiakan, rasanya waktu berjalan begitu cepat dan singkat.


Bahagia, itulah yang dirasakan dua insan yang mabuk cinta, Meishin dan Fei Hung. Hari itu, hari pertama dalam perjalanan. Sejak siang hari, dua insan itu sudah dirangsang nafsu birahi. Namun ada rasa malu terhadap pemilik perahu dan cucunya.


Tetapi malam harinya, ketika kakek dan cucunya itu nginap di desa, dua kekasih itu tak mampu lagi mengekang diri. Keduanya berbaring berdempetan. Meishin menatap Jiu Cien dengan sinar mata cinta dan nafsu. Nafasnya terasa panas. Ia mengelus dada Jiu Cien, pahanya melingkar di atas paha Jiu Cien. "Fei Hung, aku sangat mencintaimu, berjanjilah kamu tidak mempermainkan aku, kamu tidak akan pergi meninggalkan aku."


"Fei Hung, aku tidak perawan lagi. Sudah dua lelaki sebelumnya."


Jiu Cien memeluk erat, seakan hendak ******* dan menelan tubuh molek itu. "Sudah kukatakan beberapa kali bahwa aku tak peduli soal itu, aku hanya butuh cintamu"


Meishin berbisik dengan bernafsu, "Kau butuh cintaku dan tubuhku. Malam ini, kamu boleh mengambil semuanya, tetapi berjanjilah akan memberikan cintamu hanya untuk aku."


Tanpa terasa tiga hari perjalanan sungai. Setiap malam, pemilik perahu dan cucunya tidur di daratan. Setiap malam dua kekasih itu bercinta di atas perahu, memadu cinta dan merenangi nafsu birahi. Dari malam sampai pagi hari. Cinta dan nafsu sepertinya menyatu dalam nafas dua kekasih itu.

__ADS_1


Gangxi cukup ramai. Kebanyakan pendatang adalah para pedagang yang singgah bermalam sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya. Siang hari itu di warung makan Lemu wee dipenuhi pengunjung. Semua bangku dan kursi sudah terisi. Bahkan sebagian orang rela berdiri menunggu giliran tempat kosong. Masakan Lemu wee memang terkenal enak dan murah.


Jiu Cien dan Meishin beruntung. Datang lebih pagi sehingga mendapat tempat di dekat jendela menghadap sungai. Warung itu tidak jauh dari sungai di mana banyak perahu ditambat. Sudah tiga hari mereka menyantap makanan seadanya, kini ada masakan lezat, tak heran mereka makan dengan lahap. Mendadak Jiu Cien menunda makannya. Ia menatap lama ke sungai. Melihat lagak kekasihnya, Meishin ikut memandang ke arah sungai.


Terlihat pemandangan ganjil. Seorang lelaki tinggi besar dengan tongkat panjang melompat-lompat dari satu perahu ke perahu lain. Ia memburu seorang gadis. Lucu. Setiap hampir kena hantaman tongkat, gadis itu melompat dengan pesat.


184


Tongkat menghantam angin. Saat itu si gadis kurus berlari pesat ke arah warung makan. Ia menerobos dan menyelinap di antara kursi dan meja. Geraknya sangat pesat. Pengejarnya seorang lelaki tinggi besar. Tampaknya si pengejar itu sangat marah, dia mendorong dan menabrak pengunjung sambil


berteriak-teriak murka.


Jiu Cien memuji akal cerdik si gadis. Pasti sulit menangkap gadis itu di antara begitu banyak orang, kursi dan meja. Pengejar itu pasti kewalahan. Benar! Seorang lelaki pengunjung yang didorong dengan kasar, memaki maki. "Kamu pendekar macam apa, tingkahmu kasar dan biadab."


Belum sempat orang itu melanjutkan


makiannya, tongkat lelaki itu menghantam kepalanya. Batok kepalanya pecah. Orang-orang geger, serabutan lari menghindar.


Seketika saja warung makan itu sunyi sepi. Gadis kurus ikut menghilang.

__ADS_1


__ADS_2