
Mendadak saja Meishin berseru "Fei Hung, bajuku basah kuyup, tadi gara-gara lelaki keparat itu, buntalan pakaianku jatuh dan hilang di sungai. Sekarang aku perlu api unggun untuk mengeringkan baju ini."
Jiu Cien tersadar dari lamunan dan perhatiannya pada tubuh molek Meishin. "Aku punya beberapa baju di sini, kamu boleh pakai salah satunya, sedang kepunyaanmu bisa dikeringkan. Kau mau?"
Gadis itu mengangguk. Jiu Cien menuju pojokan goa, membuka buntalan dan mengeluarkan celana panjang sebatas lutut dan baju dari kain kasar. Meishin mencium pakaian itu, teruar bebauan lelaki seperti bau yang diciumnya waktu Jiu Cien mengisap darah dari luka di dadanya. "Kamu balik badan, jangan lihat, aku mau ganti baju."
Jiu Cien memalingkan tubuh, ia tidak melihat namun pikirannya seakan bisa melihat tubuh Meishin. Ia membayangkan tubuh molek gadis itu. Untuk menghilangkan pikiran liarnya, Jiu Cien berkata, "Meishin, kamu pasti sudah lapar, aku juga lapar, kamu tunggu di sini, aku akan cari makanan untuk santap malam"
"Hei, kamu pergi ke mana, aku tak mau sendirian di sini."
"Aku tidak jauh dan tidak lama. Mau menangkap ikan, diluar."
Tak lama kemudian Jiu Cien kembali ke dalam goa membawa enam ekor ikan yang besarnya setelapak tangan. "Kamu makan ikan ini, bagus untuk memulihkan tenagamu" Jiu Cien memerhatikan. Meishin sudah ganti baju. la mengenakan baju milik Jiu Cien. Tubuhnya lebih kecil, maka pakaian itu nampak besar dan kedodoran. Meishin tertawa melihat Jiu Cien memerhatikan pakaiannya. "Pakaianmu besar, lihat, aku kelihatan kecil."
Meishin meraut sepotong ranting dengan pisau kecilnya. Jiu Cien memerhatikan. "Mau kau panggang ikannya?" Meishin mengangguk.
__ADS_1
"Jangan, Meishin. Maksudku tadi, kamu makan mentah-mentah saja, rasanya enak, manis dan segar."
Meishin memandang Jiu Cien dengan perasaan geli. "Aku belum pernah makan ikan mentah, amis."
"Namanya, ikan marong. Khasiatnya merangsang tubuh memperbanyak darah. Kamu banyak kehilangan darah, itu sebab kamu lemas dan untuk memulihkan tenagamu biasanya perlu waktu cukup lama. Kalau ikan itu kau masak, khasiat ikan marong itu akan hilang. Coba dulu, enak dan segar!"
Jiu Cien memberi contoh. la mencomot seekor, melahapnya dengan enak. Darah ikan meleleh dari mulutnya. Sudah dua bulan berlatih di air terjun, setiap hari Jiu Cien melahap ikan marong. Meishin nyengir melihat Jiu Cien melahap ikan. Hati-hati dia membawa ikan itu ke mulutnya. Digigitnya dengan enggan.
Rasanya enak. Manis dan hangat. Meishin tertawa, Jiu Cien pun tertawa. Ia merasa perutnya hangat Tanpa malu-malu, saking laparnya, ia tertawa lepas sambil melahap tiga ekor ikan. Jiu Cien terpesona memandang wajah Meishin yang tampak cantik saat tertawa tadi. Cahaya api unggun yang agak redup, sudah cukup untuk menonjolkan kecantikan alamiah itu. Tanpa sadar Jiu Cien menghela nafas.
Jiu Cien terkejut. Seakan ia takut isi pikirannya terbaca Meishin. Ia menggeleng kepala. "Tidak ada apa-apa. Tidurlah. Aku akan menjagamu."
Meishin merebahkan diri di tumpukan jerami dekat api unggun. Baju Jiu Cien yang dikenakannya terlalu besar, menyembunyikan semua keindahan tubuhnya. Tak lama kemudian ia tertidur.
Nafasnya teratur. Lama Jiu Cien meneliti wajah cantik itu. Bulu matanya lentik, sepasang matanya agak sipit, alis mata yang juga tipis. Hidungnya bangir dan mungil. Mulutnya berukuran sedang berbentuk busur gendewa dengan bibir penuh dan tebal. Cantik, sangat cantik. "Ia jujur dan polos, buktinya ia percaya kepadaku, orang yang baru dikenalnya. la masih muda dan cantik, alangkah bahagianya aku seandainya bisa menyuntingnya menjadi isteri," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba saja sepasang mata Meishin terbuka, menatap Jiu Cien dengan sinar yang teduh. Ia tersenyum kemudian merapatkan mata lagi. "Kamu suka memandangi aku," katanya. Jiu Cien tidak tahu apakah gadis itu sedang bermimpi atau dalam keadaan sadar.
"Iya Meishin, aku suka menikmati kecantikanmu" Sambil menjawab, Jiu Cien melompat ke ayunan yang membentang tegang dari dinding ke dinding lain. Ayunan itu terbuat dari kulit pohon yang keras dan kasar. la biasa tidur di ayunan. Pada mulanya ia hampir tak bisa bergerak, sebab begitu bergerak, ia langsung jatuh. Lama kelamaan ia bahkan bisa tidur lelap. Itu memang cara melatih ilmu ringan tubuh Jejak Kilat.
Sejak mewarisi ilmu itu Jiu Cien selalu tidur di atas ayunan atau dahan pohon. Untuk menguasai Jejak Kilat seseorang harus bisa menyatukan antara syaraf otak, batin dan jasad kasar. Karenanya keseimbangan tubuh harus tetap terpelihara meskipun saat tidur, misalnya. Itu sebab siapa yang sedang memperdalam Jejak Kilat harus tidur di atas pohon.
Keesokan pagi, Jiu Cien terbangun. Ia tak melihat Meishin di tempatnya. Matanya mencari-cari ketika telinganya mendengar suara. Di antara gemuruh air terjun, ada suara lain. la mendengar kecipak air dan lantunan syair wanita. Suaranya merdu, suara Meishin. Diam-diam ia menuju pintu goa. Di mulut goa, di balik air terjun, terdapat kolam. Air kolam beriak dan berkecipak. Pagi itu kolam terselimuti kabut dan uap air. Jiu Cien melihat samar-samar tubuh telanjang Meishin yang berenang kian kemari. "Oh, kemarin itu, ia pura-pura tidak bisa berenang, supaya aku menggendongnya. Nyatanya dia mahir berenang." Jiu Cien mengintip dan melahap sepuasnya tubuh molek Meishin kulit putih mulus yang begitu indahnya.
"Fei Hung, kalau sudah puas ngintip, tolong kamu ambilkan kain sarung milikmu itu," katanya dengan suara cekikikan.
Jiu Cien ikut tertawa. "Meishin, kamu cantik dan tubuhmu indah."
Keduanya duduk di mulut goa sambil melahap ikan marong. Pagi itu matahari bersinar garang. Sinarnya memantul menembus tirai air terjun menerangi goa. Goa itu terasa hangat. Meishin menyukai goa tersembunyi ini. "Eh Fei Hung, kalau kita hendak keluar goa, bagaimana caranya supaya pakaian tidak basah?"
"Tidak ada jalan lain kecuali berenang. Kamu harus berenang dengan berpakaian, kemudian mengeringkan pakaianmu di panas matahari. Bisa juga kau berenang telanjang, membungkus pakaianmu supaya tidak basah."
__ADS_1