
Selang sesaat sepeninggal Guo Jia, seorang murid perempuan masuk dengan nampan berisi makanan dan beberapa kendi air minum Dua tokoh itu makan dan minum sambil membincang kekuatan lawan. "Jumlahnya sekitar limapuluh pendekar di antaranya Ma Chao, Mi Fang, Pang Tong.
Mereka semua pendekar kenamaan yang memiliki ilmu kelas satu. Pasti ini bagian dari strategi perang Kerajaan Shu.
Pertama, lumpuhkan Partai Naga Emas, setelah itu baru menyerang istana Kerajaan Wei," kata Xiahou Dun.
Tak lama kemudian tujuhbelas murid termasuk Guo Jia duduk menghadap. Ada beberapa murid yang meskipun masih muda usia namun sudah memiliki ilmu mumpuni. Di antaranya tiga murid Xiahou Dun yakni Yuan Shao murid kedua, Xun Yu murid kelima dan Jen Ting murid ketujuh. Empat murid Xiahou Dun lainnya saat itu sedang berada di istana. Lu Xun yang tertua dan sudah mewarisi semua ilmu gurunya. Jiu Shan murid ketiga, Lin Wa murid keempat dan Zsu Mei murid keenam.
Xiahou Dun menceritakan adanya bahaya yang sudah di depan mata. Musuh dengan kekuatan besar akan menyerang dan menghancurkan Partai Naga Emas.
"Keadaan ini sangat menentukan mati hidupnya Partai Naga Emas. Kita di sini akan diserang dan yang menyerang adalah pendekar berilmu tinggi yang menjadi bagian kekuatan pasukan Kerajaan Shu. Di Kerajaan Wei, saudara kalian akan berperang membela istana, dan kita tidak tahu bagaimana nasib mereka dalam perang nanti. Tetapi satu hal penting harus kalian ingat, ilmu Partai Naga Emas ini tak boleh lenyap dari muka bumi. Jika keadaan terdesak dan kita tak mungkin bertahan lebih lama, kalian harus lari, selamatkan diri masing-masing, berlatihlah dengan rajin, pelihara dan lestarikan jurus-jurus Naga Emas, aku yakin suatu hari nanti akan muncul seorang ketua baru dari angkatan muda untuk memimpin Partai Naga Emas. Camkan ini"
Selanjutnya Xiahou Dun dan Wei Hu
__ADS_1
mengatur semua muridnya untuk bersiap
menanti serangan lawan. Tujuhbelas murid itu
menjadi pemimpin kelompok yang
bertanggungjawab di pos-pos tertentu.
Ketika semua murid sudah keluar ruangan, Wei Hu dengan wajah muram berkata kepada kakak perguruannya, "Kerajaan Shu rupanya sangat siap berperang. Aku kawatir dengan apa yang bakal terjadi. Kakak, sebaiknya kita bertarung di dekat kamar rahasia. Sebagai ketua kamu bertanggungjawab menjaga dan meneruskan ilmu kita, karenanya kamu harus selamat, begitu kita kalah, kamu harus masuk kamar rahasia, aku yakin Kakak Yu Jin dan Guan Xing akan datang, kamu harus bertahan hidup dan menunggu mereka, kamu harus berjanji padaku, Kak"
Sesaat Xiahou Dun sadar, ia berseru, "Kakak, jangan kerahkan tenaga, ini racun pelemas tulang, makin kita lawan makin kita keracunan."
Yuan Shao, laki-laki muda bertubuh kekar masuk menghadap dengan tergesa-gesa. Dia melapor beberapa murid tak bisa melakukan semedi. Ada gangguan dalam tubuh yang menghambat pengerahan tenaga dalam Tapi dia sendiri tidak keracunan.
__ADS_1
Xiahou Dun memanggil semua murid berkumpul. Dia menanyakan siapa saja yang kena racun. Sebagian murid melangkah ke depan Hampir separuh dari mereka, keracunan. "Racun itu dicampur dalam makanan dan minuman, bagi murid yang belum keracunan, sekarang ini jangan makan dan minum," tegas Xiahou Dun.
Tadi dia dan Wei Hu telah memeriksa murid pembawa nampan. Dari pengakuannya, seperti biasanya dia masuk gudang bersama empat murid lain, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Xiahou Dun memastikan bahwa lima murid tersebut tidak bersalah. Dia berkata pada Wei Hu. "Orang itu tak mungkin dari luar sebab tak mungkin dia bisa menyusup masuk.
Pasti dia orang dalam, seorang murid pengkhianat. Tetapi sebaiknya hal ini tak perlu kita bincangkan dengan para murid, aku khawatir akan timbul perpecahan karena saling curiga mencurigai padahal saat ini semua harus bersatupadu."
Situasi kritis itu harus disikapi dengan bijak Xiahou Dun memutuskan murid yang keracunan harus pergi meninggalkan perguruan. Mereka tak mungkin bisa bertarung karena hanya membuang nyawa percuma. Murid yang tidak keracunan, boleh tetap di sini dan bertarung mati hidup. "Aku, Wei Hu dan Yuan Shao tetap di sini, kami masih sanggup bertarung," tegasnya.
Jen Ting, murid Xiahou Dun paling bontot, usia tujuhbelas tahun, jangkung, cantik keibuan dengan kulit putih mulus. Dia menangis ketika kepalanya dielus sang guru "Kamu tak boleh di sini, kamu harus hidup dan ikut menjaga ilmu kita. Kamu cari pamanmu Yu Jin, berlatihlah bersama dia. Adapun pamanmu, Guan Xing, terserah padamu apakah kau maafkan dia atau tidak. Dia tidak pantas menjadi paman gurumu Jen Ting, bawalah pesanku, muridku yang paling layak menggantikan aku sebagai ketua, adalah kakakmu Lu Xun, urutan berikutnya Jiu Shan. Semoga para dewa melindungi dua kakakmu itu. Ingat ini, jika dua kakakmu itu gugur dalam perang, maka kamu lebih layak menjadi ketua dibanding Xun Yu, camkan itu! Karena itu Jen Ting, berlatihlah lebih rajin. Sekarang pergilah, Jen Ting, sebelum terlambat," katanya sambil menghapus airmata di wajah cantik muridnya.
Malam itu menjadi malam perpisahan yang tak mungkin dilupakan para murid, baik mereka yang pergi maupun yang menetap. Jumlah yang memilih bertarung sampai mati, hanya empatpuluhan murid. Dipimpin Yuan Shao, mereka bersiap-siap di beberapa tempat. Para murid yang harus pergi meninggalkan perguruan, pergi dengan isak tangis. Tidak pernah terpikirkan bahwa situasi perguruan bisa seburuk itu. Mereka pergi dengan isak tangis bercampur dendam membara, tetapi masa depan yang gelap menanti sekelam malam yang gulita. Apakah Partai Naga Emas akan sirna dari dataran tengah?
Xiahou Dun teringat pesan gurunya, Zhou Tai, cara unik mengembalikan tenaga yang hilang akibat racun pelemas tulang. Cara itu hanya bisa dilakukan jika yang kena racun adalah dua orang yang tidak terpaut jauh tenaga dalamnya. Kenyataannya dua tokoh murid Zhou Tai itu, tenaga dalamnya sama imbang.
__ADS_1
Tidak ayal lagi Xiahou Dun dan Wei Hu lantas memainkan jurus Balaraksha (Seribu Raksasa) dari ilmu Naga Emas yang merupakan ilmu andalan Partai Naga Emas. Selama dua gurunya berlatih, Yuan Shao setia berjaga-jaga
Benturan tapak tangan dua tokoh itu mulanya perlahan, makin lama semakin keras, dan tiada henti. Lama kemudian, keduanya berhenti sejenak. Wei Hu tampak gembira. "Kakak, sebagian besar tenagaku sudah pulih." Dia melanjutkan dengan lirih. "Guru besar Zhou Tai, meski sudah lama mati namun masih bisa juga menolong dua muridnya yang goblok ini."