
Yu Jin diam saja. Mulutnya komat-kamit. Rupanya ia bicara kepada muridnya menggunakan ilmu memendam suara lewat tenaga perut. Hebat! Orang lain tak mungkin bisa mendengar. Pertanda tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi "Jiu Cien, tenaga dalam orang itu cukup aneh dan sulit diukur tinggi rendahnya. Pasti dia pendekar kelas atas. Kita harus hati-hati, kamu jangan sekali-sekali menjauh dari sisiku."
"Jiu Cien, aku sudah tua, sudah lebih dari separuh abad. Aku hidup dalam penyesalan sejak Xiahou Dun mati Kalau saja dulu aku tak menuruti katahatiku, kalau saja dulu aku dan Kakak Guan Xing mau menetap bersama kak Xiahou Dun dan kak Wei Hu mungkin kita masih bisa bahu-membahu menyelamatkan Partai Naga Emas, atau kalau pun harus mati, mati dalam tarung adalah pilihan paling mulia bagi pendekar.
"Tapi nasi sudah jadi bubur. Aku menyesal, merasa bersalah. Meski hatiku agak terhibur karena sempat menemui kak Xiahou Dun sebelum ajalnya. Ia mati meram karena aku berjanji akan melaksanakan tiga perintahnya. Jika aku mati malam ini, maka tiga tugas itu harus kamu laksanakan sebab itu perintah perguruan."
Cerita Yu Jin terhenti. Saat itu terdengar jeritan dua orang saling susul. Suaranya mendirikan bulu roma. Saat berikut, dua sosok bayangan menyerbu masuk, mendatangkan angin kencang. Sima Yi dan Mei Chu bergerak sebat, hampir berbarengan "Kena kamu siluman!" teriak Mei Chu.
Makian itu disusul teriak girang Mei Chu karena pedangnya mengenai sasaran tubuh manusia. Pukulan melingkar Sima Yi yang berisi tenaga dalam dahsyat mengena telak dada lawan yang lain. Darah muncrat ke mana-mana.
Dua musuh itu sudah dipecundangi, begitu mudahnya. Semua mata melotot memandang dua sosok mayat yang tergeletak di ruangan. Ternyata mereka dua orangtua pedagang kecil tadi. Luka menganga di dada tepat bagian jantung. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Mereka dibunuh dengan keji kemudian mayatnya dilempar ke dalam, itu yang membuat Mei Chu dan Sima Yi kecele.
"Bangsat kejam!" Dua murid Mei Chu membuang muka, tak tahan melihat mayat mengerikan itu. Apalagi dua orangtua itu bukan dari kalangan pendekar. Mereka orang awam yang tak bisa silat. Mei Chu menggamit dua muridnya, Mei Lin dan Mei Lan. "Kalian jangan jauh-jauh dari gurumu"
Yu Jin dan Jiu Cien tak begitu peduli.
__ADS_1
Sekilas melihat dua mayat, Yu Jin menggamit Jiu Cien. Namun sebelum ia buka mulut, terdengar suara Sima Yi. "Kak Yu Jin, Mei Chu, coba perhatikan ini, senjata apa ini yang bisa membuat lubang di dada manusia, mungkin semacam bor."
Dua pendekar itu mendekat dan memerhatikan mayat. Lukanya sama, tepat di bagian jantung. Tampak seperti senjata itu menembus dada, berputar dan ******* hancur tulang dan daging di seputar dada sebelah kiri. "Mungkin benar, senjatanya semacam bor namun jelas sekali dikendalikan dengan tenaga dalam yang besar," tukas Yu Jin.
"Setahuku, belum pernah ada pendekar di dataran tengah yang menggunakan senjata aneh seperti ini," tambah Mei Chu
Lelaki botak alias Si Tangan Besi menyela, "Menurut cerita orang, sepanjang beberapa bulan belakangan ini, si syair Maut selalu meninggalkan saksi hidup. Dan mereka yang ikut menyaksikan pembunuhan keji itu tak pernah menyebut adanya senjata, mereka mengatakan orang itu berkelebat macam siluman, geraknya sangat cepat dan ia selalu beraksi dengan tangan kosong. Mungkin saja, malam ini malam istimewa sehingga dia menggunakan senjata"
Saat itu semua orang lengah. Mereka terpencar dan tidak berada lagi di dalam lingkaran.Tiba-tiba saja terdengar suara mencicit yang bising. Sima Yi berteriak. "Kembali ke lingkaran semula!"
Suara mencicit sudah memenuhi ruangan. Senjata itu hampir tak terlihat. Bor maut berbentuk kerucut sebesar ibu jari, dikendalikan dengan tali yang saking tipisnya hampir tidak terlihat. Semuanya ada empat bor maut. Senjata itu berputar bagai gasing dan menyambar ke sana kemari dengan kecepatan tinggi
Semua orang panik. Sibuk berkelit dari serangan senjata maut itu. Caci maki dan sumpah serapah keluar dari mulut para pendekar. Tidak lama. Tidak sampai sepeminuman teh, terdengar jerit dan lengking kesakitan.
Saat berikutnya senjata itu menghilang. Datang secara mendadak, pergi pun sangat tiba-tiba. Suasana lengang. syair Maut tetap tak kelihatan batang hidungnya.
__ADS_1
Dua mayat tergeletak di tanah. Darah segar masih mengucur dari lubang di dadanya. WarsaKumarawet dan Tangan Besi! Dua pendekar yang saling bermusuhan, kini mati bersamaan tanpa pernah mengenal wajah pembunuhnya.
Semua saling pandang. Seperti tak pernah ada sesuatu yang terjadi karena berlangsung begitu cepat. Semua sependapat ilmu iblis itu teramat tinggi. Tanpa memperlihatkan diri ia sanggup mencabut nyawa dua pendekar di depan mata delapan pendekar lainnya.
Sima Yi memandang Yu Jin dan Mei Chu.
Teror bor maut itu masih terbayang Suaranya seakan masih mencicit di telinga Mei Chu membanting kaki, saking kesal. "Gila, sungguh pembunuh licik dan keji" Tak bisa kuasai dirinya lagi, pendekar Pedang dewa itu berteriak, "Bangsat licik, keluar kau, hadapi aku."
Suara Mei Chu bagai guntur di tengah malam sunyi Gema suara itu dipantulkan ke sana kemari. Suatu pameran tenaga dalam dari seorang pendekar kelas satu Suasana kembali sunyi. Seorang lelaki muda tampan dan tampaknya serombongan dengan Mei Chu, berkata sambil memberi hormat kepada para pendekar. "Sebaiknya kita jangan terpancing, serangan iblis itu akan datang lagi. Sudah empat nyawa melayang, masih ada satu lagi yang diincarnya sebelum fajar, salah satu di antara kita. Maka lebih baik kita siap-siap menghadapinya."
"Benar apa yang dikatakan Secauci, sebaiknya kita semua siap dalam kelompok." Berkata demikian Mei Chu menarik dua muridnya yang cantik, mendekat kepadanya.
Secauci memegang lengan temannya. "Kakak Matauci, kita harus bahu-membahu untuk selamat." Lelaki bertubuh kekar itu manggut. Ia mencabut pedang dari balik punggung "Sebaiknya kita tetap berdampingan, Kakak. Apa pun yang terjadi, jangan sampai kita terpisah."
Sima Yi bergabung dengan Yu Jin dan Jiu Cien. Delapan pendekar itu terbagi dua kelompok tetapi tak berjauhan satu sama lain.
__ADS_1
Semua bersiap. Menanti!