Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 16 Si Cantik itu muncul


__ADS_3

Ilmu andalan Sima Yi, yang diterimanya dari guru Yue Jin, pendekar dari gunung Huang. Setelah semedi, Jiu Cien bangkit lagi meneruskan latihannya.


la tidak melihat kehadiran seorang gadis di tepi sungai.


Gadis itu melangkah santai di tepi sungai. la duduk di sebuah batu di pinggir sungai Kakinya dijulurkan ke dalam air. Ia menjerit kecil, dinginnya air terasa nikmat. la berdiri sambil merentang tangan, menengadah memandang air terjun dan menikmati pemandangan indah di sekelilingnya. Ia tidak melihat Jiu Cien yang berada di dalam kumpulan uap air yang tebal.


Gadis itu masih berdiri di batu di tepi sungai merasakan sejuknya angin pegunungan. Wajahnya yang cantik basah dielus angin sepoi yang membawa serta uap air. Hidungnya yang bangir kembang kempis menghirup nafas panjang seakan hendak menelan semua udara basah itu ke dalam parunya. Udara itu dihembuskan dari mulutnya yang indah berbentuk gondewa. Lehernya yang jenjang tertutup rambut yang basah yang terjulai sampai di pundaknya. Ila seorang gadis muda usia sekitar duapuluh tahun, jangkung dengan kaki langsing dan agak panjang. Tubuhnya putih mulus, tampak langsing, sintal dan berisi. la benar-benar cantik alamiah.


Tak ada suara lain kecuali gemuruh air terjun dan suara binatang dari hutan sekitar. Mendadak terdengar suara tertawa keras diikuti kesiuran angin. Sosok bayangan bergerak pesat. Bagai turun dari langit seorang lelaki sudah berdiri di depan si gadis. la kurus, kepalanya botak. Kumis dan cambangnya lebat. Sikapnya kurang ajar. Matanya jelalatan menelusuri sekujur tubuh si gadis.


"Gadis cantik, Gadis cantik, sudah lama kubuntuti kamu Nah sekarang hanya kita berdua di tempat sunyi dan sepi ini. Bagaimana dengan lamaranku tempo hari, kamu jangan malu-malu, apalagi di sini kan tak ada orang, Kakali ini sudah tak sanggup menahan rindu."

__ADS_1


Si gadis terkejut sesaat. Tetapi bagai tersentak ia lantas menyerang gencar. Dua jurus berturutan dilepasnya. "Bangsat keparat busuk, rupanya kamu belum mati waktu itu. Hari ini kubikin kamu menyesali hidupmu, matilah kamu bangsat!" la menyerang dengan serentetan pukulan dan tendangan yang mendatangkan angin keras pertanda besarnya tenaga yang digunakan.


Lelaki brewok itu tertawa. "Ajal belum mau mencabut nyawaku, Gadis cantik. Dewa maut itu berkata, ia baru akan mencabut nyawaku setelah aku mengawini kamu yang cantik dan montok. Sekarang saatnya aku mengawini dan menikmati tubuhmu, Gadis cantik"


Gadis itu tidak meladeni omongan lawan. la terus mencecer dengan serangan dahsyat. Tetapi lelaki brewok itu berkelit lincah meskipun batu besar tempat ia berpijak, licin dan berlumut. Lelaki itu juga tak bisa berbuat banyak. Tampak ilmu keduanya imbang. Si gadis lebih unggul dalam ringan tubuh, namun masih kalah dalam tenaga pukulan.


"Tak usah heran Gadis cantik, sekarang ilmu Kakak-mu ini, Tangchi, makin maju. Sengaja aku memperdalam ilmu dari Guru besar, supaya sebagai suami aku bisa meladeni kemauanmu tiap malam, iya kan Gadis cantik"


Dua kali tamparan menerpa bahu dan pundak Tangchi membuatnya meringis kesakitan. Mendadak ia mengubah jurus silatnya, "Gadis cantik, sudah cukup kita main-main." Berkata demikian ia menyambut pukulan si gadis dengan kepalan. Kalah tenaga dalam, si gadis tak mau adu pukulan. la mengubah jurus, kepalan berubah menjadi telapak tangan terbuka. la niat menampar pergelangan tangan lawan. Tiba-tiba si gadis melihat sinar gemerlap di tangan Tangchi Paku yang berkilat oleh matahari senja. Jarak sudah terlampau dekat, ia sulit menghindar.


Si gadis dengan cerdik dan sebat menggerakkan pergelangan tangan ke bawah lalu ke atas, niat menyampok tangan lawan. Tangchi licik, ia sudah memikirkan perangkap ini. la membiarkan gerakan si gadis. Saat yang tepat ia menggentak telapak tangannya, dua paku melayang secepat kilat. Gadis itu tak pernah mengira lawan akan menyambit dengan paku. la mengelak, tetapi terlambat. Satu paku lolos, satu lainnya nancap di dada dekat pundak.

__ADS_1


Tangchi berteriak girang, "Kena kamu Gadis cantik, dan ini paku berikutnya supaya kamu tak bisa lari. "Tiga paku melayang ke arah kaki. Si gadis mengelak dengan gerak tubuh limbung. Dua lolos, satu lainnya nancap di paha.


"Tak usah takut Gadis cantik, itu memang paku racun laba-laba, tapi Kakak punya pemunahnya. Tanpa obat pemunah kamu akan mati dalam waktu satu hari. Sekarang, menyerah saja. Memang tidak enak mengawini orang pingsan, tetapi apa boleh buat daripada membiarkan kamu lolos lagi."


Gadis itu merasa gerak kakinya agak kaku, rupanya racun sudali mulai bekerja. Sungguh cepat sekali proses kerja racun itu. Gadis berpikir lebih baik mati daripada diperkosa. "Aku adu jiwa denganmu, lebih baik aku mati, kamu bangsat biadab." Sambil berkata ia melancarkan dua jurus menyerang tanpa mempedulikan pertahanan lagi. Tujuannya cuma satu, membunuh lelaki bernama Tangchi itu. "Lebih baik mati daripada ternoda," gumamnya.


Meski ilmunya setingkat, mau tak mau Tangchi terdesak hebat. la cuma bisa menangkis. Dua pukulan menghantam telak dadanya Terasa gejolak darah, rasanya mual.


la tahu ia terluka dalam. Sebenarnya tak semudah itu ia terluka Keduanya imbang, si gadis sudah terluka kena paku beracun namun dengan serangan nekad justru kekuatannya berlipat.


Di lain pihak Tangchi tarung setengah hati, tak mau menurunkan tangan maut. Lelaki brewok ini terhuyung limbung. Dadanya sakit, nafas sesak. Tapi ia tersenyum, dilihatnya si gadis ikut terhuyung sempoyongan. Racun sudah bekerja. "la segera akan jatuh tak berdaya," gumam Tangchi dengan menahan sakit di dadanya.

__ADS_1


Racun sudah bekerja. Gadis itu merasa pusing. Pandangannya berputar dan kabur. la menggigit bibirnya, "Aku tak boleh pingsan, aku harus tetap sadar."


__ADS_2