Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 3 Cinta Segitiga


__ADS_3

Dia mengerutkan kening dan menatap


isterinya. "Dalam perang apa saja bisa terjadi. Sulit meramalkan siapa lebih kuat dan siapa bakal menang. Terkadang pasukan yang menang pun banyak kehilangan prajurit dan punggawa. Jika kita kalah perang, kamu harus pergi meninggalkan medan perang, selamatkan dirimu dan kembalilah ke istana menyelamatkan Jiu Cien. Jangan biarkan dia terluka atau menjadi tawanan musuh."


Zsu Mei merenggangkan tubuhnya, memandang mesra suaminya. Matanya bersinar cinta. "Aku sudah bersumpah setia. Hidup dan mati selalu bersamamu. Kak, jika aku mati dalam perang, maka kau yang harus selamatkan dirimu, pergi ke istana dan selamatkan anak kita. Tetapi jika kamu yang mati maka aku ikut mati bersamamu, membela suami adalah darma kesetiaan dan kehormatanku sebagai isteri."


"Zsu Mei kekasihku, aku tidak mungkin melarikan diri dari medan perang," tegas laki-laki itu.


Mendadak Zsu Mei ingat seseorang, ia tersenyum "Kenapa kamu tidak meminta Kakak Sima Yi menolong Jiu Cien. Di antara semua pendekar yang berkumpul di sini, dialah yang paling tinggi ilmu ringan tubuhnya. Amat mudah baginya meloloskan diri untuk kembali ke istana menyelamatkan Jiu Cien."


"Dia laki-laki sejati, dia tidak akan mau lari dari medan perang." Mendadak laki-laki itu tersenyum, dia teringat sesuatu. Sambil memeluk isterinya dia berbisik. "Tetapi Sima Yi pasti mau melakukan itu jika kamu yang membujuknya. Aku rasa tak akan ada seorang laki-laki pun yang bisa menolak permintaanmu apalagi jika kau membujuk dan merayunya."


Dia mencubit suaminya.

__ADS_1


"Termasuk kamu, Kak?" Jiu Shan mengangguk.


"Aku pun selalu tak berdaya jika dihadapkan pada kecantikanmu" Dia berbisik sambil lidahnya menggelitik telinga isterinya. "Zsu Mei, lakukan itu, kau bujuk dia, lakukan sebelum perang ini terjadi, lebih cepat lebih baik. Jika Sima Yi sudah berjanji, dia pasti akan menepatinya dan itu artinya keselamatan anak kita sudah terjamin."


"Apa maksudmu, Kakak?" Dalam hati Zsu Mei menebak- nebak apakah suaminya sudah mengetahui perselingkuhannya selama ini dengan Sima Yi.


"Demi kepentingan anak kita, lakukan itu Zsu Mei, bujuk dan rayu dia supaya mau berjanji menolong Jiu Cien seandainya kita kalah perang atau jika kita berdua mati di medan perang. Pada saat itu dia harus kembali ke istana dan menyelamatkan Jiu Cien meskipun untuk itu dia harus lari dari medan perang." Dia masih mendekap isterinya, menyembunyikan wajahnya di leher wanita itu.


Zsu Mei terkesiap. Hatinya berbunga memperoleh kesempatan itu, tapi ia berpura-pura. "Tetapi aku hanya membujuk, bicara dengannya, tidak lebih dari itu, Kak. Meskipun begitu aku butuh waktu satu atau dua hari membujuknya. Dan belum tentu aku akan berhasil."


"Kak, kamu suamiku, hanya padamu aku mengabdi dan jiwa ragaku kepunyaanmu semata. Sima Yi itu milik masa lalu, tapi Jiu Shan dan Jiu Cien adalah masa depanku. Aku sangat mencintaimu, Jiu Shan," bisiknya separuh mendesis. Zsu Mei merasa dia benar-benar mencintai suaminya. Tetapi di dalam hati, dia tak bisa memungkiri bahwa dia juga mencintai Sima Yi.


Mereka masih berangkulan. Lantas Jiu Shan meregangkan tubuh, memandang wajah jelita isterinya. Dia mencium bibir Zsu Mei. Dia tak pernah tahu, pagi tadi mulut itu sudah dilumat habis-habisan oleh Sima Yi.

__ADS_1


Di salah satu kamar di bagian istana, Jiu Cien sedang menekuni lembaran kulit tipis yang bertuliskan aksara Huruf kuno dan Sansekerta. Kamar itu diterangi obor dinding.


Seorang lelaki berusia tiga puluhan sedang mengawasi. Dialah Cao Pi, tokoh muda yang terkenal sebagai tabib sakti dan juga ahli racun. Dia merupakan tabib istana yang menjadi orang kepercayaan Cao Tao, adik kandung Kaisar Cao Cao.


Cao Tao menyukai Jiu Cien karena menganggap anak itu punya bakat luar biasa bagusnya untuk menjadi pendekar besar. Itu sebabnya, dia ikut melatih Jiu Cien. Bahkan dia minta Cao Pi melatih dan mempersiapkan Jiu Cien menjadi pendekar yang menguasai sastra, obat-obatan, bahkan juga racun. Sedang untuk ilmu, dia berempat Jiu Shan, Lu Xun dan Sima Yi akan mendidiknya serius.


"Jiu Cien, ini aksara kuno yang digunakan orang di jaman dulu, sekitar seratusan tahun lebih. Kamu perlu mengetahui ini semua, pasti suatu waktu ilmu sastra ini akan berguna bagimu." Cao Pi tak bosan-bosan memberi petunjuk. Lelaki itu mengelus-elus kepala Jiu Cien. "Dua tahun sudah aku mendidikmu, sebenarnya kamu sudah lulus. Besok mungkin aku tak perlu lagi menemanimu. Kamu sudah pandai membaca menulis, mengerti sastra, menguasai ilmu ketabiban serta yang paling penting, darahmu kini punya daya tolak terhadap segala macam racun. Kamu sudah kebal terhadap racun. Mungkin ada beberapa jenis racun yang bisa menerobos daya tahan tubuhmu, tetapi tidak banyak."


Partai Naga Emas suatu perguruan besar. Sudah menjadi tradisi turun temurun sejak cikal bakal Zhang He mendirikan perguruan itu di jaman raja sebelumnya, Partai Naga Emas selalu mengirim anak muridnya untuk mengabdi istana. Dalam beberapa kejadian, murid-murid Partai Naga Emas ini menjadi punggawa kerajaan tidak resmi yang setiap saat siap membela istana dari ancaman luar.


Tanah Partai Naga Emas cukup luas. Di rimba kependekaran dataran tengah, Partai Naga Emas tergolong perguruan paling berpengaruh dan disegani orang. Murid yang berguru di perguruan itu mencapai seratus limapuluhan. Sebagian di antaranya mengabdi di istana Kerajaan Wei. Dalam situasi panas membara dan perang sudah bergayut di depan mata, sekitar lima puluh murid Partai Naga Emas berada di istana. Siap membela istana. Sebagian lainnya masih tinggal di perguruan namun sudah siap-siap berangkat membela kerajaan.


Sore menjelang malam Ketua Partai Naga Emas, Xiahou Dun, duduk bersama adik seperguruannya, Wei Hu. Dua tokoh itu hampir sebaya, sekitar empat puluhan. Duduk di hadapan keduanya, seorang cucu murid, Guo Jia yang adalah murid Lu Xun. Guo Jia sejak tiba siang tadi belum istirahat. Dia membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya yang penuh lumpur, kemudian menghadap dua kakek gurunya itu.

__ADS_1


Guo Jia menceritakan kejadian yang dialaminya di hutan kemarin sore. Xiahou Dun berpikir sejenak, keningnya berkerut. Dia kemudian memerintah Guo Jia memanggil enambelas murid lain yang namanya disebut satu-satu. Mereka semua adalah murid paling tangguh yang berada di perguruan saat itu.


__ADS_2