Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 8 Pendekar Jubah Putih


__ADS_3

Sekonyong-konyong datang menyeruak bayangan serba putih, seorang pendekar usia enampuluh, rambut, jenggot, kumis dan alis semua serba putih. Kakinya tidak terlihat karena tertutup jubah pulihnya. Jubah itu menjuntai sampai ke tanah berkibar ditiup angin.


Persis dewa yang turun dan kahyangan ke bumi. la bagai terbang, ringan bagai kapas, sungguh ilmu ringan tubuh yang sulit diuari bandingannya. Masih dalam keadaan melayang, pendekar itu melonjor dua tangan dalam gerak berputar. Siku dibengkokkan. Jari tangan seperti meraup, kemudian tapak tangannya dihadapkan ke arah dua pendekar dataran tengah. "Jangan gunakan tenaga, kosongkan tubuhmu !" Suara pendekar jubah putih itu merdu dan akrab di telinga Sima Yi dan Lu Xun.


Pada saat Takadagawe meluruskan dua tangannya, memukul dahsyat ke dada dua pendekar dataran tengah, pada saat yang sama angin pukulan si jubah putih menerpa Lu Xun dan Sima Yi.


Dua pendekar dataran tengah ini tanpa rasa curiga sedikit pun mengikuti bisikan si jubah putih. Keduanya mengosongkan tubuh dan tidak menggunakan tenaga Pukulan pendekar itu mengangkat dua pendekar dataran tengah seperti terbang melayang beberapa depa dari sasaran pukulan Takadagawe. Pukulan Takadagawe menerpa tanah kosong. Debu berterbangan Ada semacam bebauan tanah terbakar.


Takadagawe murka melihat pukulannya mengena tempat kosong. "Siapa orang yang berani mati mencampuri urusanku ?"


Pendekar jubah putih tertawa. "Karena menyangkut gengsi dan kehormatan dataran tengah, aku terpaksa ikut campur. Ilmu seberang tak boleh tepuk dada di dataran tengah. Orang asing tak boleh temberang di negeri ini."


Dua pendekar itu kemudian terlibat pertarungan dahsyat Si jubah putih bertarung seperti orang tidak bertenaga Gerakannya aneh. Semua anggota tubuhnya bergerak namun aneh kakinya tidak bergerak. Memang kakinya tertutup jubah, namun bisa dilihat bahwa kakinya tidak memijak bumi la melayang, ujung jubahnya pun tak menyentuh tanah.


Mengetahui lawan berilmu tinggi, Takadagawe memukul dengan jurus mematikan. Semua pukulan tertuju ke titik kematian. Si jubah putih mengelak dan balas menyerang.


Limapuluh jurus berlalu. Takadagawe mulai terdesak, ia memutuskan menyerang dengan jurus paling mematikan Teri sanson Mein Jevati Mein Sirf teri kusbu hai (Dalam Hidup dan Nafasku Hanya Terdapat Harum Dirimu), jurus adu jiwa Takadagawe selama ini belum menemukan tandingan yang membuatnya kelewat sombong. Tapi kehebatan si jubah putih telah mengusik harga dirinya, itu sebab ia melancarkan jurus adu jiwa.


Pendekar jubah putih tersenyum, seperti main-main, ia menepuk dua tangannya. Benturan tenaga terdengar. "Desss.". Tepukan itu telah membuat pukulan Takadagawe melenceng jatuh di ruang kosong. Si jubah pulih menjulurkan satu tangan ke depan bagai hendak mencengkram. Takadagawe terdesak, surut dua langkah sambil melontarkan pukulan Banjao kisi ke kisi ko aapna banalo (Jadilah Milik Seseorang dan Milikilah Seseorang).


Tapi si jubah putih tak berhenti. Tangan kiri seperti menggaruk belakang kepala. Tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi. Pinggul dihentak ke kiri dan kanan. Tangan kirinya mendorong menangkis pukulan dua tangan Takadagawe. Tangan kanannya menjulur dan menyusup ke depan menggaruk dada Takadagawe.

__ADS_1


Takadagawe terkesiap. la terpental surut dua langkah.


Wajahnya pucat. la tak berdaya ketika si jubah putih bergerak maju. Takadagawe memasang kuda-kuda, berdiri dengan wajah pucat tetapi mata bersinar penuh amarah. Ia menggeram dan menghimpun segenap tenaga, dua tangannya membuat lingkaran besar dan kecil. Ia mengulang jurus andalan Banjao kisi ke kisi ko aapna banalo (Jadilah Milik Seseorang dan Milikilah Seseorang) dalam sikap sama-sama mati.


Mendadak pendekar jubah putih seperti menangis, lengan kiri disapukan ke matanya, tangan kanan membuat lingkaran kecil mengarah ke depan, tangan kiri menjulur ke depan.


Berbarengan tangan kanannya digentak dengan tarikan dahsyat ke dadanya. Kuda-kuda Takadagawe gempur dan tubuhnya bergetar, terombang ambing didorong dan ditarik tenaga si jubah putih. Sesaat kemudian si jubah putih berkata lirih. "Ah tidak ada gunanya membunuh kamu, pulanglah ke negerimu, jangan pernah kembali lagi ke dataran tengah!" Dua tangannya seperti mengusir ayam, tetapi angin pukulannya membuat Takadagawe terpental ke belakang.


Pendekar Himalaya itu muntah darah. Matanya melotot, dia sungguh tak percaya bahwa dia bisa kalah dan terluka sampai muntah darah. Dia berkata lirih dalam bahasa dataran tengah yang fasih, "Terimakasih, tuan sudah mengampuni jiwaku. Aku akan pulang ke Himalaya, tak akan datang lagi ke dataran tengah."


Pendekar jubah putih tanpa menoleh meneruskan geraknya, melayang pergi begitu saja. Geraknya ringan seperti terbang. Hebatnya lagi, seluruh gerakan sejak awal sampai akhir, semua dalam satu gerak sinambungan yang harmonis dan mulus. Seperu tak ada paksaan dalam geraknya. Bagai terbang ia menuju ke bagian di mana Kaisar Cao Cao sedang dalam kepungan.


Semudah itu, bagaikan tak menemukan perlawanan. Ia masuk kepungan, menggandeng lengan Kaisar, menerobos keluar dengan mendendangkan Syair Penakluk Langit, syair yang kemudian menjadi populer dan dibincangkan orang di dunia kependekaran.


"Aku datang dari balik kabut hitam Aku mengarungi samudera darah Akulah sang pengelana Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Kan kuremas matahari di telapak tanganku Ilmu dari segala ilmu...!"


Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan,


Kan kupecahkan wajah rembulan


Dengan Syair Penakluk Langit,

__ADS_1


Tak ada lawan, Tak ada tandingan,


Ilmu dari segala ilmu...!"


Lu Xun dan Sima Yi terpesona oleh sepak terjang pendekar jubah putih itu.


Siapa dia? Pada saat bersamaan, telinga Lu Xun mendengar kesiuran angin. Dia merunduk. Tongkat itu lewat di atas kepalanya, dia melihat Mi Fang dan beberapa pendekar lain meluruk ke arahnya. Sima Yi tak tinggal diam, dia bergerak cepat bagai siluman. Itulah Jejak Kilat tingkat paling tinggi. Tidak cuma bergerak dia juga menampar ke kanan kiri. Terdengar teriak kesakitan, tiga pendekar lawan memegang kepala kemudian roboh, mati, tanpa suara. Tapi satu mati, datang lima, mati dua muncul duapuluh. Sepertinya pasukan Kerajaan Shu tak pernah habis.


Di pihak Kerajaan Wei, hanya beberapa gelintir yang masih bertahan. Jiu Shan dan Zsu Mei sudah bersimbah darah, keduanya masih melawan dan membunuh beberapa lawan. Ma Chao tertawa sadis seperti ringkik kuda, membuat sepasang suami isteri makin terdesak hebat. Sima Yi melayang hendak menolong. Tapi Zsu Mei justru berteriak keras padanya, "Sima Yi pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu"


Pada saat itu juga sebatang tongkat nancap di dada Zsu Mei. Mata Sima Yi membelalak. Perempuan itu berteriak lagi. "Pergi Kak Sima Yi, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah."


Sima Yi melesat pergi, amarahnya meluap. Dia bagaikan terbang, menghajar siapa saja lawan yang menghadangnya. Dia melewati banyak mayat musuh, tapi dia juga menyaksikan teman-temannya mati satu per satu Cao Tao, Lu Xun, Lin Wa, Jiu Shan dan perempuan yang dicintainya. Dia meloloskan diri menuju istana, memenuhi janji dan ikrarnya untuk menyelamatkan putra kecintaan Zsu Mei. Sima Yi berlari sambil menangis.


Anakku. Cepat pergi, ingat janjimu


Pada saat itu juga sebatang tongkat nancap di dada Zsu Mei. Mata Sima Yi membelalak. Perempuan itu berteriak lagi. "Pergi Kak Sima Yi, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah."


Sima Yi melesat pergi, amarahnya meluap. Dia bagaikan terbang, menghajar siapa saja lawan yang menghadangnya. Dia melewati banyak mayat musuh, tapi dia juga menyaksikan teman-temannya mati satu per satu Cao Tao, Lu Xun, Lin Wa, Jiu Shan dan perempuan yang dicintainya. Dia meloloskan diri menuju istana, memenuhi janji dan ikrarnya untuk menyelamatkan putra kecintaan Zsu Mei. Sima Yi berlari sambil menangis.


Tangis seorang pendekar tangguh.

__ADS_1


__ADS_2