Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 9 Kehancuran Partai Naga Emas


__ADS_3

Tanah Partai Naga Emas yang tadinya selalu ramai dengan latihan ilmu serta kegiatan bercocok tanam dan aktifitas lain, hari itu tampak porak poranda. Di sana sini mayat bergelimpangan. Tak ada sisa makhluk hidup. Kerbau, sapi, ayam, babi dan semua binatang ternak, mati Yang ada hanya burung pemakan bangkai, terbang melayang dan hinggap di sana-sini. Bau busuk mayat manusia dan bangkai binatang tercium di mana-mana.


Yu Jin, adik seperguruan Xiahou Dun menerobos masuk pekarangan. Dia mendengar berita hancurnya Partai Naga Emas serta kekalahan pasukan Kerajaan Wei dalam perang Luoyang. Dia bergegas menuju Partai Naga Emas. Dia tiba di Partai Naga Emas tiga hari setelah serangan yang membumihanguskan perguruannya. Dia melihat berkeliling. Amarahnya meluap kesedihannya memuncak.


"Hancur, semua hancur, tidak ada sisa," desisnya.


Dia berlari ke sana kemari, berteriak memanggil orang. Suasana sepi, lengang, hanya terdengar gema suaranya memantul. Tak ada orang yang menjawab panggilannya. la memeriksa mayat-mayat. Banyak yang dikenalnya, banyak juga yang tak dikenalnya, pasti para penyerang. Semua murid mati dalam pertarungan, bekas darah kering tercecer di mana-mana. Dia tak merasakan gatan terik mentari. Ia lari menuju kamar Xiahou Dun. Tertutup rapat. Tak mungkin bisa dibongkar atau dibuka dari luar. Selamanya hanya satu orang saja yang bisa membuka pintu rahasia itu dari luar, yakni ketua Partai Naga Emas, tak ada orang lain. Tiba-tiba matanya melihat mayat tertelungkup agak jauh


dari pintu kamar. Ia menghampiri dengan


jantung berdegup kencang. Ia membalik


mayatnya. Yu Jin berteriak, "Kakak, Kakak Wei


Hu!"

__ADS_1


Dia juga menemukan mayat Yuan Shao. Dua mayat itu sudah dingin, kaku dan berbau busuk. Yu Jin memeriksa di sekitarnya. Ia tak menemukan kakaknya, Xiahou Dun. "Kakak pasti ada di sini, aku tahu dia tidak ikut berperang di Luoyang. Ia masih di sini!" Tiba-tiba terlintas di benaknya, mungkin Xiahou Dun masih hidup dan berada di dalam kamar rahasia. Dia mengetuk pintu dengan pengerahan tenaga dalam, mengetuk dengan isyarat rahasia, "Kakak, Kakak, ini aku Yu Jin."


Sesaat kemudian terdengar balasan dari dalam, ketukan yang tidak keras namun cukup jelas. Yu Jin gembira, pasti orang yang di dalam itu Xiahou Dun, tidak mungkin lain orang. Dia mengetuk lebih keras. "Kakak, buka pintunya."


Pintu kamar terbuka perlahan. Yu Jin mendorong. Dia menerobos masuk, mendapatkan Xiahou Dun bersandar di dinding dekat pintu.


Yu Jin memeluk Xiahou Dun, "Kakak, oh, untung kamu masih hidup." Dia merasakan tubuh Xiahou Dun dingin. Dari luar tidak terlihat adanya luka.


"Kakak, kau luka dalam? Kakak Wei Hu mati, perguruan hancur, banyak murid mati, perbuatan siapa Kakak, apa benar pasukan Liu Bei?"


"Seharusnya aku ikut tarung sampai mati, itulah kehormatan bagi seorang pendekar, tetapi Wei Hu memaksa aku sembunyi di kamar rahasia ini dan sebisa mungkin bertahan hidup untuk menyampaikan tragedi ini kepada kamu dan Guan Xing. Dia yakin kalian akan datang meskipun terlambat. Ternyata harapannya terpenuhi, kau datang tepat saat ajalku sudah dekat."


Xiahou Dun berpesan bahwa Yu Jin harus menjabat ketua Partai Naga Emas sampai menemukan seorang murid yang tepat dan layak sebagai ketua penerus. Dua tugas lain, menemukan ilmu pusaka Inti Naga Emas Pamungkas yang konon rahasianya dipegang keturunan Nyonya Sucilin.


"Kamu harus temukan murid pengkhianat iiu, selanjutnya masa depan perguruan ada di tanganmu"

__ADS_1


Sebelum mati, Xiahou Dun sempat memberitahu kunci kamar rahasia.


Yu Jin melangkah lunglai keluar. Dia agak kaget melihat beberapa orang desa menghadang jalannya. Lalu seorang di antaranya membuka caping sambil memberi hormat. "Paman Yu Jin, terimalah hormat kami."


Yu Jin mengenalnya, dia Diaochan, murid langsung kakaknya Wei Hu. Semuanya enam orang. Diaochan dan Siaochan, keduanya murid Wei Hu Dua pemuda murid Jiu Shan yakni Gan Ning dan Gan Nung. Dua lainnya, Satrung, murid Yuan Shao dan Lan Yan, gadis kecil putri tunggal Yuan Shao.


Diaochan menceritakan pada malam menjelang serangan mematikan itu, beberapa murid yang keracunan disuruh pergi oleh guru ketua. Sekarang ini mereka hidup berpencar dan sementara menyamar sebagai orang desa. Mereka memberanikan diri kembali ke perguruan untuk menyelidiki keadaan. "Kami datang berniat mengubur teman-teman," katanya sendu.


Mendadak saja, Yu Jin berbisik, "Cepat sembunyi, ada orang datang!"


Terdengar suara derap kuda masuk pekarangan. Seorang laki-laki melompat turun. Sima Yi dan bocah berusia delapan tahun, Jiu Cien. Yu Jin mengenal Sima Yi, karenanya lantas keluar menemui Pertemuan cukup mengharukan, Sima Yi menceritakan apa yang dilihatnya di Luoyang. Dan mengapa dia bisa lolos dan menyelamatkan putra Jiu Shan.


"Aku sudah berjanji pada kedua orangtua Jiu Cien, bahwa aku harus kembali ke istana menyelamatkan Jiu Cien sebab istana bakal jatuh ke tangan musuh. Jiu Shan dan Zsu Mei tak mau anaknya menjadi tawanan atau dibunuh musuh. Demi persaudaraan aku rela menjadi pengecut hina yang perang. Itu pilihan yang sulit." lari dari medan


Terdengar suara Yu Jin menghibur. "Jangan menyesali apa yang sudah terjadi."

__ADS_1


__ADS_2