Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 13 Syair Penakluk Langit


__ADS_3

Suasana pagi di sekitar bangunan tua itu sepi dan lengang. Tak terdengar kicau burung. Seakan makhluk unggas itu ikut berdukacita. Seakan ikut sedih atas malapetaka yang ditabur syair Maut tadi malam.


Jiu Cien masih membayangkan Mei Lan yang cantik. Mei Lan yang menangisi kematian adiknya. Mei Lan yang memandanginya dengan penuh rasa terimakasih. Ia juga tak bisa melupakan pengalaman mengerikan itu. Selama ini ia telah melewati banyak pertarungan namun sepak terjang musuh seperti syair Maut tak akan pernah bisa ia lupakan. Telengas, keji dan sangat lihai.


Jiu Cien masih memandangi rombongan Mei Chu, Mei Lan dan dua murid Wuwei yang menghilang di balik hutan.


Jiu Cien merasa ada sesuatu dari dirinya yang terbawa Mei Lan. Ia kesengsem akan kecantikan gadis itu. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang montok. Jiu Cien punya perasaan kuat si gadis punya perhatian padanya. Ia sering memergoki Mei Lan sedang memandanginya. Dan saat mata mereka bentrok, gadis itu melempar senyum dengan mata yang berkedip-kedip. "la juga ada perhatian padaku, tetapi apakah ia sudah punya hubungan dengan Secauci, murid Wuwei itu?" gumamnya dalam hati.


Dalam keadaan termenung, Jiu Cien dikejutkan panggilan Yu Jin. "Jiu Cien, tadi saat kau diserang, tiba-tiba dia membatalkan serangannya padamu, apa yang terjadi ?"


Jiu Cien tak bisa menjawab. la sendiri tak mengerti mengapa syair Maut membatalkan serangannya. Kalau saja serangan itu dilanjutkan, ia tak yakin bisa menghindari maut. "Waktu itu aku siap dengan kuda-kuda Naga Perkasadan siap menyerang dengan jurus Naga Meliuk dan Naga Terbang Menyusup, tetapi aku tak mengerti mengapa ia batal menyerang, ia mengeluarkan suara 'iiihhh' seperti orang terkejut. Aku tak tahu apa yang membuat ia terkejut."


Sima Yi memotong penuturan Jiu Cien. "Coba, nak, kamu ingat-ingat suara orang itu, suara lelaki atau perempuan?"


"Orang itu memakai topeng, wajahnya tak terlihat, potongan tubuh pun tersembunyi dalam jubah panjangnya. Waktu ia menyanyikan syair agak sulit membedakan suaranya, tetapi tadi malam aku yakin mendengar suara kaget, suaranya mirip suara perempuan. Dia pasti seorang perempuan, guru."

__ADS_1


Sima Yi mengerutkan kening, tampak ia berpikir keras. "Waktu benturan tenaga jarak jauh aku mencium bebauan yang biasa dipakai kaum wanita, wewangian bunga, apakah kau juga mencium bebauan serupa, Yu Jin?"


Yu Jin yang ditanya tertawa lirih. "Aku tak pernah tahu bagaimana bebauan perempuan, tetapi memang aku sempat mencium wangi-wangian segar semacam bebauan bunga."


"Tak salah lagi, ia pasti perempuan!" teriak Sima Yi.


"Benar guru, aku juga mencium wewangian itu. Tetapi apa bedanya perempuan atau lelaki, yang pasti ia seorang pembunuh keji yang berilmu tinggi."


"Ada bedanya bagiku, Jiu Cien. Itu bukti bahwa syair Maut bukan seseorang yang kukenal dan yang sangat kuhormati!"


"Siapa yang kau maksud, guru ?"


"Hebat ilmu pendekar itu, kami berdua terdesak hebat Nyawa kami sudah di ujung rambut. Mendadak datang pendekar penolong itu. Keduanya kemudian terlibat tarung, sungguh perkelahian pendekar kelas utama. Sebelum dan sesudahnya aku tak pernah melihat ada pertarungan tingkat tinggi seperti itu lagi. Tidak sampai limapuluh jurus penolong itu sudah menghajar pendekar Takadagawe muntah darah.


Pendekar penolong kemudian seperti terbang melayang pergi membawa serta Kaisar lolos dari kepungan lawan. Dia berlalu sambil mendendangkan syair Jurus Penakluk Langit itu."

__ADS_1


"Syairnya sama, guru ?"


"Syairnya sama persis. Hanya ada satu bait awal yang dinyanyikan pendekar penolong tetapi yang tidak dilantunkan si syair Maut tadi malam. syair itu sangat terkenal pada masa itu tetapi belakangan, setelah duapuluh lima tahun berlalu, orang mulai lupa. Lengkapnya begini,


"Aku datang dari balik kabut hitam Aku mengarungi samudera darah Akulah sang pengelana Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur, Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan, Kan kuremas matahari di telapak tanganku Ilmu dari segala ilmu...!"


Ka kupecahkan wajah rembulan


Dengan Syair Penakluk Langit,


Tak ada lawan, Tak ada tandingan,


"Tadi malam syair Maut tidak menembangkan bait awal Aku datang dari balik kabut hitam, Aku mengarungi samudera darah. Selain itu pembunuh tadi seorang perempuan, berarti ia bukan pendekar penolongku. Nah pertanyaannya sekarang, kalau ia bukan penolongku itu, lantas siapa dia ? Mengapa ia selalu menembang Syair Penakluk Langit setiap melakukan pembunuhan keji?"


Suasana lengang seketika, Yu Jin kemudian angkat bicara. "Sebenarnya Syair Penakluk Langit itu konon gubahan kakek Sepuh Sun Jian, tokoh sepuh dan legenda hidup perguruan kami. Dan hanya sedikit orang terutama di kalangan murid utama saja yang mengerti dan hafal Syair Penakluk Langit." Yu Jin berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Sima Yi, penting sekali mengetahui pendekar penolong itu, kau satu-satunya saksi hidup yang pernah menyaksikan sepak terjangnya dalam perang Luoyang, mungkin dari jurus ilmunya bisa kita ketahui apakah dia Sepuh Sun Jian atau bukan, dan apa hubungannya dengan si pembunuh itu?"

__ADS_1


"Sudah duapuluh lima tahun berlalu, setiap kupikirkan tetap tak ada jawaban. Aku Cuma merasa ilmu kakek penolong itu sangat tinggi dan sulit diukur. Terkadang aku merasa tak asing dengan gerak silatnya, tapi makin kupikir makin aku tak mengenalnya." Kening Yu Jin berkerut, tanda ia berpikir keras. "Tampaknya ini rahasia besar yang menyangkut dunia kependekaran kita. Coba kau pusatkan pikiran dan mengingat kembali kejadian itu dan menceritakannya secara rinci. Mungkin bisa terpecahkan."


Sima Yi duduk bersila, dua tangannya sedekap dengan sepasang telunjuk menempel ujung hidungnya yang mancung. la memejamkan mata. Tidak mudah mengingat kejadian yang sudah duapuluh lima tahun berlalu. Kecuali jika kejadiannya memang sangat berkesan. Sebab jika kejadiannya sangat berkesan akan menempel ketat di alam bawah sadar. Untuk mengingatnya seseorang memerlukan konsentrasi penuh menggali ingatan atas kejadian itu. Kejadiannya memang sangat berkesan bagi Sima Yi. Ada seorang wanita cantik terlibat di dalamnya, wanita yang sangat dicintainya, Zsu Mei. Wanita itu tewas bersama semua sahabat dan kenalan dekatnya, bahkan mereka yang sudah dianggap saudara Pendekar jangkung ini kemudian menceritakan apa yang dilihatnya. Pertarungan itu sangat dahsyat. Kedua pendekar itu memeragakan ilmu yang sulit dicari tandingannya. Pendekar penolong berjubah putih dengan anggun mengalahkan pendekar Takadagawe yang beringas dan penuh amarah. Pertarungan itu seperti terpampang kembali di depan matanya. Dia menceritakan dengan rinci setiap gerak yang dimainkan pendekar jubah putih itu.


__ADS_2