Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 5 Hancurnya Partai Naga Emas


__ADS_3

Malam makin larut, bulan sembunyi di balik awan mendung. Guruh dan kilat bersambung mengiringi hujan gerimis. Xiahou Dun dan Wei Hu tekun bersemedi. Keduanya bersama semua murid mengenakan pakaian warna putih dan ikat kepala warna hitam. Gerimis masih menyiram bumi. Malam makin


larut.


Dingin mencekam. Mendadak langit terang benderang, panah api dan obor menyala melayang di udara masuk ke dalam pekarangan perguruan. Lalu terdengar suara gedubrak keras ketika pendekar Himalaya, Takadagawe memukul pintu gerbang. Beberapa kali terdengar bunyi keras, saat berikut pintu hancur. Terdengar suara hiruk pikuk, puluhan orang menyerbu masuk, mereka menggunakan ikat kepala warna putih.


Pertarungan satu lawan satu atau keroyokan terjadi di mana-mana. Banyak korban berjatuhan. Ada yang mati, ada yang luka parah. Suara jerit kematian dan kesakitan bercampur dengan makian dan sumpah serapah mewarnai gelapnya malam yang masih disiram gerimis kecil. Kalah dalam jumlah, satu demi satu murid Partai Naga Emas mulai gugur. Di pihak lawan juga banyak yang mati. Murid-murid Partai Naga Emas makin terdesak dan tidak punya peluang untuk mempertahankan tanah perguruannya.


Di suatu sisi pertarungan tampak Xiahou Dun sedang melawan Takadagawe, Wei Hu dikeroyok Pang Tong dan Mi Fang, dan Yuan Shao bertarung mati hidup dengan Ma Chao. Tiga pendekar Partai Naga Emas terdesak mundur sampai ke dekat kamar rahasia.


Takadagawe mendesak, menggunakan jurus-jurus Himalaya yang aneh tapi mumpuni.


"Huh hanya sebegini saja jurus Partai Naga Emas, tak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan!"


Xiahou Dun tertawa keras. "Jurus silatmu biasa tapi racun pelemas tulangmu hebat. Tak kusangka pendekar berilmu tinggi macam kamu hanya pengecut yang mahir meracuni lawan dengan diam-diam. Dasar licik, pengecut tidak tahu malu!"


Takadagawe murka. Ia menggeram Tarung makin dahsyat. Pukulan Takadagawe mengena pundak dan perut Xiahou Dun yang kontan terlempar. Takadagawe mengejar. Yuan Shao meninggalkan lawannya, dia mengejar Takadagawe. Dia memotong jalan dan menghadang di depan langkah pendekar Himalaya itu. Yuan Shao berteriak, "Guru, cepat masuk!"


Xiahou Dun ragu-ragu. Takadagawe menggerakkan kaki dan tangan, menyerang Yuan Shao. Tetapi murid Xiahou Dun ini tak mau menghindar dari jalan. Saking kesalnya, Takadagawe menggelar jurus-jurus mematikan. Dalam beberapa jurus berikut, pukulannya menerpa kepala Yuan Shao. Murid setia ini terpelanting dan mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah!


Tetapi tidak sia-sia pengorbanannya. Dia telah memberikan waktu yang cukup bagi gurunya untuk berpikir dan mengambil sikap. Kejadian berlangsung cepat. Wei Hu menyaksikan kematian Yuan Shao. Dia berteriak, "Kakak, cepat masuk! Jika terlambat masuk, kamu jadi orang paling berdosa bagi perguruan kita, cepat!"


Xiahou Dun sempat memandang berkeliling. Hampir tak ada lagi murid Partai Naga Emas yang bertarung. Semua mati! Terakhir yang mati, adalah muridnya yang setia, Yuan Shao. Dia melihat Wei Hu bertarung dengan gagah berani. Adiknya itu sudah luka parah tapi tetap berdiri dan bertarung menghadang siapa saja yang ingin mendekati Xiahou Dun.

__ADS_1


Tahu dirinya tak lagi bisa berbuat, Xiahou Dun cepat menerobos masuk kamar. Pintu serta merta tertutup. Xiahou Dun muntah darah dan jatuh tertelungkup. Gelap. Semua gelap. Di luar kamar, Pang Tong beserta teman-temannya berupaya membuka pintu, tetapi tak berhasil. Pintu itu tak akan bisa dibuka siapa pun dari luar. Hanya ketua Partai Naga Emas seorang yang tahu rahasia membuka pintu kamar rahasia itu.


Kabar buruk itu berjalan cepat, bahkan sangat cepat. Pada dini hari, Partai Naga Emas porakporanda. Sore harinya, kabar buruk itu sudah sampai di istana Kerajaan Wei. Semua murid Partai Naga Emas yang berada di istana, menangis mendengar berita semua rekan seperguruan mati termasuk ketua Xiahou Dun dan Wei Hu. Hanya sedikit murid yang lolos. Batin mereka terpukul. Apalagi mereka yang masih memiliki hubungan saudara, bahkan isteri atau suami. Mereka tak tahu apakah sanak kerabatnya itu mati atau berhasil meloloskan diri.


Sore itu di pendopo, tampak Lu Xun, Jiu Shan, Lin Wa, Zsu Mei, Sima Yi dan Cao Tao duduk bersama. Wajah-wajah itu tampak murung dan lesu. Mereka terpukul oleh kabar buruk dari Partai Naga Emas.


Tiga dayang silih berganti masuk pendopo sambil membungkuk hormat membawa nampan penuh berisi hidangan. Cao Tao mempersilahkan makan.


"Itu berita buruk, suatu pukulan berat buat kita semua. Tetapi pukulan itu semakin merusak semangat tarung jika kita membiarkan diri larut dalam kesedihan. Ingat tak lama lagi kita sudah masuk ke medan perang. Ayo, makan, biar semangat dan tenaga pulih, kita akan membalas kekalahan di Partai Naga Emas!"


Sambil menyantap ayam bakar, Cao Tao bertanya pada Zsu Mei. "Mana Jiu Cien?"


Wajah Zsu Mei masih murung. "Kakak Cao Tao, Jiu Cien sudah tidur mungkin letih karena seharian berlatih."


"Terimakasih Kakak, dia pasti akan lebih digjaya sebab jurus Nagamurkha ciptaanmu itu hebat dan ampuh."


Selesai bersantap, Cao Tao agak gugup berkata, "Maaf, aku ingin bicara dengan Kakak Sima Yi, tidak lama, kalian tunggu di sini" Keduanya melompat dan menghilang di kegelapan malam.


Di suatu tempat di sudut istana mereka jalan berendeng.


"Kakak ceritakan tentang puteriku itu, apakah dia ikut terbunuh di Partai Naga Emas?"


Sima Yi menggeleng kepala. "Tidak! Itu yang pertama-tama kuselidiki, aku bertemu seorang murid yang lolos yang kukenal. Ternyata Xiahou Dun telah memerintahkan beberapa murid yang sudah terkena racun untuk pergi meninggalkan perguruan mencari selamat agar ilmu Partai Naga Emas tetap bisa diajarkan. Dan Jen Ting berada di antara mereka yang lolos."

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, ilmunya? Apakah dia cantik? Kapan terakhir kamu ketemu dengannya?"


"Belum lama, sekitar dua purnama lalu. Jen Ting itu hebat, dia muda, cantik jelita persis seperti ibunya, Xiahou Dun sangat menyayanginya."


"Apakah sudah kamu ajarkan jurus Nagamurkha?"


"Belum!"


"Kalau begitu kamu tak boleh ikut ke medan perang, kamu tak boleh mati, sebab kamu masih punya hutang padaku, kamu harus mengajarkan Nagamurkha pada Jen Ting."


Sima Yi membelalak. Dalam hatinya ia tertawa. Dia mau menyabung nyawa di medan perang karena cintanya pada Zsu Mei. Dia akan membela dan melindungi wanita itu, meskipun harus berkorban nyawa.


"Tidak, Kakak. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu, aku sudah ikrar akan tarung di medan perang, tak bisa kamu mengubah pendirianku itu"


Cao Tao menatap mata kawannya. Dia melihat sinar mata yang mantap. Dia menghela napas, keputusan Sima Yi tak bisa berubah. Mendadak dia ingat sesuatu. "Sima Yi, aku pernah menawarkan padamu untuk menyunting Jen Ting jadi isterimu, kau belum menjawab."


"Sejak Jen Ting masih kecil dia sudah mempercayai aku adalah kakak kandungnya. Aku menganggapnya sebagai adik sendiri. Ketika aku titipkan Jen Ting ke Partai Naga Emas, aku berbohong pada Xiahou Dun bahwa aku adalah kakak kandungnya. Kakak, putrimu itu cantik jelita, tetapi aku tidak mungkin memperisterinya."


"Kakak Sima Yi, siapa saja yang


mengetahui rahasia bahwa Jen Ting adalah putriku?"


"Hanya dua orang, guruku dan Mei Chu. Tidak ada lain orang lagi."

__ADS_1


__ADS_2