
Tengah malam di kebun bagian belakang istana, Sima Yi sedang berlatih, ia duduk semedi di atas pohon. Ia berbaring di dahan kecil, tubuhnya berayun kian kemari dalam kerimbunan daun. Mendadak seorang bertopeng melesat ke atas pohon, menyerang Sima Yi. Keduanya tarung keras. Sima Yi membentak, "Siapa kamu, berani menyatroni istana!"
Dalam beberapa jurus Sima Yi bisa membaca siapa lawannya itu. Jurus Naga Emas cuma bisa dimainkan oleh murid Partai Naga Emas. Dan melihat potongan tubuhnya yang langsing, dia mengenali Zsu Mei. "Zsu Mei berhenti, mau apa kamu?"
Tiba-tiba Zsu Mei limbung, tubuhnya doyong ke samping. Sima Yi cepat meraih pinggangnya. Zsu Mei membuka topengnya, ia mengibas rambutnya yang tadinya diikat. Sima
Yi hendak melepas pelukannya, tetapi Zsu Mei
justru memeluknya. Lelaki itu tak bisa
menguasai diri, ia memeluk, menciumi leher
dan mulut wanita yang dia cintai itu.
__ADS_1
Terengah-engah, Zsu Mei mendesah. "Partai Naga Emas porak poranda, semua hancur, banyak yang mati, guruku mati, malam ini aku sangat sedih, Jiu Shan tak bisa menghiburku, ia juga sedang berduka. Sima Yi, hibur aku, cintai aku, Kak"
Suara Zsu Mei sendu, ada isak di dalamnya. Sima Yi merasa iba, tetapi suara memelas dan tubuh montok itu telah merangsang nafsu birahinya. "Aku mencintaimu, Zsu Mei, kamu wanita satu-satunya yang kucintai, tak ada wanita lain." Dia melihat sekeliling kemudian membopong perempuan itu ke goa di hutan.
Zsu Mei, pada usia limabelas, berkenalan dengan Sima Yi. Pertama kali dia mengenal lelaki dan kehilangan perawan. Percintaan yang penuh nafsu birahi Mereka bercinta dari satu tempat ke tempat lain. Mereka kasmaran satu sama lain. Dua tahun bercinta, Sima Yi lupa amanat gurunya, Yue Jin. Suatu waktu sang guru mendampratnya, karena tidak serius berlatih. Yue Jin membawa muridnya kembali ke gunung Huang. Sima Yi pergi tanpa sempat memberitahu kekasihnya. Dia seperti lenyap ditelan bumi.
Sepeninggal Sima Yi, Zsu Mei patah hati. Kakak seperguruannya, Jiu Shan yang sudah lama mencintainya, merayunya. Satu tahun tanpa kabar berita dari Sima Yi, dia yakin kekasihnya itu mati. Dia tak punya pilihan lain, gurunya mendesak agar menerima lamaran Jiu Shan. Dia berusaha mencintai Jiu Shan, tetapi bayangan Sima Yi tetap melekat di hatinya.
Sepuluh tahun berguru di Huangshan, Sima Yi turun gunung mencari kekasihnya, namun Zsu Mei sudah menjadi isteri Jiu Shan dan telah melahirkan Jiu Cien. Tapi Sima Yi tak bisa melupakan kekasihnya. Begitu juga Zsu Mei. Setelah mengetahui latar belakang menghilangnya Sima Yi sepuluh tahun lalu, cinta Zsu Mei bersemi lagi Dia tak bisa melupakan kenangan manis masa lalu. Terlebih-lebih Sima Yi punya banyak kelebihan dibanding suaminya. Maka terjadilah perselingkuhan itu. Sima Yi sangat kasmaran pada kekasihnya. Zsu Mei masih mencintai Sima Yi dan selalu merindukan belaian dan cintanya yang panas. Kepada dirinya, Zsu Mei sering berkata pada dirinya, "Drupadi mencintai lima suaminya, Pandawa Lima, dan tak pernah bisa menjawab siapa yang paling dia cintai, apakah Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula atau Sadewa? Tetapi aku hanya mencintai dua laki-laki."
Bulan purnama keluar dari balik awan. Malam semakin larut, dua kekasih itu masih bergumul penuh nafsu. Saat mentari mulai ngiinip dari ufuk Timur, dua anak manusia itu masih berenang di lautan birahi cinta terlarang yang indah dan mempesona.
"Kakak Sima Yi, mengapa kamu tidak mencari perempuan yang bisa mendampingimu sepanjang hari, dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi. Aku tidak bisa mendampingimu seperti itu. Aku harus mengikuti, Jiu Shan. Dia suamiku yang resmi."
__ADS_1
"Tidak Zsu Mei, aku tidak bisa melupakanmu. Hanya ajal saja yang bisa membuat aku lupa padamu"
"Sima Yi, tadi malam kamu sudah berjanji padaku, apa pun yang kuminta akan kamu kabulkan, seandainya aku meminta kamu mati, kamu bersedia?"
"Aku rela mati untukmu, asalkan mati dalam pelukanmu, mati dengan mulutmu menempel di mulutku, mati pada saat kamu mencintaiku."
"Kalau aku minta kamu tidak boleh mati, kamu bersedia juga kan?"
"Tentu saja! Selama hidupku aku akan selalu mencintaimu"
"Kak, jika suamiku gugur dalam perang nanti, aku ikut mati bersamanya, itulah puncak darma dan pengabdian seorang isteri. Jika kami berdua mati dalam perang, kamu harus pergi meninggalkan medan perang, kembali ke istana dan menolong Jiu Cien. Jadi kamu tak boleh mati. Kamu harus membesarkan dan mendidik Jiu Cien, jangan biarkan dia terbunuh atau menjadi tawanan pasukan Liu Bei. Janji, berjanjilah padaku, kekasihku. Sekarang ini aku akan menemanimu sampai siang hari, aku akan memberimu kepuasan sehingga kamu tak akan pernah melupakan saat-saat ini."
"Zsu Mei, aku sungguh tak berdaya dalam perangkap pesonamu, aku mencintai, kasmaran padamu, mencium kakimu pun aku rela. Aku ingin mati bersamamu, tapi aku tahu itu tak mungkin, Jiu Shan ada di sampingmu Aku janji akan menolong Jiu Cien, tak akan kubiarkan selembar rambutnya diusik orang. Zsu Mei, aku ingin memelukmu seharian penuh bahkan kalau bisa sepanjang hidupku, betapa aku mencintamu"
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Sima Yi. Kamu jantan, kamu memberiku kepuasan yang tak bisa diberikan Jiu Shan. Aku merasa berdosa pada suamiku, tapi aku tak berdaya karena aku tak bisa melupakanmu Sima Yi, ingat janjimu, kamu tak boleh mati di medan perang, kamu harus menyelamatkan Jiu Cien, didik dan besarkan anakku itu. Aku ingin jika nanti dilahirkan kembali, aku menjadi isterimu dan melahirkan banyak anak untukmu, sesuatu yang tak bisa kuberikan padamu sekarang ini."