
Sesaat tiga pendekar itu memandang mayat Mi Fang.
Gadis kurus itu menghela nafas. Seakan baru sadar, Meishin memandang Jiu Cien dan gadis kurus itu bergantian. "Kita pasti satu perguruan, sama-sama dari Partai Naga Emas. Siapa guru kalian?"
Gadis kurus tertawa, suaranya merdu. "Kau yang bertanya, maka kamu yang harus memperkenalkan diri lebih dahulu."
Meishin dengan wajah kemerahan memandang tajam kekasihnya. "Fei Hung, siapa gurumu yang sesungguhnya, kamu tak bisa mengelabui aku sebab setahuku tak ada pendekar Partai Naga Emas yang bernama Cao Pi."
Jiu Cien tersenyum la merasa lucu melihat wajah Meishin tampak serius dan tegang. "Pesan guru, aku harus hati-hati sebab Partai Naga Emas banyak musuhnya, maaf terpaksa aku menggunakan nama Fei Hung, itu pun tidak sengaja."
Saat itu lima bayangan berkelebat dan berdiri di depan tiga anak muda itu. Mereka memberi hormat kepada si gadis. "Maaf kami terlambat, tuan putri."
Gadis kurus itu tertawa, ia memberi hormat kepada Jiu Cien dan Meishin. "Maaf aku tak banyak waktu, lain kali saja kita berkenalan." la melenggang pergi diikuti lima orang itu. Dua muda mudi itu tak sempat mencegah. Keduanya saling pandang. Jiu Cien tersenyum senang. "Maafkan aku, Meishin, jika selama ini aku tidak berterusterang. Tetapi Cao Pi memang salah seorang guruku, ia mengajari aku ilmu pengobatan. Namaku Jiu Cien."
Meishin memotong penuturan Jiu Cien. "Oh jadi kamu putranya kak Jiu Shan dan kak Zsu Mei. Kamu yang ditolong kakakku Sima Yi dari istana duapuluh lima tahun lalu itu!"
"Tetapi kamu sendiri murid siapa, Meishin?"
Meishin tertawa. Tak urung ia malu, wajahnya kemerahan. "Namaku bukan Meishin, namaku Jen Ting, adik perguruan ayahmu, jadi aku ini bibi gurumu." Tiba-tiba saja gadis itu terkejut. Ia mengucapkan kata "bibi" dengan nada biasa.
__ADS_1
Tetapi ketika mendengar ucapannya sendiri, ia terkejut. Ada sesuatu yang terbang dari sanubarinya. "Jika aku bibinya, berarti ia keponakan muridku, bagaimana mungkin bisa ada hubungan cinta di antara kita?"
Berpikir demikian, tiba-tiba Jen Ting memutar tubuh dan berlari sambil mendekap wajahnya. Jiu Cien terkejut. Karuan saja ia lantas mengejar. "Meishin, tunggu, tunggu dulu."
Jen Ting berhenti. Ia menoleh dan memandang Jiu Cien dengan wajah bersimbah air mata. "Jangan panggil aku Meishin, aku Jen Ting, aku bibimu, panggil aku bibi, bibi Jen Ting."
Jiu Cien bingung. Ia tidak tahu mengapa Jen Ting menangis.
Apakah sebab ia menggunakan nama samaran Fei Hung. Tetapi Jen Ting juga menyamar dengan nama Meishin. "Baiklah Meishin, aku memang bersalah menggunakan nama Fei Hung. Tetapi kamu juga menyembunyikan nama aslimu, sebenarnya kita impas. Lantas mengapa kamu menangis, tidak perlu sakit hati, Meishin eh Jen Ting." Jiu Cien tertawa.
Pelan-pelan Jen Ting berhasil menguasai diri. Ia memandang Jiu Cien. Dilihatnya Jiu Cien biasa-biasa saja, artinya lelaki itu tak terpengaruh adanya fakta hubungan bibi guru dan murid keponakan. Diam-diam Jen Ting merasa heran. Penasaran dan aga kecewa, dia menatap Jiu Cien. "Kamu tak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, atau kamu tak peduli karena kamu tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu tidak tahu apa yang kurasakan sekarang ini."
Jen Ting menarik lengannya. Tetapi Jiu Cien memegangnya erat Jen Ting berontak tetapi ia tak berdaya ketika Jiu Cien menarik tubuhnya dan memeluknya. Jen Ting berkata dengan terisak. "Jiu Cien, tak boleh, kamu tak boleh memeluk aku, aku ini bibi guru, kamu bahkan tak boleh memegang tanganku, kamu tak boleh meniduriku lagi."
Jiu Cien mendesah, "Tidak ada aturan seperti itu." Jiu Cien memegang kepala Jen Ting dan menciumi wajah kekasihnya itu. Ia menjilati air mata dan mencium bibirnya. Jen Ting membalas ciuman dengan bernafsu. la terengah-engah. "Jiu Cien, tidak boleh begini, tidak boleh, aku ini bibimu"
Jiu Cien menjawab dengan suara bergetar. Ada sedikit ketakutan akan kehilangan perempuan yang dicintainya ini. "Perasaanmu itu tidak benar, aku murid Yu Jin, kamu murid paman Xiahou Dun. Kita setara sesama saudara seperguruan. Kamu juga bukan bibiku, bukan saudara orangtuaku, kita tak ada hubungan apa-apa."
"Aku lebih tua!"
__ADS_1
"Sudah kukatakan berulangkali, bahwa aku
tak peduli masalah usia, lagi pula kamu lebih
cantik dan lebih muda dibanding gadis remaja.
Sudahlah Jen Ting, ayo kita cari tempat nginap,
hari sudah senja, tak lama lagi malam tiba."
Jen Ting merasa bangga dan senang. la bangga akan keteguhan cinta Jiu Cien. la senang Jiu Cien sungguh-sungguh mencintanya. Tetapi bagaimana tanggapan orang terhadap hubungan ini, percintaan bibi guru dengan keponakan murid? Jen Ting berkata dengan nada getir. "Jiu Cien, adat melarang kita untuk bercinta, bibi guru tak boleh menjadi isteri keponakan muridnya. Ini sudah kodrat dewata."
Sambil melangkah masuk desa dia menggandeng lengan Jen Ting "Kenapa kamu keras kepala. Kita saudara seperguruan, Jen Ting, kamu kakak seperguruan, aku adik, cuma itu. Tak ada hubungan apa-apa, tak ada hubungan bibi guru dan keponakan murid. Mengapa kamu masih ngotot soal bibi dan keponakan." Jiu Cien berhenti, memegang dua lengan Jen Ting, menatap mata gadis itu. "Apakah kamu tidak mencintaiku lagi? Coba, katakan kamu tidak mencintaiku lagi."
Jen Ting menggeleng kepala. "Aku mencintaimu, Jiu Cien." la terisak, menangis lagi. "Mengapa kau bukan Fei Hung, benar-benar Fei Hung yang sudah meniduri aku, Fei Hung yang mencintaiku dari malam sampai pagi di atas perahu. Mengapa tiba-tiba kamu beralih menjadi Jiu Cien putra kak Jiu Shan dan kak Zsu Mei?"
Jiu Cien memeluk kekasihnya. "Supaya aku lebih mencintaimu, menjaga dan melindungimu sampai hari tua."
Dua sejoli itu bermalam di desa. Pembicaraan masih berkisar pada keraguan Jen Ting akan hubungan bibi guru dan keponakan mund. Ia masih merasa bahwa percintaan ini salah. Namun di malam hari ia tak kuasa menolak ketika Jiu Cien memeluk, melucuti pakaian dan menciumi sekujur tubuhnya. Ia tak kuasa menahan gejolak birahi dan api cintanya yang membara.
__ADS_1