Pendekar Dataran Tengah

Pendekar Dataran Tengah
Bab 18 Racun yang mendatangkan berkah


__ADS_3

Mendadak suara Jiu Cien terdengar tegas. "Cepat ambil keputusan nona, terlambat sedikit saja, akan semakin sulit menolongmu"


"Keputusan apa?"


"Mau ditolong atau tidak?"


"Mau, aku mau ditolong."


"Tetapi aku harus mengisap lukamu, tidak ada jalan lain."


"Kalau begitu kerjakan cepat." Gadis itu menutup mata.


Jiu Cien berkata, "Maaf, aku harus membopongmu ke bawah pohon." la menyambar tubuh si gadis, melarikan ke tepi hutan. Senja sudah mulai beralih ke malam. Gadis itu bersandar di pangkal pohon, tangannya meraba baju di bagian dada, merobeknya sedikit, la menunjuk tempat luka di dadanya, "Lakukan, tepat di sini lukanya."


Jiu Cien menoreh luka dengan belati milik si gadis. Tangannya gemetar memegang bagian dekat buah dada, menempelkan mulutnya ke bagian yang terluka kemudian mengisap darahnya. Aroma keringat tubuh gadis itu dan bentuk buah dadanya yang montok kencang membuat perasaan Jiu Cien menjadi tidak karuan. Jiu Cien memantapkan pikirannya, mengisap dan menyemburkan darah warna hitam dan bau racun. Dia lakukan itu berulang kali sampai darah beracun itu lenyap berganti darah merah normal. Jiu Cien memegang tangan si gadis, "Kau pijat dan urut di bagian ini, supaya sisa-sisa racun keluar semuanya."


Gadis itu memejam mata. "Lakukan sendiri, kamu lebih tahu caranya, toh kamu sudah melihat semuanya, buat apa aku harus malu-malu lagi. Lakukan saja, eh siapa namamu pendekar."

__ADS_1


Jiu Cien tanpa sadar menjawab, "Fei Hung." Jiu Cien saat itu sedang menahan gelora birahinya. la menyebut asal sebut. Fei Hung. "Aku sedang melayang di angkasa, memegang dan mengurut luka di bagian buah dada yang kenyal ini," katanya dalam hati.


Gadis itu sedang memejam mata. "Namaku Meishin." Ia berdiam Nafasnya mulai terasa panas. Meishin mulai terangsang birahi la berusaha memikirkan hal lain untuk mengalihkan pikiran. Tiba-tiba Jiu Cien berbisik, "Sudah selesai, kamu tunggu di sini, aku mencari rumput obat, sebelum hari gelap."


Meishin melihat lelaki itu pergi. Hari memang sudah hampir gelap. Tak lama lagi malam akan tiba. Meishin memejamkan mata. Bagian paling sulit telah dilaluinya. la masih merasa mukanya panas, nafasnya juga panas.


Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdegup kencang. Ia masih membayangkan wajah pemuda penolong itu. "Namanya Fei Hung, orangnya lugu, tidak tampan, tetapi kelihatan jantan, perkasa." Tanpa sadar Meishin meraba lukanya, seakan mulut yang panas itu masih menempel di situ dan tangan itu masih menekan buah dadanya.


Dia mencoba mengusir wajah Fei Hung dengan menghadirkan wajah pria lain, wajah seorang lelaki berusia limapuluhan. "Kakak Xun Yu, di mana kamu sekarang, apakah kamu tidak rindu kepada adikmu ini?" bisiknya dalam hati.


Tiba-tiba saja ia teringat seseorang, muncul wajah lelaki botak, brewok dan berkumis lebat. Tangchi! Tanpa sadar ia berseru "Laki-laki bejat, aku akan mencarimu, kamu harus membayar perbuatanmu Tak ada ampun, aku akan menggunakan segala macam cara untuk membunuhmu" la bicara sendiri untuk mengusir bayangan Jiu Cien.


Tak sampai sepenanakan nasi, saat malam sudah mulai gelap, Jiu Cien muncul. "Aku agak sulit menemukan rumput yang dua jenis, tetapi untunglah masih bisa kutemukan. Ini kamu kunyah, airnya kautelan, ampasnya kamu balur di luka. Sekarang aku akan mengisap luka di pahamu"


Tanpa disengaja dua pasang mata saling menatap. Hutan sudah mulai gelap namun keduanya merasa rikuh, jantung berdegup kencang. Ada perasaan tersembunyi yang dirasakan keduanya. Jiu Cien mengalihkan bicara, "Aku akan mengobati luka di pahamu"


Berkata demikian, ia merobek celana di batas paha, mengisap lukanya. Seperti cara mengobati luka di dada, setelah menyedot darah beracun, ia melabur dengan obat dedaunan. "Fei Hung, kau mahir dalam ilmu pengobatan dan juga ilmu, tentu gurumu bukan sembarang orang. Dia pasti pendekar bernama besar."

__ADS_1


Jiu Cien merasa gugup. Ia masih terpesona setelah memegang paha mulus yang kenyal berotot. la berupaya mengendalikan birahinya. "Iya," jawabnya sembarangan.


"Siapa nama gurumu yang hebat, kalau aku boleh tahu." Tanpa sadar Meishin membekap mulutnya. Ia merasa kelepasan bertanya. Pada jaman itu, pergaulan di dunia pendekar tidak terikat norma adat istiadat bahkan juga aturan agama, hubungan intim lelaki dan wanita bisa terjadi begitu saja.


Tetapi menanyakan guru seseorang yang baru dikenal adalah pertanyaan yang janggal dan aneh, bahkan agak tabu "Maaf, tak sengaja," katanya.


"Tidak apa-apa, nona." Mendadak Jiu Cien ingat pesan Yu Jin. "Jangan sembarangan memperkenalkan diri, jangan juga memperlihatkan ilmumu. Ingat Partai Naga Emas banyak diintai musuh gelap, musuh yang kita sendiri tidak tahu."


Tetapi Jiu Cien tak mau mengecewakan si gadis, apalagi si gadis merasa bersalah menanyakan hal yang buat sebagian orang, masih tabu "Ilmuku ini kuperoleh dari seorang pendekar aneh, namanya Cao Pi. Kamu pasti tak pernah tahu nama itu sebab memang guruku tak pernah muncul di muka umum"


la memang tidak berbohong. Cao Pi, memang gurunya, seorang tabib ahli pengobatan di istana Kerajaan Wei. la mengajar Jiu Cien ilmu pengobatan, meramu dan meminumkan obat padanya sejak bayi. Itu sebab ketika dewasa, darahnya mengandung kekuatan anti racun. Karenanya Jiu Cien tidak merasa takut mengisap darah beracun dari luka Meishin.


Cao Pi memang tidak terkenal. Tetapi apa yang diajarkan belakangan baru diketahui sebagai ilmu pengobatan kelas atas. "Kamu sendiri berasal dari perguruan mana?"


Meishin merasa rikuh. la sedang menyembunyikan jati diri. "Seorang kakek pertapa dari desa Henan, ia yang mengajari ilmu padaku." la tidak berbohong, ia belajar ilmu dari pertapa itu. Tetapi yang tidak ia ceritakan, adalah bahwa ia murid dari Partai Naga Emas.


Suasana menjadi rikuh dan kaku. Dia menyodorkan ramuan, rumput dan daun-daunan. "Nona, kamu sudah tahu menggunakan obat ini, dua lembar daun bersama satu kumpulan rumput, kamu kunyah, airnya kamu telan dan ampasnya labur ke lukamu la akan membersihkan sisa-sisa racun jikalau memang masih ada."

__ADS_1


__ADS_2