
Yu Jin mendengar dengan serius, keningnya berkerut. Orangtua ini tampak berfikir keras. Tiba-tiba dia bangkit dari duduk melangkah, tangan dan kakinya memainkan jurus.
"Gerak menepuk dua tangan lalu satu tangan mencengkeram ke depan itu pasti gerak awal jurus Naga Memburu Mangsa. Tangan kiri menggaruk belakang kepala dan tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi itu jurus Naga Turun ke Bumi. Pinggang digoyang, tangan kiri mendorong pukulan lawan, tangan kanan menyusup ke depan mengelus dada lawan, itu gerakan akhir dari Naga Memburu Mangsa. Itu peragaan jurus biasa ilmu Naga Emas, tetapi karena digelar dengan tenaga dalam yang tinggi luar biasa, maka jurus menjadi sangat ampuh. Siapa lagi jikalau bukan Sepuh Sun Jian, satu-satunya orang yang bisa menggelar Naga Emas sehebat itu"
Jiu Cien tak bisa menyembunyikan keinginan tahunya. "Siapa beliau, siapa Sepuh Sun Jian?"
Yu Jin tak menjawab. la berdiri seperti patung, pandangan menerawang jauh. Sima Yi menarik lengan muridnya. "Jiu Cien, biarkan dia sendirian, ia sedang memikirkan jurus tadi."
Keduanya duduk. Jiu Cien menatap gurunya lekat-lekat Sima Yi menghela napas. "Jiu Cien, hidup memang banyak tantangan, apalagi hidup di dunia kependekaran yang serba keras dan kejam di mana hanya hukum rimba yang berlaku, siapa kuat dia jadi raja, siapa lemah dia jadi budak atau mati ditindas. Sering kita dilanda keresahan, bentrokan, marah, kecewa karena dua hal pokok. Tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Atau memperoleh sesuatu yang tidak kita inginkan.
"Jiu Cien, aku dan ayahmu, beserta Kakak Lu Xun dan Kakak Cao Tao sudah angkat saudara. Kami bertiga menjadi inti pasukan elit istana yang dipimpin Kakak Cao Taoyang tidak lain adalah adik Kaisar Cao Cao. Kami punya rencana besar yakni mencetak seorang pendekar yang sangat hebat dan menjadi nomor satu di dunia kependekaran. Kami sepakat memilih kamu Sejak bayi, tubuhmu dibentuk dengan memberimu bekal kekuatan, jamu unggul dari gurumu Cao Pi, jamu dan makanan khusus menjadi santapanmu sehari-hari, obat anti racun, dasar tenaga dalam, dasar ilmu ringan tubuh. Kamu dilatih khusus."
"Aku masih ingat, guru, waktu kau melatih aku berlari dan gelantungan di atas pohon. Ayah mengajari aku latihan tenaga dalam Paman Lu Xun melatih kuda-kuda. Aku ingat semuanya."
Sima Yi melanjutkan, "tetapi perang Luoyang telah mengubah semuanya, jalan hidupmu, jalan hidupku, semua berubah, tidak seperti yang kita rencanakan. Ayahmu dan pamanmu Lu Xun, juga ibumu dan saudara lainnya, semua tewas di Luoyang."
Wajah Jiu Cien tampak keras, ia memandang tajam gurunya, "Guru, aku sudah tahu orangtuaku tewas di Luoyang, tetapi siapa orang yang membunuh mereka?"
Sima Yi memandang Jiu Cien. Dalam mata muridnya ia melihat pancaran bara api. Percikan marah dan dendam kesumat yang tak terukur besarnya. Sima Yi menghela napas gundah. "Sebelumnya tidak pernah terpikirkan bahwa kita akan kalah dalam perang. Sebelum menuju Luoyang, kami mendengar berita Partai Naga Emas dibumihanguskan pasukan musuh. Kamu tahu Jiu Cien, sebagian besar Prajurit istana adalah murid Partai Naga Emas, sehingga berita itu sangat memukul mental pasukan istana. Dendam dan kekhawatiran berbaur dalam diri kami. Ternyata pasukan Liu Bei sangat tangguh, banyak pendekar berilmu tinggi yang membelanya. Satu demi satu Prajurit Kerajaan Wei mati Tetapi kami pantang menyerah. Meskipun terdesak, kami merasa tenang sebab Kaisar sudah lolos ditolong Sepuh Sun Jian. Kami akan tarung sampai tetes darah terakhir."
Kejadian itu berputar kembali di depan mata Sima Yi. la melihat Zsu Mei, ibu Jiu Cien, bersama suaminya Jiu Shan bertarung bahu membahu. Satu hal yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada Jiu Cien bahkan kepada siapa pun, percintaannya dan perselingkuhannya dengan Zsu Mei. la mencintai wanita cantik itu saat masih gadis belia dan tak pernah luntur sampai ajal menjauhkan kekasihnya dari dekapannya.Dia melihat panah nancap di pundak kekasihnya. Dia melihat tongkat yang nancap di dada kekasihnya, dada yang sering dibelai dan dikecupnya. Dia mendengar kembali seruan kekasihnya. "Sima Yi pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu." Kemudian seruan yang kedua, "Pergi Kak Sima Yi, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah."
Ketika dia melesat pergi dia masih menoleh ke belakang. Dia melihat Ma Chao menghantam kepala Jiu Shan. Sekali lagi dia menoleh dan melihat tinju Ma Chao menghantam dada Zsu Mei. Dia berlari sambil menangis. Dia menangis sepanjang tahun, dia sedih lantaran tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan perempuan yang dicintainya itu mati.
__ADS_1
"Aku mencari-cari pembunuh ibumu itu.
Tapi dia seperti hilang dari bumi. Semula dia berada di Kerajaan Shu, aku juga mencarinya di kuburan Chengdu tetapi tak pernah bisa menemukannya."
"Guru, kamu menyebut kuburan Chengdu, apakah dia si Iblis Chengdu yang bernama Ma Chao?"
"Benar, Ma Chao!"
"Baik, aku akan mencari balas, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa."
"Jiu Cien Kamu tak boleh membalas
dendam sekarang, itu sama dengan mengantar
kakek
gurumu
Yu Jin tidak memberitahumu
tentang Ma Chao."
Jiu Cien tertawa lirih.
__ADS_1
"Tetapi kamu telah memberitahu, terimakasih guru!"
"Jiu Cien, aku tadi kelepasan bicara Sebenarnya belum saatnya kuberitahu. Kamu harus janji padaku, jangan balas dendam sebelum ilmumu maju pesat. Berjanjilah!"
"Soal itu, aku tak bisa menjanjikan apa-apa, guru"
Jiu Cien melihat ada penyesalan di mata gurunya, dia bertanya lirih sambil memegang tangan gurunya. "Guru, kamu mencintai ibuku dan ibu mencintaimu, benarkah?"
Sima Yi terkejut. Bagaikan disambar petir. Dia gagap menjawab, "Kamu tahu? Dari mana kamu tahu?"
Jiu Cien tersenyum, menjawab dengan senyum "Aku pernah melihat kalian berdua memasuki goa itu."
"Kamu membuntuti kami? Lalu kamu memberitahu ayahmu?"
Melihat Jiu Cien menggeleng kepala, Sima Yi bertanya lagi, "Mengapa tidak lapor pada ayahmu?"
Jiu Cien menggeleng sambil senyum menggoda. "Itu biasa. Ayah dan ibu saling mencintai, jika tidak mana mungkin aku lahir. Ibu dan guru saling mencintai, jika tidak mana mungkin mau berduaan dan bercinta di goa itu. Drupadi mencintai lima Pandawa sedangkan ibu mencintai dua pendekar, jadi kupikir itu hal yang biasa. Lagipula aku menyayangi ayah, ibu dan juga kamu guru"
Sima Yi memandang muridnya dengan kagum.
Dia melihat seorang muda yang jujur, cerdas dan berpikir jernih. Dia mengalihkan pembicaraan. "Kamu ingat, selain Ma Chao, juga Mi Fang mengeroyok Kakak Lu Xun. Dua musuh lainnya Pang Tong dan Sempai Chu membunuh Kakak Cao Tao dan Sepasang Iblis Chongging membunuh pamanmu."
Sepasang mata Jiu Cien memancarkan sinar penuh dendam. Tangannya terkepal, menahan amarah. Dia meyakinkan dirinya "Aku harus rajin berlatih, karena banyak hutang nyawa yang harus kutagih. Aku akan mencari kalian, Ma Chao, Mi Fang, Sempai Chu, Pang Tong, Iblis Chongging. Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa!"
__ADS_1